Bisnis.com, MEDAN — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mendorong generasi muda di Medan berperan aktif dalam upaya pencegahan kejahatan digital melalui peningkatan literasi dan edukasi di lingkungan masing-masing.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan generasi muda menjadi kelompok yang paling intens berinteraksi di ruang digital sekaligus paling rentan terdampak berbagai bentuk kejahatan siber. Dari sekitar 230 juta pengguna internet di Indonesia, sekitar 60% di antaranya merupakan kelompok usia muda.
Menurut Meutya, penguatan literasi digital menjadi salah satu strategi utama pemerintah untuk menekan berbagai bentuk kejahatan digital.
"Salah satu tugas dari Komdigi adalah literasi digital, termasuk bagaimana menurunkan tingkat kejahatan di ranah digital baik melalui pemutusan akses maupun literasi. Kami percaya literasi sebagai salah satu cara yang utama dan efektif," kata Meutya dalam agenda Kumpul Komunitas bertajuk Waspada Kejahatan Digital di Medan, Sabtu (13/6/2026).
Dia menjelaskan perkembangan teknologi digital telah membuka akses informasi dan konektivitas yang lebih luas. Namun, di sisi lain, ruang digital juga dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas ilegal, mulai dari penyebaran hoaks, judi online, hingga peredaran narkotika.
Menurut Meutya, penyebaran hoaks menjadi salah satu tantangan terbesar di ruang digital. Kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat informasi palsu semakin sulit dibedakan dari fakta.
Baca Juga
- Dari Balakka ke Tanjak, UMKM EMP Meriahkan PIISU 2026
- Bandara Internasional SSK II: Wings Air Buka Rute Pekanbaru-Melaka
- DJP Sumbar dan Jambi Blokir Ratusan Rekening Penunggak Pajak Senilai Rp70,2 Miliar
Selain itu, pemerintah juga mencermati maraknya praktik judi online yang menjangkau berbagai kelompok usia.
Dia menambahkan, berdasarkan laporan Badan Narkotika Nasional (BNN), aktivitas peredaran narkotika kini juga mulai memanfaatkan platform digital.
Meutya mengatakan upaya pencegahan kejahatan digital menjadi pekerjaan besar pemerintah. Berdasarkan data 2025, Sumatra Utara tercatat sebagai salah satu provinsi dengan jumlah pelaku kejahatan digital terbesar di Indonesia.
"Inilah yang menjadi alasan Komdigi menggelar sosialisasi ini. Memang sasaran kami ada para orang tua juga, tapi porsi anak muda lebih besar karena mereka ini pengguna terbesar dan nantinya juga akan menjadi orang tua serta punya anak. Ini yang kami jaga," ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Penyidik Madya BNN Provinsi Sumatra Utara Fadris Sangun Ratu Lana mengingatkan bahwa jaringan peredaran narkotika kini semakin aktif memanfaatkan ruang digital untuk menjangkau calon pengguna baru.
Menurut dia, pelaku kerap memanfaatkan platform gim daring untuk berinteraksi dan membangun komunikasi dengan anak-anak maupun remaja.
"Kalau mereka mau mencari mangsa baru, mereka menggunakan jalur game online karena di sana bisa berinteraksi. Melalui game itulah pelaku mengajak anak-anak kita masuk ke jurang narkotika sehingga orang tua perlu memperketat pengawasan," ujar Fadris.
Kegiatan Kumpul Komunitas yang digelar Komdigi tersebut diikuti ratusan peserta dari berbagai organisasi dan komunitas kepemudaan di Medan, antara lain Himpunan Mahasiswa Indonesia, Gerakan Pemuda Ansor, komunitas kampus, dan karang taruna.
Dalam kegiatan itu, peserta membacakan Deklarasi Anti Kejahatan Digital sebagai bentuk komitmen untuk turut menyebarluaskan edukasi dan literasi digital kepada masyarakat.
Komdigi menyatakan akan terus memperluas program literasi digital guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap berbagai bentuk kejahatan di ruang digital.





