BOPO Industri Modal Ventura 97,63%, Ini Strategi Mandiri Capital

bisnis.com
10 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) industri modal ventura pada April 2026 sebesar 97,63%.

Untuk menekan rasio itu, PT Mandiri Capital Indonesia (MCI) membeberkan lima strategi yang disiapkan untuk menjaga efisiensi. Pertama, disiplin dan memprioritaskan biaya operasional, termasuk sinergi dengan ekosistem Grup Bank Mandiri.

Direktur Utama MCI Ronald Simorangkir berujar cara kedua adalah digitalisasi dan penggunaan AI untuk proses bisnis dan operasional, sehingga meningkatkan produktivitas tanpa menambah beban secara proporsional.

Ketiga, mulai membangun portofolio baru dengan kualitas yang lebih baik, dengan memprioritaskan perusahaan yang memiliki kinerja keuangan dan potensi bisnis yang mumpuni,” ucapnya kepada Bisnis, Jumat (12/6/2026).

Dilanjutkan Ronald, strategi keempat adalah diversifikasi sumber pendapatan, termasuk instrumen yang menghasilkan pendapatan lebih reguler untuk memperhalus profil pendapatan.

“Dan kelima adalah penguatan tata kelola dan manajemen risiko untuk menekan penurunan nilai yang dapat menggerus pendapatan operasional,” bebernya.

Baca Juga

  • Mandiri Utama Finance (MUF) Catat Pembiayaan Mobil Baru Naik 18% per April 2026
  • BI Rate Naik, Bank Mandiri Bakal Sesuaikan Bunga Kredit & Tabungan
  • Lo Kheng Hong Panen Dividen Bank Mandiri (BMRI) Puluhan Miliar

Dia turut berpendapat bahwa faktor yang menyebabkan BOPO masih di atas 90% adalah karena faktor struktural-akuntansi. Menurutnya, pada model VCC, pendapatan operasional bersumber dari realisasi investasi, dividen maupun capital gain saat divestasi yang sifatnya episodik, bukan pendapatan rutin bulanan.  

 

Sementara itu, lanjutnya, beban operasional seperti SDM, due diligence, monitoring portofolio, tata kelola, dan kepatuhan berjalan terus-menerus. Akibatnya, pada periode tanpa peristiwa realisasi, rasio BOPO terlihat tinggi meski fundamental portofolio sehat.

 

Faktor selanjutnya adalah karena siklus makro, yakni masih lesunya iklim investasi ke perusahaan rintisan, masih terbatasnya jendela exit/IPO, serta kenaikan suku bunga yang menekan valuasi dan menggeser waktu realisasi investasi.

Ketiga, tekanan industri secara agregat, nilai pembiayaan terkontraksi 0,87% [year on year/YoY] per April 2026, yang menekan sisi pendapatan operasional,” sebut Ronald. 

Kendati demikian, dia melihat semester I/2026 ada ruang perbaikan secara gradual. Hal ini tercermin dari penurunan BOPO industri pada April 2026 yang menjadi sebesar 97,63%, setelah sebelumnya 98,03% pada Maret 2026.

Namun, tegasnya, BOPO bukan ukuran yang ideal dibaca per bulan atau per kuartal untuk VCC. Dengan demikian, Ronald menilai BOPO bulanan bukan satu-satunya tolok ukur kinerja. 

“Metrik yang lebih relevan adalah kinerja sepanjang siklus investasi, di antaranya IRR, MOIC, pertumbuhan NAV, realisasi divestasi, penerimaan dividen, serta tentunya penciptaan pendapatan dan nilai tambah bagi Group Bank Mandiri,” ucapnya.

Walau demikian, MCI menargetkan BOPO dapat ditekan secara berkelanjutan ke bawah 90% dalam jangka menengah dan idealnya bergerak menuju kisaran 80%-an ketika siklus kembali normal.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kabupaten Banyumas Raih Disway Top Regional Leader Awards 2026, Wakil Bupati Apresiasi Para Petani
• 10 jam laludisway.id
thumb
Anisa Rahma Ungkap Momen Sarwendah Dikeluarkan dari Cherrybelle
• 9 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Gaji PPPK Tendik Masuk APBN, FHNK2-I: Kami Belum Gembira, Perjuangan Belum Selesai!
• 3 jam lalujpnn.com
thumb
Kantong Danantara Makin Tebal, Raih Dividen Lagi dari PTBA hingga TINS
• 9 jam lalubisnis.com
thumb
Jarang Disadari, Begini Cara Menghemat Energi dan Air di Rumah
• 14 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.