HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan yang hingga pertengahan Juni 2026 belum menemukan kepastian jadwal disebut sebagai bagian dari upaya menjaga soliditas dan kebersamaan internal partai.
Koordinator Steering Committee (SC) Musda Golkar Sulsel, Armin Mustamin Toputiri, mengibaratkan proses penentuan kepemimpinan Partai Golkar Sulsel seperti “menarik benang dalam tepung”.
“Benangnya ditarik tidak putus, tepungnya pun tidak berhamburan,” ujar Armin saat menjelaskan dinamika persiapan Musda Golkar Sulsel.
Menurutnya, mencari figur yang akan memimpin Partai Golkar Sulsel untuk lima tahun ke depan sebenarnya bukan persoalan sulit. Sebagai partai kader, Golkar memiliki banyak tokoh dan kader potensial yang layak memimpin.
“Justru yang lebih rumit adalah bagaimana tidak ada kader yang merasa ditinggalkan. Semua kader yang ada memiliki kapasitas dan potensi,” katanya.
Armin menegaskan, pengalaman sejumlah Musda sebelumnya menjadi pelajaran berharga bagi Partai Golkar Sulsel. Ia menilai, fokus yang hanya tertuju pada pemilihan ketua tanpa memperhatikan dampak pasca-Musda dapat menimbulkan residu politik yang berpengaruh terhadap kekuatan partai.
Ia mencontohkan hasil Pemilu 2024, ketika Partai Golkar Sulsel kehilangan kursi Ketua DPRD Sulsel, sebuah posisi yang selama ini identik dengan dominasi Golkar di daerah tersebut.
“Jangan sampai kita hanya fokus menarik benang, tetapi mengabaikan tepung yang berhamburan. Mengumpulkan kembali tepung yang sudah berhamburan itu bukan perkara mudah. Dibutuhkan konsolidasi besar-besaran yang menguras energi,” ujarnya.
Karena itu, Armin meminta seluruh kader dan masyarakat memaklumi jika proses pelaksanaan Musda Golkar Sulsel memerlukan waktu lebih panjang dibandingkan perkiraan awal. Musda yang semula direncanakan berlangsung pada November 2025 hingga kini masih menunggu kepastian jadwal.
Menurutnya, kondisi tersebut merupakan konsekuensi logis bagi Golkar sebagai partai besar yang memiliki banyak kader potensial dan figur-figur yang layak memimpin.
“Kami ingin Musda kali ini benar-benar menghasilkan happy ending. Semua kader tetap menjadi pemenang, siapa pun yang nantinya dipercaya memimpin Partai Golkar Sulsel,” jelas Armin. (*)





