Wajah Peradaban Baru di Swedia Utara

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Dari kejauhan, bangunan itu tampak seperti menara kayu raksasa yang tumbuh dari hamparan hutan boreal Swedia utara. Permukaannya yang hangat berwarna cokelat keemasan berdiri kontras dengan langit Skandinavia yang dingin. Di bawah sinar matahari musim panas, gedung tersebut memantulkan citra sebuah kota yang sedang mendefinisikan ulang masa depannya.

Bangunan itu bernama Sara Kulturhus, pusat kebudayaan sekaligus hotel yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi ikon baru Kota Skellefteå, yang berlokasi sekitar 800 kilometer dari Stockholm. Sara Kulturhus memiliki teater, galeri seni, perpustakaan, ruang konferensi, restoran, hingga hotel yang diberi nama The Wood, sesuai komponen utama bangunan.

Namun, Sara Kulturhus bukan sekadar gedung pertunjukan atau destinasi wisata arsitektur. Bangunan ini adalah eksperimen berskala kota tentang bagaimana energi, material bangunan, teknologi digital, dan budaya lokal dapat dirangkai menjadi satu sistem yang saling terhubung.

Di kota yang berpenduduk sekitar 75.000 jiwa ini, masa depan tidak dibangun dengan memutus hubungan dari peradaban yang dibangun sejak masa lampau. Skellefteå membangun peradabannya di antaranya lewat industri hutan dan perkayuan. Sara Kulturhus dibangun dengan kultur tersebut.

“Semua kayu yang digunakan berasal dari wilayah sekitar kami,” kata Patrik Sundberg, Business Unit Manager Products and Services Skellefteå Kraft, kepada rombongan jurnalis dari berbagai negara, Rabu (3/6/2026).

Patrik menjelaskan, sekitar 15.000 meter kubik kayu digunakan untuk membangun kompleks setinggi lebih dari 20 lantai tersebut. Jumlah kayu yang digunakan, kata Patrik, tidak sebanding dengan ribuan pohon yang dapat tumbuh di hutan Swedia setiap tahunnya.

Pilihan material itu bukan sekadar keputusan estetika. Di Swedia utara, hutan merupakan bagian penting dari sejarah dan identitas masyarakat. Selama berabad-abad, kayu menjadi fondasi kehidupan ekonomi kawasan ini.

Adapun kini material yang sama digunakan kembali untuk menjawab tantangan abad ke-21, yaitu perubahan iklim. Kayu-kayu itu disebut tidak hanya berfungsi sebagai struktur bangunan, tetapi menjadi penyimpan karbon alami.

Saat tumbuh, pohon menyerap karbon dioksida dari atmosfer melalui proses fotosintesis. Karbon tersebut kemudian tersimpan di dalam batang dan serat kayu selama pohon hidup. Ketika kayu digunakan sebagai material konstruksi, karbon itu tetap tersimpan selama bangunan berdiri.

Secara struktur, bangunan dibangun dari kayu laminasi silang atau cross laminated timber (CLT), untuk memberikan kekuatan dan stabilitas pada panel. Produksi CLT dilakukan di pabrik tidak jauh dari lokasi Sara Kulturhus sebelum diangkut ke lokasi. Dengan metode prefabrikasi ini, energi yang dibutuhkan jauh lebih sedikit dibandingkan baja atau beton.

“Bangunan-bangunan itu dibuat di sebuah desa yang tidak jauh dari sini. Kemudian, dibawa ke sini dan dipasang menggunakan derek. Itu menghemat waktu konstruksi selama satu tahun dan banyak sekali karbon. Jadi itu juga memengaruhi analisis siklus hidup dalam carbon budget,” jelasnya Patrik.

Tim proyek melakukan perhitungan menyeluruh terhadap emisi yang dihasilkan selama proses konstruksi dan operasional bangunan selama 50 tahun. Hasilnya mengejutkan.

Baca JugaProspek Bangunan Hijau di Asia Pasifik Menjanjikan

Target awal proyek adalah mencapai status net zero, atau emisi karbon dari proses konstruksi dapat dikembangkan dengan karbon yang diserap atau dikurangi. Tetapi, bangunan tersebut justru menghasilkan neraca karbon negatif. Artinya, karbon yang tersimpan di dalam struktur kayu lebih besar dibandingkan total emisi yang dihasilkan sepanjang siklus hidup bangunan.

