REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden AS Donald Trump menyatakan di platform Truth Social-nya bahwa kesepakatan antara AS dan Iran telah tercapai. Ia mengeklaim bahwa Selat Hormuz bakal kembali dibuka menyusul kesepakatan itu.
“Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai,” tulis Trump. "Selamat kepada semuanya! Saya dengan ini sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz bebas tol, dan, bersamaan dengan ini, mengizinkan pencabutan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat. Kapal Dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak mengalir!”
Baca Juga
Israel Kembali Bom Beirut, Upaya Netanyahu Sabotase Kesepakatan Damai AS-Iran yang Semakin Dekat?
Harga Emas Berpotensi Naik, Investor Pantau Perdamaian Iran dan AS
Kala Israel Syok Mengetahui AS dan Iran Semakin Dekat dengan Kesepakatan Akhiri Perang
Belum diketahui secara pasti bagaimana isi kesepakatan tersebut. Namun dalam bocoran draf yang dilansir media Iran, kesepakatan mencakupi penghentian agresi di semua wilayah Timur Tengah, utamanya Lebanon; perginya pasukan AS dari sekitar Iran; pembukaan kembali Selat Hormuz dengan kendali Iran; skema ganti rugi bagi Iran atas serangan AS-Israel; pencairan dana Iran yang dibekukan sanksi AS; dan kerangka kesepakatan nuklir.
TV pemerintah Iran melaporkan bahwa Iran “memaksa” AS untuk menerima perjanjian perdamaiannya. Kantor Berita Fars Iran melaporkan bahwa pernyataan resmi dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi akan segera dikeluarkan mengenai perjanjian gencatan senjata dengan AS.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Mereka menambahkan bahwa telah diputuskan bahwa lalu lintas laut melalui Teluk Persia dan Selat Hormuz akan diatur oleh Iran melalui koordinasi dengan Oman.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang jadi negosiator juga mengumumkan telah tercapainya kesepakatan. “Setelah pembicaraan intensif, kami dengan bangga mengumumkan bahwa Kesepakatan Damai antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran telah TERCAPAI,” tulisnya di X.
“Kedua belah pihak telah menyatakan penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon.” Dia menambahkan upacara penandatanganan resmi akan dilakukan pada hari Jumat, 19 Juni di Swiss.
"Dengan kesepakatan yang sudah ada, mediator akan memfasilitasi serangkaian pertemuan minggu ini. Diskusi pra-implementasi ini akan menjadi landasan bagi pembicaraan teknis dan upacara penandatanganan resmi.”