Membumikan Rumus Matematika ke Motif Batik Kontemporer

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Batik, warisan adiluhung Nusantara, kini tidak hanya berkutat pada pakem motif klasik atau berupa goresan estetika visual. Di tangan para akademisi di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah, rumus-rumus matematika yang rumit dan sering kali dianggap menakutkan disulap menjadi motif batik kontemporer yang indah dan sarat makna edukatif.

Inovasi yang dipelopori oleh Hanna Arini Parhusip, Guru Besar Fakultas Sains dan Matematika Universitas Kristen Satya Wacana (FSM UKSW), bersama tim peneliti Hindriyanto Dwi Purnomo, Didit Budi Nugroho, dan Istiarsi Saptuti Sri Kawuryan (alm), ini melahirkan inovasi unik, yang diberi nama ”Batima” atau Batik Inovasi Matematika.

Batima adalah produk batik dengan motif yang dirancang berdasarkan formula matematika, seperti persamaan parametrik, kurva dan permukaan aljabar yang dijadikan pola batik, baik batik cap, batik tulis maupun printing.

Baca JugaBermain Matematika yang Nyata dan Menyenangkan

Berbeda dengan batik fraktal, Batima didesain di mana tiap gambar penyusunnya dari suatu formula matematika, persamaan permukaan, ataupun persamaan parametrik 2 dimensi yang dimodifikasi menjadi 3 dimensi. Selain itu, digunakan pula piranti lunak (software) Surfer yang menggambarkan persamaan permukaan dengan mudah.

Para peneliti UKSW tersebut mengubah pandangan banyak orang akan matematika. Mereka membuktikan, matematika tidak hanya hadir di papan tulis, lembaran buku pelajaran atau catatan mahasiswa. Akan tetapi, matematika juga bisa hadir di atas selembar kain dan produk dalam bentuk motif batik yang indah yang dapat dinikmati masyarakat luas.

Selain di kain, motif Batima diaplikasikan pada berbagai produk kriya harian seperti tas, taplak meja, sarung bantal, hingga aksesoris dekoratif yang diberi nama ODEMA (Ornament Decorative of Mathematics).

Baca JugaBatik, Kain Indonesia yang Bawa Pesan Lintas Zaman
Baca JugaMatematika dalam Gerak Tubuh

Sejak 2016, melalui hibah Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (kini menjadi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi), Hanna bersama tim peneliti FSM UKSW memulai perjalanan untuk mengubah persepsi masyarakat terhadap matematika melalui pendekatan etnomatematika yang unik. Alhasil, rumus-rumus matematika menjelma menjadi motif batik yang menarik.

Penelitian yang berujung pada penciptaan Batima, berawal dari pemikiran Hanna dan para guru besar FSM UKSW yakni matematika dianggap sulit dan tidak menarik oleh masyarakat umum. Persepsi negatif yang mengakar dalam pandangan masyarakat, menciptakan hambatan psikologis yang mengalihkan minat generasi muda dari ilmu pengetahuan.

”Matematika itu dianggap sulit dan tidak menarik oleh orang umum. Untuk memberikan motivasi bagi masyarakat, matematika perlu dibedakan dalam bentuk obyek yang mudah dilihat dan digunakan oleh masyarakat umum,” ujar Hanna, akhir Mei 2026 lalu.

Dalam proses penelitian tersebut, peneliti memasukkan budaya Indonesia. Karena itulah karya penelitian tersebut menggunakan nama inovasi. ”Kami menyebutnya inovasi karena kami menjadikan formula yang sudah ada sekian lama dan budaya yang sudah ada menjadi sesuatu yang baru,” tutur Hanna.

Bagi Hanna esensi sejati dari BATIMA, bukan sekadar perpaduan dua disiplin ilmu, melainkan transformasi konseptual yang memberikan kehidupan baru kepada pengetahuan yang sudah ada melalui medium budaya yang familiar bagi masyarakat Indonesia.

Hasil rendering ini bukan hanya visualisasi akademis, tetapi juga inspirasi artistik yang akan ditransformasi lebih lanjut.

Baca JugaMengubah Bit Menjadi Teh Celup yang Kaya Rasa dan Khasiat
Baca JugaInovasi ”Start Up” AI, dari Penagihan Utang hingga Pencarian Karyawan
Mengubah angka menjadi estetika

Proses pembuatan BATIMA melibatkan serangkaian tahapan ilmiah dan artistik yang presisi, mengubah formula matematika yang abstrak menjadi pola visual yang luwes dan dinamis. Berbeda dengan batik fraktal yang mengandalkan konsep perulangan geometris mandiri (self-similarity), BATIMA menggunakan pendekatan yang jauh lebih kompleks dan terstruktur.

