Peran AS-Israel Vs Iran Bikin Harga Emas Hancur Lebur, Ini Alasannya

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita
Foto: PT Freeport Indonesia memproduksi emas batangan dengan kemurnian 99,99% dari fasilitas Precious Metal Refinery (PMR) di Gresik, Jawa Timur. (Dok. PT Freeport Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas global justru mengalami tekanan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik akibat konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Padahal, biasanya emas menjadi aset pilihan investor saat terjadi ketidakpastian global.

Mengutip Al Jazeera, Minggu (14/3/2026) harga emas tercatat turun dari level tertingginya US$ 5.303 per troy ounce pada 28 Januari menjadi sekitar US$ 4.235 per troy ounce pada Jumat lalu. Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap inflasi yang berpotensi membuat bank sentral menahan bahkan menaikkan suku bunga.

Baca: Batu Bara Bertahan di Level Tertinggi, Harga Emas Justru Tertekan

Akar dari lonjakan inflasi sendiri salah satunya dipengaruhi oleh gangguan pasokan energi global akibat terganggunya lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Sebagaimana diketahui, Iran telah memblokir lalu lintas melalui jalur air tersebut sejak awal perang sebagai balasan terhadap AS dan Israel.


Di Amerika Serikat, inflasi tercatat mencapai 4,2%, level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Di sisi lain, pasar tenaga kerja masih menunjukkan ketahanan sehingga ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS atau Federal Reserve mulai berkurang.

Meski kerap digunakan sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, harga emas cenderung tertekan ketika suku bunga berada pada level tinggi.

Pasalnya, emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil sehingga tidak menghasilkan pendapatan seperti bunga. Dengan demikian, keuntungan investasi emas sepenuhnya bergantung pada kenaikan harga logam mulia tersebut di pasar.

"Emas adalah aset yang paling mendekati uang riil," kata Justin Cardwell, Kepala Analis Opsi OptionSpreaders.com kepada Al Jazeera.

"Emas tidak memberikan dividen, tetapi juga tidak menghasilkan nilai sampai harganya naik. Orang membeli emas karena apresiasi nilainya," tambahnya.

Kondisi tersebut membuat suku bunga menjadi pesaing langsung bagi emas dalam menarik minat investor. Menurut Cardwell, daya tarik emas sebagai instrumen investasi cenderung berkurang ketika suku bunga berada pada level tinggi.

"Emas kehilangan daya tariknya sebagai investasi jika suku bunga tinggi dan orang-orang akan terus menggunakan dolar," tambah Cardwell.

Konflik Iran berdampak positif bagi dolar, dan karena harga emas ditentukan dalam dolar, keduanya bergerak berlawanan arah.

Baca: Beruntung! Beli Tanah di Bogor, Orang Jakarta Ini Kaya 3 Turunan

"Ketika dolar menguat, emas merasakan tekanan, ketika dolar melemah, emas cenderung naik. Saat ini, dolar AS kuat, dan emas merasakannya," kata Collin Plume, CEO Noble Gold Investments, kepada Al Jazeera melalui email.

Namun Plume menambahkan bahwa masa depan nilai keduanya tidak pasti. "Pertanyaan terbesar yang kita hadapi untuk sisa tahun ini dan mungkin beberapa tahun ke depan adalah apa yang akan terjadi selanjutnya," katanya.


(ven/wur) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Isu Ini Bikin IHSG & Rupiah Gagal Pertahankan Penguatan

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bareskrim Gagalkan 10 Kg Paket Ganja dari Padang ke Sidoarjo, Penerima Ditangkap
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Presiden Jerman Temui Prabowo Besok, Bahas Kerja Sama Bisnis, Energi, hingga Tenaga Kerja
• 3 jam lalukompas.com
thumb
KAI Tambah 2 Kereta untuk Rute Gambir-Jember Mulai 18 Juni, Tiket Diskon 30%
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo Panggil Purbaya Sampai Bahlil ke Kertanegara, Ada Apa?
• 4 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
PRJ 2026 Diserbu Jastip, Omzet Tembus Belasan Juta dari Titip Beli Snack dan Fesyen
• 8 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.