Memetik Momentum Regenerasi di Tengah Modernisasi Pertanian

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Munculnya fenomena aging workers di sektor pertanian tidak hanya menjadi tantangan, tetapi juga momentum untuk mendorong regenerasi petani. Di tengah transformasi pertanian menuju sistem yang lebih modern, berbagai dukungan pemerintah, termasuk program swasembada pangan, berpotensi menarik generasi muda terjun ke sektor pertanian serta menjamin keberlanjutan sektor ini di masa depan.

Fenomena penuaan tenaga kerja (aging workers) di sektor pertanian bukanlah fenomena baru di Indonesia maupun di dunia. Di Indonesia, hasil Survei Pertanian 2023 memperlihatkan adanya pergeseran kelompok usia tenaga kerja di sektor pertanian yang menua. Kondisi ini disebabkan karena semakin sedikitnya kelompok muda yang mau bekerja dan mengembangkan sektor pertanian.

Berdasarkan hasil sensus tahun 2023 tersebut, porsi petani pengelola usaha pertanian perseorangan (UTP) berusia 55-64 tahun meningkat dari 20,01 persen pada 2013 menjadi 23,3 persen pada 2023. Tidak hanya itu, proporsi petani berusia lebih dari 65 tahun juga meningkat dari 12,75 persen menjadi 16,15 persen dalam periode yang sama.

Jauh sebelumnya, fenomena aging workers di sektor pertanian ini muncul bertahap selama lima dekade terakhir. Berdasarkan penelitian bertajuk Challenge of Agriculture Development in Indonesia: Rural Youth Mobility and Aging Workers in Agriculture Sector, tenaga kerja berusia di atas 60 tahun mengalami peningkatan 13,6 persen dari 7,6 persen pada 1971 menjadi 21,2 persen pada 2020. Sebaliknya, tenaga kerja berusia 19-25 tahun turun 18,6 persen dari 35,9 persen pada 1971 menjadi 17,3 persen pada 2020.

Fenomena ini dipandang menjadi salah satu tantangan krusial pertanian Indonesia oleh para petani. Amir, petani dan ketua salah satu kelompok tani di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menuturkan, jarang ada anak muda di daerahnya yang mau terjun ke sektor pertanian. Untuk mengatasi permasalahan itu, Amir dan sejumlah petani di daerahnya hanya bisa mengandalkan buruh tani untuk membantu mengurus lahan sawahnya.

”Sekarang saya lihat anak-anak muda itu gengsi (untuk jadi petani). Padahal, petani itu luar biasa, budi tombaknya Indonesia,” ujar Amir saat ditemui di lahan sawahnya di Maros, Sulawesi Selatan, 25 November 2025.

Selain di Indonesia, menuanya petani juga terjadi di negara-negara lain, seperti Jepang. Perubahan struktur penduduk Jepang yang cenderung menua turut mengubah struktur usia tenaga kerja pertanian di sana. Pada 2023, lebih dari 80 persen petani di Jepang berusia 65 tahun (OECD, 2025).

Permasalahan ini memang menimbulkan kekhawatiran akan keberlangsungan usaha pertanian masa depan. Namun, lebih dari itu, saat ini krisis regenerasi petani menjadi tantangan tersendiri di tengah transformasi pertanian yang lebih modern, efisien, dan efektif. Padahal, adaptasi berbagai teknologi pertanian sangat berpotensi untuk meningkatkan produktivitas dan memberikan keuntungan lebih besar.

Teknologi dan petani milenial

Di satu sisi, fenomena aging workers di sektor pertanian turut menjadi faktor pendorong berkembangnya penggunaan teknologi. Teknologi menjadi substitusi tenaga kerja pertanian yang mulai berkurang. Di Jepang, misalnya, berbagai jenis mesin, teknologi pertanian, hingga AI dikerahkan agar sektor pertanian tetap produktif bahkan berkembang di tengah menurunnya jumlah dan tingginya penuaan petani.

Namun, di sisi lain, melambatnya regenerasi petani juga menjadi tantangan dalam adopsi teknologi di sektor pertanian. Para petani yang mayoritas sudah berusia lanjut menghadapi keterbatasan dalam mempelajari dan beradaptasi dengan teknologi pertanian modern.

Ketua Gapoktan Bina Karya Tani di Desa Amis, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, Yani, menganggap kombinasi kedua hal ini menjadi salah satu tantangan utama pertanian saat ini.

”Kelemahan kita, petani kan karena faktor pendidikan dan usia, istilahnya pola pikir sehingga teknologi tidak berkembang di kalangan petani. Kita agak sulit menerima teknologi pertanian, salah satunya alat mesin pertanian traktor roda empat. Kalau di luar, kan, istilahnya teknologi (pertanian) sudah berkembang pesat sehingga ekonomi menguntungkan,” ujar Yani saat ditemui di desanya pada 22 Agustus 2024.