“Kami membandingkan berapa banyak emisi yang kami lepaskan selama pembangunan rumah. Dan menambahkan berapa banyak emisi yang kami lepaskan selama 50 tahun beroperasi. Tujuan kami adalah mencapai nol emisi bersih. Tetapi, kami menjadi negatif karbon hingga 5.000 ton CO2,” jelasnya.

Di tengah maraknya klaim hijau yang sering sulit diverifikasi, capaian tersebut memiliki dasar ilmiah yang kuat. Seluruh perhitungan dilakukan melalui pendekatan carbon budget yang memperhitungkan emisi konstruksi, transportasi material, operasi gedung, hingga sumber energi yang digunakan.

Patrik menyampaikan, jika bangunan yang sama dibangun menggunakan beton konvensional, jejak karbonnya diperkirakan akan jauh lebih besar.

Sistem energi kota

Di banyak kota, bangunan hanyalah konsumen energi. Mereka membeli listrik, menggunakan energi. Di Skellefteå, paradigma itu dibalik. Sara Kulturhus dirancang sebagai bagian aktif dari penghasil sistem energi perkotaan.

Bangunan ini tidak hanya mengonsumsi energi, tetapi juga memproduksi, menyimpan, mendaur ulang, dan mendistribusikan energi panas yang dihasilkan bangunan.

Sistem energi ini antara lain disiapkan dengan keberadaan lapisan kaca kedua yang menyelimuti sebagian bangunan. Selubung kaca itu menciptakan efek rumah kaca yang membantu mengurangi kebutuhan pemanasan saat musim dingin ekstrem. Di wilayah yang suhu udaranya dapat turun jauh di bawah nol derajat Celsius, penghematan energi semacam itu sangat berarti.

Saat musim panas, ruang di antara lapisan kaca menghasilkan panas berlebih. Panas tersebut tidak akan dibuang begitu saja, tetapi justru dipanen. “Panas yang biasanya dianggap limbah menjadi sumber energi baru,” kata Sundberg.

Energi panas yang terkumpul digunakan untuk memanaskan spa dan sauna dan menyediakan air panas yang jadi fasilitas hotel mereka. Tidak hanya untuk kepentingan internal, energi itu juga didistribusikan ke jaringan pemanas di kota.

Prinsip yang sama diterapkan pada hubungan bangunan dengan lingkungan sekitarnya. Jika gedung-gedung lain di sekitar kota menggunakan pendingin udara dan membuang panas ke jaringan pendingin kawasan, sistem Sara Kulturhus dapat menangkap energi tersebut dan mengubahnya menjadi air panas untuk kebutuhan internal.

Untuk mengelola pertukaran energi yang kompleks semacam itu, Skellefteå Kraft mengembangkan sistem kendali berbasis kecerdasan buatan yang bekerja sepanjang waktu.

Kecerdasan buatan atau AI tersebut menganalisis prakiraan cuaca, harga listrik, jumlah pengunjung, kebutuhan pendinginan, kebutuhan pemanasan, produksi panel surya, hingga kapasitas baterai.

Setiap saat sistem mengambil keputusan kapan menjalankan pompa panas, kapan menggunakan district heating, kapan mengisi baterai, dan kapan melepaskan energi kembali ke jaringan.

Baca JugaSkellefteå, Kota Industri yang Berubah Menjadi Laboratorium Transisi Hijau

Jika cuaca hangat dan bangunan tetangga menghasilkan panas berlebih, sistem akan memanfaatkannya. Jika harga listrik turun hingga sangat rendah, baterai akan diisi. Ketika permintaan energi meningkat, energi yang tersimpan dapat digunakan kembali.

Sundberg menyebut AI tersebut sebagai “insinyur virtual” yang bekerja setiap detik sepanjang tahun. Keunggulan lain adalah sistem tersebut dapat direplikasi ke bangunan lain tanpa harus dibangun dari nol.

Artinya, kecerdasan yang dikembangkan di Sara Kulturhus berpotensi menjadi model baru bagi gedung-gedung masa depan.

Dalam waktu dekat, Kota Skellefteå juga akan memiliki bangunan cerdas dan ramah lingkungan bernama ACE Powerhouse. Bangunan seluas sekitar 8.000 meter persegi yang direncanakan beroperasi pada 2027 itu tidak dirancang sekadar sebagai kantor atau pusat penelitian.

