REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah, Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) KH Jeje Zaenudin mengajak umat Islam memaknai hijrah sebagai gerakan transformasi peradaban.
Menurut dia, hijrah yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar perpindahan fisik atau perubahan simbolik, melainkan perubahan menyeluruh dari kelemahan menuju kekuatan, dari keterbelakangan menuju kemajuan, serta dari perpecahan menuju persatuan untuk menjawab berbagai tantangan zaman.
Baca Juga
Jejak Iblis yang Menyamar Menjadi Seorang Syekh Menjelang Hijrahnya Nabi ke Madinah
Koper Jamaah RI Gelombang Dua Mulai Ditimbang, Dilarang Berat Melebihi 32 Kg
Sekolah Rakyat Jabar II Ditargetkan Beroperasi Juli 2026
Kiai Jeje mengatakan, hijrah yang dibutuhkan umat Islam saat ini bukan sekadar perpindahan fisik atau perubahan simbolik, tetapi transformasi menyeluruh dari kelemahan menuju kekuatan, dari keterbelakangan menuju kemajuan, dari perpecahan menuju persatuan, dan dari ketergantungan menuju kemandirian. Sebagaimana hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perubahan peradaban (civilizational transformation).
"Maka umat Islam Indonesia perlu membangun gerakan hijrah peradaban yang menjawab tantangan zaman," kata Kiai Jeje kepada Republika, Senin (15/6/2026)
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Kiai Jeje menegaskan, hijrah yang dibutuhkan Indonesia hari ini adalah hijrah menuju kebangkitan peradaban, dari konsumtif menjadi produktif, dari dekadensi moral menuju kemuliaan akhlak, dari polarisasi menuju persatuan, dari ketertinggalan digital menuju kepemimpinan digital, dan dari reaktif menuju visioner, serta dari keislaman simbolik menuju keislaman yang melahirkan peradaban.
"Jika semangat hijrah ini menjadi gerakan bersama, maka umat Islam Indonesia bukan hanya mampu bertahan menghadapi krisis global, tetapi juga dapat tampil sebagai kekuatan moral, intelektual, ekonomi, dan peradaban yang memberi manfaat bagi bangsa, negara, dan kemanusiaan," ujar Kiai Jeje.