Perjalanan dari rumus ke kain batik dimulai di laboratorium riset UKSW. Pada awalnya, tim peneliti memilih formula matematika spesifik, bisa berupa persamaan parametrik dua dimensi yang dimodifikasi menjadi tiga dimensi, kurva aljabar, atau persamaan permukaan matematis lainnya. Setiap formula dipilih bukan hanya karena keindahan matematis, tetapi juga potensi estetika visualnya.

Tahapan berikutnya adalah proses visualisasi dengan menggunakan perangkat lunak Surfer. Software tersebut mampu mengubah persamaan permukaan matematika yang kompleks menjadi obyek visual tiga dimensi yang estetis.

”Hasil rendering ini bukan hanya visualisasi akademis, tetapi juga inspirasi artistik yang akan ditransformasi lebih lanjut,” jelas Hanna.

Setelah visualisasi, proses ketiga adalah transformasi dan penyusunan pola, yang dianggap yang paling krusial. Pada fase ini obyek visual tiga dimensi hasil Surfer tidak langsung dicetak ke atas kain, karena tim desainer melakukan proses dekonstruksi visual.

Langkah dimulai dengan menganalisis struktur geometris, mengidentifikasi elemen-elemen kunci, kemudian merekonstruksi pola tersebut agar sesuai dengan estetika batik tradisional. Proses tersebut untuk memastikan motif yang dihasilkan tetap mempertahankan karakter batik Indonesia sambil mengekspresikan keindahan formula matematika.

Selanjutnya, pola digital yang telah matang kemudian diaplikasikan ke atas kain melalui tiga teknik produksi, yakni batik tulis tradisional menggunakan canting dan malam, batik cap menggunakan stempel tembaga khusus, atau batik printing modern untuk produksi massal. Setiap teknik dipilih sesuai dengan target pasar dan karakteristik motif.

Adapun tahap terakhir dari proses menjadi Batima adalah pewarnaan dan finishing. Kain batik yang dipola masuk ke proses pewarnaan (dyeing) dan finishing untuk meningkatkan kualitas dan ketahanan produk.

Untuk tahapan tersebut, para peneliti berkolaborasi dengan perajin batik tradisional seperti Batik Tumpengan di Salatiga. Tujuannya untuk memastikan produk yang dihasilkan memiliki standar kualitas pasar yang tinggi.

Baca JugaDengan Bermain dan Bernyanyi, Sekejap Anak Papua Juara Matematika
Baca JugaBatik, Pakaian Resmi dan Aspek Keberlanjutan
Dua belas motif, dua belas rumus

Saat ini, karya Batima yang dirintis sejak sepuluh tahun lalu telah didaftarkan pada Business Innovation Center (BIC) Indonesia pada tahun 2016 sebagai salah satu inovasi di Indonesia saat itu. Tak hanya itu, hingga kini penelitian tersebut telah melahirkan sedikitnya 12 motif yang telah terdaftar hak ciptanya (hak atas kekayaan intelektual).

Setiap motif merepresentasikan variasi formula matematis yang unik, dengan nama-nama yang mencerminkan karakteristik visual maupun matematis mereka. Misalnya motif Saroja-Math yang divisualisasikan dengan kelopak bunga saroja berbasis modifikasi kurva parametrik, dan motif Marabunta-Math dalam pola menyerupai koloni semut marabunta dari persamaan permukaan aljabar.

Ada juga motif Pseudo Infinity yang representasi visual dari konsep ketakterhinggaan semu yang dinamis, dan motif DB-HEXAGON yang divisualisasikan dalam bentuk struktur heksagonal ganda yang melambangkan keseimbangan matematis. Selain itu, ada pula motif Batima Trumpet Family v2 merupakan modifikasi persamaan corong terompet dalam proyeksi tiga dimensi.

Agar rumusan matematika yang dihasilkan di atas kertas tidak berhenti sebagai arsip penelitian, UKSW mengembangkan hasil penelitian tersebut dengan pihak luar kampus. Untuk itu, UKSW merangkul jejaring mitra produksi batik, mulai dari perajin batik tradisional dan pelaku industri kreatif di berbagai daerah.

Di Salatiga, kolaborasi dijalin dengan Batik Tumpengan untuk proses produksi batik tulis, cap, serta teknik pewarnaan dan finishing. Sementara itu, Arvidra Batik, berkontribusi dalam eksplorasi motif kontemporer yang tetap mempertahankan karakter tradisional.

Ada juga motif Pseudo Infinity yang representasi visual dari konsep ketakterhinggaan semu yang dinamis, dan motif DB-HEXAGON yang divisualisasikan dalam bentuk struktur heksagonal ganda

Ekspansi kualitas dan jangkauan pasar nasional diperkuat melalui kerja sama dengan Batik Avigo yang berbasis di sentra batik Laweyan, Solo. Di tangan Yetty Arum dari Purwokerto, motif-motif matematika dalam Batima bertransformasi lebih jauh menjadi produk busana dan kriya yang modis.

