Ketua DPP PDIP Deddy Sitorus menanggapi pernyataan Ketua DPP PSI Bestari Barus yang menyebut partainya terus membicarakan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Deddy menyebut partainya tak akan melupakan Jokowi dan menjadikannya sebagai bahan pembelajaran di internal partai.
"Sudah barang tentu PDIP tidak akan pernah melupakan Jokowi sampai kapan pun. Bahkan dalam semua kegiatan pengkaderan, pelajaran berharga dari kehadiran Jokowi menjadi studi kasus untuk dibahas," kata Deddy kepada wartawan, Selasa (16/6/2026).
Dia kemudian menyebutkan sejumlah pelajaran yang bisa diambil dari perjalanan politik Jokowi. Termasuk soal kekuasaan, ambisi, hingga dinamika demokrasi.
"Bahwa manusia bisa berubah jika sudah candu terhadap kekuasaan, ketenaran dan kekayaan. Kedua, orang bisa berbohong dan menipu dengan sempurna dalam jangka waktu yang lama, cukup pura-pura lugu dan sederhana padahal menyimpan ambisi dinasti lintas generasi," ucap Deddy.
"Ketiga, bahwa kekuasaan dan syahwat kekuasaan itu sangat memabukkan dan bisa membuat orang membengkokkan semua fondasi demokrasi dan hukum negara. Dalam konteks itulah di internal PDIP seorang Jokowi tidak akan pernah dilupakan tapi jadi pelajaran pahit di masa depan," sambungnya.
Deddy juga menegaskan secara ruang publik, PDIP tidak akan secara aktif membicarakan Jokowi. Kecuali, kata dia, ada hal-hal yang perlu ditanggapi secara politik.
"Perdebatan soal PDIP dengan Jokowi itu secara sistematis dan konsisten dilakukan oleh petinggi-petinggi PSI selama berbulan-bulan ini untuk keuntungan politik mereka sendiri," ujarnya.
Menurutnya, PSI terus mencoba mengaitkan kedua pihak untuk kepentingan politik. Dia menilai strategi tersebut sebagai upaya membangun simpati publik melalui konflik politik.
"Mereka pikir hanya dengan membenturkan PDIP dengan Jokowi, maka PSI dan Jokowi akan semakin mendapat simpati publik. Ini taktik murahan yang bisa dipikirkan oleh para petinggi PSI, sebab mereka tidak tahu bagaimana membesarkan partainya melalui pengkaderan, penguatan organisasi dan kerja keras di lapangan," katanya.
"Mereka hanya tahu jalan pintas membajak kader partai lain atau membuat sensasi narasi di media dan media sosial. Jadi saya serukan, lebih baik para kutu loncat yang sekarang memimpin PSI agar mulai belajar membangun partainya dengan keringat dan darah," sambungnya.
(amw/fas)





