Megawati Resmikan Renovasi Istana Gebang dan Patung Bung Karno di Blitar

suarasurabaya.net
3 jam lalu
Cover Berita

Megawati Soekarnoputri Ketua Umum DPP PDI Perjuangan sekaligus Presiden ke-5 RI meresmikan renovasi Istana Gebang, rumah masa kecil Soekarno atau Bung Karno, di Kota Blitar, Jawa Timur, Senin (15/6/2026).

Peresmian situs bersejarah yang berada di Jalan Sultan Agung, Kecamatan Sananwetan, itu berlangsung penuh nuansa emosional. Di hadapan keluarga besar Bung Karno, jajaran pengurus PDI Perjuangan, serta ribuan kader dan masyarakat, Megawati memilih meninggalkan naskah sambutan resmi yang telah disiapkan panitia.

Putri Bung Karno itu mengaku tidak ingin berbicara secara formal karena merasa sedang berada di rumah sang kakek.

“Ini tadinya saya sudah dibuatkan nih yang namanya sambutan, terus aku kok mikir… ini sambutan tak woco opo ora yo? Tapi kalau saya baca jadi formal. Nggak ah, ini di rumah Eyang Kakung. Aku langsung udah ngomong. ‘Eyang Kakung, nyuwun sewu nggih, aku tak ngomong… ini ngomong hati nurani’,” ujar Megawati yang langsung disambut tepuk tangan hadirin.

Dalam pidatonya tanpa teks, Megawati mengajak masyarakat memahami Istana Gebang bukan sekadar bangunan bersejarah atau destinasi wisata. Menurutnya, rumah tersebut menyimpan jejak perjuangan dan pembentukan karakter Bung Karno sebagai tokoh yang kelak memimpin Indonesia meraih kemerdekaan.

Dia mengaku sempat merenungkan pesan apa yang harus disampaikan saat diminta meresmikan kembali Istana Gebang setelah proses renovasi selesai.

“Tempat ini bukan hanya untuk dikunjungi, tapi untuk diresapi. Saya merenung berhari-hari saat diminta membuka kembali Istana Gebang ini. Apa yang harus saya ceritakan? Apakah hanya tentang tempat tinggal masa kecil Bung Karno? Bukan. Tapi tentang semangat perjuangan beliau,” tegas Megawati.

Megawati kemudian mengingatkan bahwa perjalanan hidup Bung Karno tidak pernah lepas dari pengorbanan besar. Sang Proklamator, kata dia, menghabiskan total 22 tahun masa mudanya di balik jeruji penjara dan pengasingan karena memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Lokasi pengasingan tersebut tersebar di sejumlah daerah, mulai dari Ende, Bengkulu hingga Bangka.

“Coba kalian bayangkan, siapa yang mau dipenjara? Siapa yang mau dibuang? Beliau bertahan karena yakin suatu hari negara ini akan ada,” katanya.

Menurut Megawati, nilai-nilai perjuangan yang diwariskan Bung Karno masih relevan hingga saat ini. Dia mengingatkan bahwa kemerdekaan harus terus dijaga dan tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang selesai diperjuangkan.

“Apakah kalian sudah benar-benar merdeka? Belum. Kita tetap akan dijajah jika tidak waspada. Maukah kalian dijajah lagi?” serunya.

Pertanyaan tersebut langsung dijawab serempak oleh ribuan peserta yang memadati area Istana Gebang dengan teriakan, “Tidak!”

Peresmian renovasi Istana Gebang ditandai dengan penekanan tombol sirine oleh Megawati yang didampingi putranya sekaligus M. Prananda Prabowo Ketua DPP PDIP, bersama Puti Guntur Soekarno dan Romy Soekarno.

Setelah sirine berbunyi, acara dilanjutkan dengan peresmian patung Bung Karno setinggi lima meter yang berdiri di dalam kompleks Istana Gebang. Monumen karya seniman asal Bantul, Yogyakarta, Drs. Gunadi itu diresmikan melalui penandatanganan prasasti oleh Megawati.

Kehadiran patung tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap pemikiran, perjuangan, dan warisan kebangsaan Bung Karno yang lahir dari perjalanan panjang hidupnya.

Patung itu juga melengkapi kawasan Istana Gebang sebagai destinasi wisata sejarah sekaligus ruang edukasi ideologi kebangsaan bagi masyarakat.

Usai seremoni, Megawati bersama keluarga dan sejumlah sahabat dekat, termasuk Connie Rahakundini Bakrie, berkeliling meninjau bagian dalam rumah yang menjadi saksi masa muda Bung Karno.

Istana Gebang sendiri merupakan salah satu situs penting dalam sejarah Indonesia. Bangunan bergaya kolonial tersebut didirikan pada 1884, bersamaan dengan pembangunan Stasiun Kereta Api Blitar.

Rumah itu kemudian dibeli dari seorang warga Belanda bernama C.H. Portier dan mulai ditempati keluarga Bung Karno sekitar tahun 1917.

Di tempat itulah Bung Karno tinggal bersama Raden Sukemi Sosrodihardjo ayahnya, Ida Ayu Nyoman Rai ibunya, serta Sukarmini kakaknya. Dari rumah sederhana itu pula berbagai gagasan kebangsaan, kepedulian terhadap rakyat, hingga karakter kepemimpinan Bung Karno mulai tumbuh dan terbentuk sebelum akhirnya mengantarkannya menjadi Proklamator Kemerdekaan Indonesia.(saf/rid)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Analisis Pengamat soal Potensi Jokowi Berjaket PSI, Singgung Tantangan Buat PDIP
• 4 jam lalujpnn.com
thumb
Masuk Ancol hingga Ragunan Gratis saat HUT ke-499 Jakarta, Catat Tanggalnya!
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Wanita di Brasil Tewas Usai Bungee Jumping Tanpa Pengaman, 3 Orang Ditangkap
• 15 jam laludetik.com
thumb
Nasib Ribuan Motor Listrik MBG Rp 1 Triliun: Mangkrak di Gudang Sentul, Vendornya Jadi Tersangka
• 14 jam lalukompas.com
thumb
BDO di Indonesia Umumkan Target Net-Zero Disetujui Science Based Targets initiative
• 1 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.