EtIndonesia.com Data yang dirilis People’s Bank of China (PBOC) atau Bank Rakyat Tiongkok (bank sentral) menunjukkan bahwa total sisa hutang pemerintah telah menembus angka 100 triliun Yuan atau Rp 266,5 kuadriliun meningkat lebih dari dua kali lipat dalam kurun waktu lima tahun. Jika ditambah dengan berbagai hutang yang tidak tercatat secara resmi, angka sebenarnya jauh lebih besar lagi.
Pada 12 Juni, bank sentral merilis laporan data statistik keuangan Mei, yang menyatakan bahwa hingga akhir bulan Mei, total nilai obligasi pemerintah yang beredar telah mencapai RMB.100,6 triliun , naik sebesar 15,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan data resmi pemerintah:
- Tahun 2020: sisa hutang pemerintah tercatat sebesar RMB.46,55 triliun, dengan rasio hutang terhadap PDB sebesar 45,8%
- Tahun 2024: meningkat menjadi RMB.82,1 triliun , rasio hutang menembus batas aman internasional sebesar 60%, mencapai 68,7%
- Tahun 2025: bertambah lagi menjadi RMB.96,05 triliun
Menurut laporan media resmi, hutang pemerintah sebagian besar berasal dari penerbitan obligasi negara. Alasan hutang menembus angka 100 triliun adalah karena dalam beberapa tahun terakhir, untuk menahan tekanan penurunan ekonomi, pemerintah melakukan dua langkah utama:
- Meningkatkan jumlah pinjaman baru, yang digunakan untuk mendanai proyek-proyek pembangunan besar
- Mengatasi risiko hutang daerah, dengan cara menerbitkan obligasi pemerintah dalam jumlah besar untuk menukar dan mengganti hutang tersembunyi yang dimiliki pemerintah daerah
Pada November 2024, Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional menyetujui rancangan peraturan: “Usulan Dewan Negara mengenai Penambahan Batas hutang Pemerintah Daerah untuk Penukaran hutang Tersembunyi yang Ada”. Program ini menyediakan dana sebesar RMB.12 triliun , yang akan digunakan secara bertahap setiap tahun untuk menyelesaikan masalah hutang tersembunyi di tingkat daerah.
Perlu diketahui bahwa data resmi pemerintah Tiongkok sering kali menyembunyikan kondisi yang kurang menguntungkan, sehingga kenyataannya mungkin jauh lebih buruk. Sudah sejak Agustus 2023, lembaga keuangan internasional Goldman Sachs memperkirakan bahwa total hutang pemerintah daerah Tiongkok telah mencapai RMB.94 triliun , termasuk hutang dari lembaga pembiayaan daerah — kewajiban keuangan yang tidak tercatat dalam neraca resmi.
Laporan terbaru dari bank sentral juga menunjukkan bahwa selama lima bulan pertama tahun ini, total pembiayaan sosial di Tiongkok mencapai RMB.17,48 triliun , berkurang RMB.1,16 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Di antaranya, pembiayaan bersih melalui obligasi pemerintah berjumlah RMB.5,67 triliun , turun sebesar RMB.634 miliar dibandingkan tahun sebelumnya.
Sumber : NTDTV.com





