Sekelompok anak yang didampingi orangtua mereka berkumpul di sebuah ruangan di lantai dua kompleks gedung Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, tepatnya bersebelahan dengan teater kubah planetarium pada Minggu (14/6/2026). Mereka menyaksikan pertunjukan edutainment yang disuguhkan tim STEAM Tech Education. STEAM adalah kepanjangan dari sains, teknologi, engineering (rekayasa), art (seni), dan matematika.
Instruktur kegiatan ini adalah Abdurrahman Shaleh asal Uni Emirat Arab dan Muhammad asal Somalia. Berdua mereka mempraktikkan percobaan-percobaan sains dengan alat bantu dan perangkat khusus yang sederhana dengan bahasa Inggris yang diterjemahkan oleh pembawa acara atau MC.
Konsep utama pertunjukan ini adalah mengajarkan anak-anak atau remaja dari usia 6 tahun hingga 18 tahun tentang sains dengan menyenangkan dan tidak membawakannya seperti pendidikan formal seperti di bangku sekolah. Tentu eksperimen akan berbeda untuk anak berusia 6 tahun dan 18 tahun.
Mereka membuatnya lebih praktis dengan pertunjukan yang edukatif tetapi menghibur dan praktik langsung melalui eksperimen-eksperimen. Semua terkait hukum sains, baik fisika, kimia, maupun teknologi.
”Mereka (anak-anak) sedang hidup di saat sekarang yang memerlukan pengetahuan tentang teknologi dan juga engineering. Saya juga ingin mereka belajar seni dan matematika, terutama fokus pada sains dasar,” ujar Abdurrahman.
Menurut dia, saat ini anak-anak sedang menjalani pengetahuan dalam kehidupan nyata di tengah perkembangan dunia digital. Sains sebenarnya mudah untuk dipelajari dan dipahami. Melalui eksperimen STEAM Tech ini akan membawa mereka kembali ke dasar sains yang merupakan pilar pengetahuan soal bagaimana prinsip-prinsip alam semesta dan bagaimana dunia bekerja.
Eksperimen dimulai dengan api yang disulut dengan gas di tangan yang dilindungi dengan busa sabun untuk menunjukkan kemampuan air dengan sabun melindungi tangan dari panas api. Karena menggunakan gas, bukan bahan bakar cair, eksperimen ini tidaklah berbahaya. Instruktur sekaligus mengajarkan bahwa menutupi diri dengan handuk basah dapat melindungi tubuh dari api.
Kemudian berlanjut ke ilustrasi gas buang mesin jet. Percobaan ini menunjukkan bagaimana mesin roket berfungsi dengan mengumpulkan gas kemudian setelah itu mengeluarkannya dengan memberikan tekanan ke stoples gelas. Eksperimen ini menghasilkan kilatan api hijau yang memukau anak-anak dan pengunjung.
Percobaan ”main api” yang terakhir adalah tornado api. Demonstrasi sains ini memperlihatkan kolom api yang berputar menyerupai tornado mini. Tornado ini berputar yang melingkari pusaran api akibat udara panas yang naik dalam sebuah wadah silinder kawat.
Saat percobaan tesla coil, anak-anak diperbolehkan untuk mendekat ke meja instruktur sehingga rasa penasaran anak-anak dapat terpuaskan. Ekspresi antusias dan serius terpancar dari wajah mereka saat mengamati momen listrik bertegangan dan berfrekuensi mampu menghasilkan kilatan petir, menyalakan lampu dari jarak jauh tanpa kabel, dan mentransmisikan energi. Kecepatan dan frekuensi dan juga kekuatan listrik masih relatif rendah sehingga masih aman untuk diperagakan dari jarak dekat.
Setelah itu ada percobaan kanon vorteks untuk menjelaskan bagaimana memindahkan energi yang diwujudkan dalam bentuk asap dari dalam bejana mirip ember besar ke udara di luar. Asap berbentuk cincin yang diberi tekanan oleh tangan instruktur itu bergerak keluar dari bejana berputar membentuk pusaran dan dapat menjatuhkan gelas kertas yang diletakkan di atas kepala anak-anak. Eksperimen ini juga untuk menunjukkan kepada mereka bentuk yang terjadi di lingkaran itu sebenarnya bentuknya mirip penghalang suara (sound barrier) pada pesawat.
Terakhir adalah percobaan stomp rocket atau roket injak. Dengan bahan sederhana dari pipa PVC, tekanan peluncur roket dipompa sebelum dilepas dengan sebuah tuas.
Eksperimen ini untuk menggambarkan Hukum Gerak Newton di mana roket akan meluncur karena dorongan udara yang dimampatkan kemudian disalurkan melalui pipa PVC menuju badan roket. Percobaan ini menurut instruktur jauh lebih sederhana, praktis dan aman dibandingkan eksperimen roket air, tetapi tetap dapat memberikan pemahaman yang sama ke anak-anak.
Durasi untuk seluruh eksperimen tersebut memakan waktu sekitar 30 menit. Tak hanya anak-anak, para orangtua pun terlihat antusias menyimak eksperimen demi eksperimen. Selain 7-8 eksperimen standar ini, sebenarnya Abdurrahman dan Muhammad sudah menyiapkan lebih dari 200 eksperimen lain yang dapat disajikan sesuai jumlah dan usia peserta.
Diah Ayu (43) dari Bekasi, Jawa Barat, yang menemani anak laki-lakinya, Kay Benjamin, merasa sangat senang dengan suguhan STEAM Tech Education ini. ”Ini tuh bagus banget buat masa depan bangsa juga ya karena kita benar-benar ngedidik anak-anak dari sedini mungkin biar mereka tahu soal sains. STEAM ini, kan, mereka masukin unsur art sehingga kita bisa combine antara teknologi, sains, sama art juga. Jadi, ini benar-benar menstimulasi skill dari anak sendiri sampai nanti ya mungkin kita bisa lebih jadi negara yang mandiri kita mau menghasilkan anak-anak yang cerdas-cerdas,” ujar ibu yang sudah tiga kali datang ke pertunjukan STEAM dengan putranya ini.
Pengunjung lain, Hary Awaludin (39), dari Cakung, Jakarta Timur, yang mengajak dua anak, istri, adik, dan mertua mengaku berminat menonton pertunjukan STEAM Tech Education setelah menonton planetarium. ”Tadi menonton planetarium dulu, habis itu ditawarkan ada pertunjukan sains. Makanya, kita ikut biar anak-anak jadi tahu,” ujarnya.
Ia baru pertama kali ini mengetahui soal paket pertunjukan edutainment ini. Menurut dia, ini bisa mengedukasi anak-anak tentang sains dan membuat ada rasa ingin tahu. Pertunjukan ini, menurut dia, dapat mengurangi ketergantungan anak-anak dengan gawai. Harga Rp 65.000 per orang baginya masih layak dan terjangkau.
Pertunjukan akhirnya ditutup dengan kemunculan astronot mengenakan helm yang menyapa anak-anak dan mengajak mereka berfoto bareng. Wajah-wajah senang mewarnai anak-anak yang keluar dari ruangan tersebut.





