Mengenal Sejarah Lenong Betawi: Dari Hiburan Keliling Kampung hingga Upaya Regenerasi

metrotvnews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Kesenian tradisional khas Betawi, Lenong, terus berupaya bertahan di tengah gempuran budaya modern dan hiburan digital. Melalui dialog spontan, humor, dan cerita kehidupan sehari-hari, teater rakyat ini tidak hanya sekadar tontonan menghibur, melainkan medium penyampai pesan sosial sekaligus cermin identitas masyarakat Betawi.

Perjalanan Lenong dimulai pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Kesenian ini merupakan hasil adaptasi masyarakat Betawi terhadap berbagai bentuk teater yang berkembang saat itu, seperti Komedi Bangsawan dan Teater Stambul.

Secara umum, kesenian ini terbagi menjadi dua jenis. Pertama, Lenong Denes yang mengisahkan kehidupan kaum bangsawan dengan bahasa formal. Kedua, Lenong Preman yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari lewat celetukan humor dan pesan sosial yang kuat.

Baca Juga :

5.000 Orang Ditargetkan Kunjungi Festival Muharram Jakarta

Regenerasi Melalui Sanggar Seni

Untuk menjaga agar warisan budaya ini tidak lekang oleh waktu, berbagai komunitas terus melakukan pelestarian dan regenerasi, salah satunya adalah Sanggar Kota Bambu di Jakarta. Pendiri Sanggar Kota Bambu, Kokom, menjelaskan bahwa upaya regenerasi di tempatnya telah dilakukan sejak puluhan tahun lalu.

"Sudah dari tahun 2002 waktu itu masih zamannya ayah saya, kebetulan saya adalah penerusnya. Kalau di sanggar itu ada Lenong, Gambang Kromong Pop Modern, Palang Pintu, dan tari," ungkap Kokom dikutip dari tayangan Metro Siang, Metro TV, Minggu 14 Juni 2026. 

Menurut Kokom, sejak zaman dahulu Lenong selalu menjadi hiburan rakyat yang merakyat dan menghidupkan suasana perkampungan. Ia juga menyebutkan bahwa kelestarian kesenian ini tidak lepas dari perhatian dan dukungan pemerintah daerah.

"Pemerintah itu selalu mendukung, khususnya dari Sudin Kebudayaan. Kita dikirim guru-guru Lenong, dan dapat juga guru-guru yang lainnya untuk seni budaya Betawi," tambahnya.

Harapan Seniman Lenong Bertaraf Internasional

Upaya pelestarian ini juga didorong oleh semangat para pelaku seni yang terus aktif manggung dan mengajarkan kesenian kepada generasi berikutnya. Rahman, salah satu pemain Lenong senior di Sanggar Kota Bambu, menceritakan perjalanannya di dunia seni pertunjukan yang bermula dari kesenian Topeng Blantek.

"Sebelum saya terjun ke Lenong, basic saya itu Topeng Blantek yang merupakan cikal bakal kesenian Betawi. Karena Blantek sempat vakum dan orang zaman sekarang perlu hiburan yang ramai dengan musik Gambang Kromong, akhirnya dengan seiring waktu timbullah Lenong," jelas Rahman.

Di tengah tantangan era digital, Rahman menaruh harapan besar agar pemerintah dapat terus mengangkat kembali kesenian-kesenian yang belum terjamah. Ia berharap para seniman senior dapat terus difasilitasi untuk membantu generasi muda mengenali budaya asli Jakarta.

"Harapan saya semoga budaya di tanah Betawi ini bisa diangkat kembali oleh pemerintah. Kalau bisa, Lenong eksis hingga ke luar negeri," ungkapnya. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemkab Solok-Tanah Datar sepakat jaga kondusivitas perbatasan
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
Venezuela pastikan kematian pemimpin kelompok kriminal Tren de Aragua
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
MPR ungkap sejumlah perbaikan sistem penilaian LCC Empat Pilar
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Revisi Tarif Batas Atas Tiket Pesawat, Maskapai Antisipasi Penurunan Penumpang
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
Jangan Salah Beli, Ban Mobil Listrik Tak Sama dengan Mobil Bensin
• 18 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.