JAKARTA, KOMPAS.com - PDI-P mengaku terus mengawasi gerakan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di tengah rencana Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) bergabung dan menjabat sebagai Dewan Pembina partai tersebut.
Ketua DPP PDI-P Deddy Sitorus mengatakan, pengawasan dilakukan karena ada upaya membujuk kader-kader PDI-P untuk masuk PSI. Bahkan dia mendapatkan informasi bahwa langkah itu dilakukan dengan tawaran bantuan material.
"Kami terus mengawasi gerakan mereka yang terus menerus berusaha membujuk kader-kader PDI-P untuk masuk PSI di berbagai daerah, baik anggota dewan, kepala daerah, hingga pengurus partai dan kader," ujar Deddy, Senin (15/6/2026).
Baca juga: Bakal Keliling 38 Provinsi, Jokowi Diminta Serukan Ini ke Rakyat: Saya Sekarang PSI
"Menurut info yang saya dengar, bahkan rata-rata ditawari bantuan material yang lumayan. Tidak tahu kebenarannya," sambungnya.
Meski demikian, Deddy menegaskan PDI-P tidak khawatir dengan gerakan tersebut. Dia menyinggung kegagalan PSI lolos ke DPR pada Pemilu 2024, meski saat itu Jokowi masih berada di puncak kekuasaan.
"Terus terang kami tidak takut. Pemilu kemarin, saat (Jokowi) di puncak kekuasaan dengan jaringan pemerintahan dan APH serta anggaran bansos APBN saja, mereka masih gagal masuk parlemen," kata Deddy.
Baca juga: PSI Tuding PDI-P Sakit Hati Ditinggal Jokowi: Supaya Enggak Malu, Bilangnya Dipecat
Deddy pun menduga gerakan perekrutan kader itu tidak hanya menyasar PDI-P. Menurut dia, kader partai lain juga menjadi target, misalnya, Nasdem Demokrat, dan PAN.
"Ingat, partai-partai lain pun akan berhadapan dengan mereka karena upaya untuk membajak kader partai-partai lain. Ini banyak sekali terlihat gejalanya, terutama di basis-basis Nasdem, Demokrat, dan PAN," ungkap Deddy.
"Jadi mereka tidak saja berhadapan dengan PDI-P, tetapi juga dengan partai-partai lain yang kadernya dipungut untuk membesarkan PSI secara instan!" lanjut dia.
Baca juga: PDI-P Respons PSI soal Dewan Pembina: Jokowi Dipecat karena Langgar Konstitusi
Terlepas dari hal itu, Deddy menegaskan bahwa PDI-P tidak lagi mempersoalkan pilihan politik Jokowi, termasuk soal rencananya menjadi Dewan Pembina PSI.
Menurut Deddy, kedekatan mantan presiden itu dengan PSI bukan hal baru. Terlebih, ketua umum partai berlambang gajah itu adalah Kaesang Pangarep yang adalah anak dari Jokowi.
"Memangnya dari dulu dia tidak di PSI?, kan anaknya sudah Ketua Umum dan sebelum itu dia membesarkan PSI dengan merekrut orang-orangnya di pemerintahan dan BUMN," kata Deddy.
"Bagi kami, urusan dengan Jokowi sudah selesai, sudah dipecat dari keanggotaan partai. Jadi dia mau pakai jaket partai apa pun, itu urusan Jokowi," pungkasnya.
Baca juga: PSI Dinilai Butuh Efek Jokowi untuk Survive di Perpolitikan Nasional
Diberitakan sebelumnya, Ketua DPP PSI Bestari Barus memastikan Jokowi segera menjabat sebagai Dewan Pembina PSI. Menurut dia, proses tersebut hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk seremoni pemberian jaket partai.
"Jadi ini hanya tinggal menunggu hari, tanggal, jam saja dan kesempatan ketua umum, kesempatan Pak Jokowi untuk kemudian yang disampaikan oleh Bu Grace kemarin, akan ada penjaketan. Ya, tunggu waktu saja sedikit lagi," kata Bestari.