CEO Arctic Center of Energy (ACE), Tobias Vahlne, Kamis (4/6/2026), menjelaskan bahwa ACE Powerhouse akan menjadi laboratorium hidup untuk menguji teknologi energi masa depan. Di dalamnya akan terintegrasi panel surya, sistem penyimpanan energi, digital twin, sensor cerdas, serta berbagai teknologi elektrifikasi terbaru.

Seperti Sara Kulturhus, proyek ini dibangun berdasarkan prinsip ekonomi sirkular. Meski mengutamakan material kayu yang menjadi budaya setempat, material bangunan bekas rumah sakit itu akan digunakan kembali sejauh mungkin.

Emisi karbon sepanjang siklus hidup bangunan ditekan melalui standar Miljöbyggnad 4.0 dan NollCO2. Bahkan sejak tahap konstruksi, listrik untuk aktivitas pembangunan sudah berasal dari panel surya yang dipasang di lokasi proyek.

ACE Powerhouse juga akan memanfaatkan teknologi pendinginan berbasis panas buangan atau absorption cooling, sehingga energi yang sebelumnya hilang dapat digunakan kembali.

“Bangunan masa depan tidak boleh hanya hemat energi. Ia harus menjadi bagian dari solusi energi kota,” kata Vahlne.

Ekosistem energi

Proyek semacam ini tidak dapat dilepaskan dari transformasi energi yang sedang berlangsung di Swedia utara.

CEO Skellefteå Kraft, Joachim Nordin, menjelaskan bahwa kawasan ini memiliki salah satu kombinasi sumber energi terbarukan terbaik di Eropa.

Tenaga air menjadi tulang punggung sistem kelistrikan, setidaknya di Skellefteå sejak awal abad ke-20. Waduk-waduk besar berfungsi layaknya baterai raksasa yang dapat menyimpan energi dalam bentuk air. Ketika produksi listrik dari angin meningkat, air ditahan di reservoir. Ketika produksi angin menurun, air kembali dialirkan untuk menghasilkan listrik.

“Ketika dunia berupaya meninggalkan energi fosil, kebutuhan terhadap energi terbarukan meningkat sangat besar. Utara Swedia memiliki tenaga air yang fleksibel untuk mendukung integrasi energi angin dan sumber energi terbarukan lainnya,” kata Nordin pada wartawan, Kamis (4/6/2026).

Wilayah utara Swedia saat ini, katanya, menghasilkan surplus listrik sekitar 40 terawatt jam per tahun. Kelebihan produksi tersebut menjadikan Swedia utara sebagai salah satu wilayah dengan harga listrik terendah di Eropa.

Energi murah dan bersih itu kemudian menarik investasi industri hijau dalam skala besar. Pabrik baterai, pusat data kecerdasan buatan, industri baja hijau, produksi hidrogen, hingga pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan mulai bermunculan di kawasan ini.

Namun, bagi Nordin, masa depan energi tidak hanya tentang membangun pembangkit baru. “Kami ingin menciptakan sistem di mana limbah yang sebelumnya tidak bernilai dapat menjadi aset bagi industri lain,” ujarnya.

Di tengah dunia yang masih mencari formula untuk mencapai net zero emission, pembangunan di Skellefteå menawarkan sebuah pelajaran penting. Keberlanjutan bukan hanya soal teknologi baru, tetapi juga kemampuan menemukan kembali nilai dari apa yang telah dimiliki sejak lama.

Dari hutan-hutan boreal yang sunyi di utara Swedia, lahir sebuah gagasan sederhana nan revolusioner bahwa kota masa depan dibangun dari kemampuan manusia untuk membuat energi, material, dan kehidupan berputar dalam siklus yang tak lagi menghasilkan limbah.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
MBG dan Ilusi Menurunkan Stunting
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Keutamaan Bulan Muharam dan Amalan yang Dianjurkan bagi Umat Islam
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Menang di Pengadilan, Jusuf Hamka Kini Bidik Jalur Pidana
• 6 jam lalueranasional.com
thumb
1.500 Unit Kendaraan Disiapkan untuk FIFA World Cup 2026
• 23 jam lalumedcom.id
thumb
Polisi Telusuri Jaringan Pembawa Molotov ke Demo Mahasiswa
• 3 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.