YERUSALEM, KOMPAS.TV – Militer Israel meluncurkan serangan udara ke sejumlah target yang diklaim sebagai basis Hezbollah di pinggiran kota Beirut, Lebanon, pada Minggu (14/6/2026).
Serangan ini terjadi di tengah upaya intensif para mediator internasional untuk memfinalisasi kesepakatan damai guna mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Iran.
Berdasarkan laporan dari badan Pertahanan Sipil (Civil Defense) setempat, petugas berhasil mengevakuasi tiga jenazah dan enam korban luka dari puing-puing bangunan.
Sebuah foto dari Associated Press menunjukkan kompleks apartemen lima lantai dengan area pertokoan di lantai dasar hancur, terutama pada dua lantai terbawah.
Baca Juga: Israel Serang Desa di Tepi Barat saat Warga Salat Jumat, Tembakkan Gas Air Mata dan Granat Kejut
Serangan ini kembali memicu gelombang pengungsian warga sipil di pinggiran selatan Beirut, yang sebelumnya sempat kembali ke rumah mereka setelah situasi relatif tenang dalam beberapa pekan terakhir.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa operasi udara tersebut merupakan respons langsung atas serangan tiga proyektil yang ditembakkan Hezbollah ke wilayah Israel utara.
"Israel tidak akan menolerir tembakan ke wilayah kedaulatannya," kata PM Netanyahu bersama Menteri Pertahanan Israel Katz dalam sebuah pernyataan resmi.
Langkah militer ini sekaligus menunjukkan sikap Netanyahu yang mengabaikan desakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Sebelumnya, Trump telah meminta Israel untuk menahan diri dari serangan berskala besar di Lebanon mengingat posisi kesepakatan damai yang sudah sangat dekat.
Pemerintah Israel sendiri dilaporkan merasa kecewa dengan poin-poin kesepakatan AS-Iran dalam drafnya yang sekarang.
Pihak Iran langsung merespons tajam aksi militer Israel tersebut.
Baca Juga: Asap Tebal Selimuti Nabatieh Lebanon Selatan Usai Serangan Udara Israel, 2 Orang Tewas
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Desy-Afrianti
Sumber : Associated Press
- Israel serang Beirut
- kesepakatan AS Iran
- konflik Timur Tengah
- Hezbollah
- gencatan senjata
- Donald Trump