Adaptasi ilmu dan teknologi pertanian terkini sebenarnya sudah banyak diterapkan oleh petani milenial di Indonesia yang sudah lebih terbiasa dengan teknologi digital dibanding petani dari kelompok usia lanjut. Ashar, petani di Maros, Sulawesi Selatan, contohnya. Ia mempelajari dan menguji teknik penanaman serta pemupukan baru untuk tanaman padi yang lebih efektif dari internet.

Ashar menunjukkan hasil dari uji coba terhadap lahan sawahnya yang berhasil menumbuhkan lebih banyak anakan padi dengan metode pengaturan jarak dan pemupukan yang ia pelajari. ”Kuncinya ada yang mau berpikir, bagaimana sekiranya meningkatkan produktivitas. Alhamdulillah, saya coba-coba satu tahun berhasil,” tutur Ashar, saat ditemui di rumahnya pada 25 November 2025.

Selain Ashar, masih banyak petani milenial yang berhasil membuktikan bahwa adaptasi pengetahuan dan teknologi pertanian mampu meningkatkan produktivitas dan produksi pertanian di Indonesia. Dengan hal itu, usaha pertanian lebih menguntungkan dan dapat menjadi andalan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Baca JugaMewujudkan Asa Swasembada Pangan dengan Kemudahan Akses Modal

Dengan dasar itulah, saat ini pemerintah memprioritaskan sejumlah program untuk mengatasi krisis regenerasi petani sekaligus mendorong transformasi pertanian. Hal ini membuka harapan untuk menjangkau generasi muda agar tertarik pada usaha pertanian dan dapat menjamin keberlangsungan usaha pertanian di Indonesia.

Program regenerasi petani, seperti program Youth Entrepreneurship and Employment Support Service (YESS) berhasil menjangkau 312.047 penerima manfaat. Dengan program ini, petani dan wirausahawan muda di perdesaan dapat meningkatkan kemampuannya di bidang pertanian serta mendapatkan akses modal untuk usahanya.

Dukungan pemerintah

Dukungan pemerintah berupa alat dan mesin pertanian (alsintan) juga terus diberikan kepada para petani serta kelompok tani untuk meningkatkan produktivitas usaha pertaniannya. Apalagi, dengan adanya program swasembada pangan, bantuan sejumlah alsintan ditingkatkan.

Contohnya, pada 2025, jumlah bantuan traktor roda empat yang disalurkan mencapai 4.828 unit, meningkat dari tahun sebelumnya, yakni 1.241 unit. Begitu pula dengan bantuan mesin rice transplanter juga meningkat dari 186 unit pada 2024 menjadi 2.521 unit pada 2025 serta mesin combine harvester sejumlah 2.164 unit pada 2025.

Selain program pembinaan dan bantuan alat-alat produksi pertanian, pemerintah juga berupaya untuk memperbaiki kesejahteraan petani. Dalam setahun terakhir, sejumlah upaya, seperti meningkatkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani menjadi Rp 6.500 per kilogram berhasil mendorong peningkatan kesejahteraan petani.

Kondisi ini terlihat dari naiknya NTP pada Februari 2026 dibandingkan bulan yang sama di 2025. Pada Februari 2026, NTP Tanaman Pangan mencapai 112,43. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025, yakni 109,57. Hal ini mengindikasikan sektor tanaman pangan kian menguntungkan bagi para petani yang membudidayakannya.

Peningkatan ini turut memberikan harapan bagi para petani, terutama bagi generasi muda yang tertarik berkecimpung di sektor pertanian. Dengan berbagai program dan kebijakan yang mendukung sektor pertanian serta peluang dari transformasi pertanian, sektor pertanian dapat menjadi ladang yang subur untuk dikerjakan para petani generasi muda. Ditambah lagi, fenomena aging workers di sektor pertanian yang bersamaan dengan berkembangnya transformasi pertanian modern menjadi peluang besar untuk menjajaki sektor pertanian yang lebih produktif.

Tantangan penuaan pada tenaga kerja pertanian sebenarnya menjadi peluang transisi sektor pertanian yang lebih modern. Berkembangnya teknologi pertanian dan banyaknya dukungan pemerintah dapat menarik generasi muda ke sektor pertanian dan mengisi celah dari tantangan penuaan tenaga kerja pertanian tersebut. Regenerasi petani tetap menjadi penting untuk mengisi sumber daya manusia di sektor pertanian yang lebih adaptif dan inovatif. (LITBANG KOMPAS)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
FISH UNJ Berdayakan Nelayan Perempuan Pulau Pari Lewat Penguatan Literasi Berbasis SDGs
• 2 jam lalujpnn.com
thumb
MPR ungkap sejumlah perbaikan sistem penilaian LCC Empat Pilar
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
Mahal Belum Tentu Terbaik, Begini Tips Pilih Buah yang Bagus untuk Kesehatan
• 15 jam laluviva.co.id
thumb
Polres Bogor bagikan 500 kilogram sayur di Bhayangkara Fest
• 20 jam laluantaranews.com
thumb
Karena Cinta Ditolak, Seorang Pria Bacok Mantan Pacar yang Baru Nikah di Nganjuk
• 18 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.