Pantau - PT Kereta Api Indonesia (Persero) Group memperkuat mobilitas urban rendah emisi melalui pengembangan layanan transportasi berbasis listrik sebagai upaya mendukung transportasi berkelanjutan, mengurangi emisi karbon, dan meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan.
KAI Dorong Mobilitas Perkotaan yang Efisien dan Ramah Lingkungan
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyatakan layanan berbasis listrik memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan transportasi perkotaan yang efisien, terintegrasi, dan rendah emisi.
Ia mengungkapkan, “Kereta listrik perkotaan memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Perjalanan menjadi lebih terukur, kapasitas layanan besar, dan emisi yang dihasilkan per pelanggan jauh lebih rendah dibandingkan kendaraan pribadi.”
Mobilitas masyarakat di wilayah perkotaan terus meningkat seiring semakin padatnya aktivitas sehari-hari sehingga kebutuhan perjalanan menuju tempat kerja, sekolah, pusat bisnis, kawasan pendidikan, bandara, hingga ruang publik memerlukan moda transportasi yang mampu mengangkut banyak orang dengan jadwal teratur dan lebih ramah lingkungan.
Dalam konteks tersebut, layanan urban berbasis listrik milik KAI Group menjadi bagian penting dari sistem mobilitas perkotaan modern.
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, layanan LRT Jabodebek, Commuter Line Jabodetabek, Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta, Commuter Line Yogyakarta, dan LRT Sumsel melayani total 166.154.342 pelanggan.
Jumlah Pelanggan Meningkat dan Emisi Lebih Rendah
LRT Jabodebek melayani 13.211.856 pelanggan pada Januari hingga Mei 2026 atau meningkat 23,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 10.727.798 pelanggan.
Dari sisi lingkungan, LRT Jabodebek menghasilkan emisi sekitar 15 gram CO₂e per penumpang per kilometer, lebih rendah dibandingkan sepeda motor yang menghasilkan sekitar 37 gram CO₂e per penumpang per kilometer sehingga emisinya sekitar 59,46 persen lebih rendah.
Kontribusi terbesar layanan urban berbasis listrik KAI Group berasal dari Commuter Line Jabodetabek yang melayani 146.259.555 pelanggan selama Januari hingga Mei 2026 atau naik 5,81 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 138.227.725 pelanggan.
Commuter Line menjadi tulang punggung mobilitas harian masyarakat Jabodetabek dengan melayani perjalanan dari kawasan permukiman menuju pusat aktivitas ekonomi serta membantu mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi melalui kapasitas besar dan jadwal yang padat.
Berdasarkan riset BRIN, Commuter Line menghasilkan emisi sekitar 34,03 gram CO₂ per penumpang-kilometer yang lebih rendah dibandingkan mobil dengan emisi sekitar 42 gram CO₂ per penumpang-kilometer dengan asumsi empat penumpang dalam satu kendaraan.
Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta melayani 1.013.574 pelanggan sepanjang Januari hingga Mei 2026 atau meningkat 14,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebanyak 883.065 pelanggan.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, Commuter Line Yogyakarta melayani 3.854.340 pelanggan selama Januari hingga Mei 2026 atau naik 7,88 persen dibandingkan 3.572.727 pelanggan pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Layanan tersebut mendukung mobilitas masyarakat di lintas Yogyakarta–Solo dengan menghubungkan kawasan pendidikan, perdagangan, pariwisata, dan pusat aktivitas harian.
Sementara itu, LRT Sumsel melayani 1.815.017 pelanggan sepanjang Januari hingga Mei 2026 sebagai sistem angkutan rel perkotaan pertama di Pulau Sumatera yang menghubungkan kawasan permukiman, pusat bisnis, perkantoran, perguruan tinggi, kompleks olahraga Jakabaring, hingga Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang.
LRT Sumsel menggunakan tenaga listrik melalui sistem Listrik Aliran Bawah atau third rail bertegangan 750 V DC yang disuplai dari gardu listrik sehingga tidak menghasilkan emisi gas buang langsung selama perjalanan.
Berdasarkan perhitungan sederhana menggunakan data jumlah pelanggan dan faktor emisi transportasi yang tersedia, apabila setiap pelanggan menempuh rata-rata perjalanan 10 kilometer, layanan urban berbasis listrik KAI Group selama Januari hingga Mei 2026 dapat membantu mengurangi sekitar 15.350 ton CO₂e dibandingkan penggunaan kendaraan pribadi.
Anne menyampaikan, “Setiap pelanggan yang beralih ke transportasi publik berbasis listrik ikut membantu menekan beban emisi transportasi harian.”
KAI Group menyatakan akan terus memperkuat layanan transportasi urban agar semakin mudah diakses, nyaman digunakan, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat perkotaan.