Diversifikasi produk juga menjadi fokus utama dalam kolaborasi ini. Bersama tempat wisata kuliner Bumi Kayom, Salatiga, motif Batima diaplikasikan pada berbagai produk suvenir dan kriya non-kain. Agar dapat diterima oleh segmen pasar modern dan generasi muda, aspek pengemasan serta pemasaran kreatif didukung oleh Valhalla, Salatiga.

Seluruh perjalanan inovasi dan visualisasi produk ini didokumentasikan secara profesional oleh Lemansasti Photography. Dokumentasi itu dituangkan dalam foto produk, video promosi, serta konten visual untuk kebutuhan media sosial, katalog, pameran, dan laporan kegiatan.

”Sinergi antara perguruan tinggi dan pelaku industri kreatif ini memastikan bahwa inovasi tidak berhenti pada tahap desain, tetapi berlanjut hingga produksi, komersialisasi, dan keberlanjutan usaha,” papar Hanna.

Baca JugaInovasi FishFace, Memastikan Data Stok Ikan Lebih Akurat
Baca JugaInovasi untuk Menyelamatkan Manusia dan Bumi
Antara sains dan budaya

Di balik potensi komersialnya, Hanna meyakini kekuatan utama BATIMA terletak pada fungsinya sebagai media edukasi matematika yang kontekstual. Setidaknya, dengan melihat dan menyentuh motif batik, para siswa/mahasiswa tidak lagi hanya menghafal rumus di atas kertas, tetapi dapat mengapresiasi keindahan geometri yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Maka, matematika tidak lagi abstrak dan menakutkan, melainkan konkret dan indah. Generasi muda dapat melihat batik seni tradisional yang ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda, masih relevan dan dapat berkembang dengan sentuhan teknologi dan ilmu pengetahuan modern.

Meskipun unit usaha spin-off kampus, CV Garisma, sempat dinonaktifkan pada tahun 2025 karena kendala regenerasi pengelola dari kalangan mahasiswa, harapannya warisan intelektual dan ekosistem kolaborasi BATIMA dengan dunia usaha terus berkembang.

Berdampak pada masyarakat luas

Dekan FSM UKSW Wahyu Hari Kristiyanto, mengungkapkan, Batima merupakan wujud komitmen FSM UKSW dalam melakukan inovasi dan juga berdampak langsung untuk kesejahteraan masyarakat luas. Hal itu, menurutnya, sejalan dengan tema Dies Natalis ke-34 FSM UKSW yang mengusung tema refleksi ”Ber-i-man: Berinovasi untuk Kemanusiaan”.

”Batima adalah salah satu karya inovasi sains dan matematika. Karya visualisasi dari indahnya simulasi persamaan matematika yang penuh makna ini, mampu membumikan matematika yang umumnya menjadi momok bagi sebagian siswa menjadi daya tarik yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari secara langsung,” kata Wahyu.

Tak hanya itu, motif Batima menambah kekayaan dan inspirasi kreasi bagi perajin batik terutama mitra FSM UKSW. Selain itu juga menambah kreasi batik yang lebih modern yang dapat dikenakan bagi para kaum muda maupun semua kalangan.

Inovasi Batima juga diharapkan meningkatkan minat pelajar dalam belajar matematika dan sains yang ketersediaannya sangat diperlukan Indonesia ke depan. Dengan demikian, dapat menjawab kebutuhan akan generasi penerus yang dapat mengawal perkembangan Indonesia di tengah pesatnya kemajuan teknologi.

Di luar itu, karya penelitian FSM UKSW setidaknya menjadi bukti nyata bahwa sains dan seni tidak seharusnya berada di kutub yang berseberangan. Karena, di atas selembar kain Batima, rumus-rumus matematika tidak lagi dingin dan kaku.  


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jatim dan Investor Malaysia Kaji Proyek Logistik Terintegrasi Bernilai Hingga US$100 Juta
• 6 jam lalubisnis.com
thumb
Ketika Peta Kolonial Menentukan Perbatasan: Mencari Solusi untuk Naktuka
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
All New Lexus ES Segera Masuk Indonesia, Tersedia Opsi BEV dan Hybrid
• 10 jam lalumedcom.id
thumb
Bawaslu Buka Pendaftaran Beasiswa S1-S3, Ini Syarat dan Cara Daftarnya
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
VTHQ Malino Wisuda 52 Santri Angkatan Ke-5, Siap Lahirkan Generasi Qur’ani Berprestasi
• 20 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.