Beberapa tahun terakhir, petani bawang merah di Enrekang, Sulawesi Selatan, mulai mengganti mesin diesel berbahan bakar solar dengan listrik untuk pengairan. Hama pun diusir menggunakan listrik, menggantikan pestisida.
Hari menjelang petang saat Usman Pada (68) berjalan mengelilingi kebun bawangnya di Desa Saruran, Kecamatan Anggeraja, Kabupaten Enrekang. Dia baru saja menyalakan saklar untuk menghidupkan sprinkler. Perangkat penyemprot ini mengeluarkan air menyerupai hujan. Tanaman bawang yang baru ditanam pun tersiram merata.
“Untung saya sudah pakai listrik. Kalau belum, entah bagaimana dengan kondisi sekarang. Solar lagi sulit. Di mana-mana antre. Kalaupun ada di pengecer, harganya lebih mahal,” katanya saat ditemui di kebunnya, Rabu (10/6/2026).
Tak hanya untuk menyiram tanaman, Usman juga memanfaatkan listrik untuk mengusir dan memerangkap hama. Untuk itu, dia menggunakan dua jenis lampu, yakni berwarna kuning dan ungu.
“Saat lampu kuning menyala, hama yang menyerang tanaman pada malam hari menjauh. Kalau lampu ungu, saya pakai untuk perangkap sekaligus menangkap hama,” katanya.
Hama yang dimaksud adalah ngengat ulat grayak (Spodoptera exigua). Hama ini aktif terbang pada malam hari dan memakan daun tanaman. Untuk memerangkapnya, Usman memasang lampu ungu di beberapa titik. Di bawah lampu diletakkan wadah berisi air. Ngengat yang terbang mengitari lampu biasanya langsung jatuh ke dalam wadah tersebut.
“Sebelum pakai lampu begini, tiap malam saya harus menyemprot racun. Bukan hanya bikin capek, tetapi juga mahal biayanya,” ujarnya.
Untuk penyemprotan di lahannya yang seluas 50 are, dia menghabiskan sedikitnya satu kaleng pestisida seharga Rp 100.000 per hari, bahkan bisa mencapai hampir Rp 200.000. Dalam satu musim tanam hingga panen selama 58 hari, sedikitnya ia menghabiskan 50 kaleng. Jika harga rata-rata per kaleng Rp 100.000, biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 5 juta hanya untuk mengendalikan ngengat.
“Sejak pakai listrik, saya hemat sampai 40 persen untuk mengusir hama. Untuk menyiram tanaman juga begitu. Kalau dulu pakai solar, biasanya saya habiskan sampai Rp 3 juta dalam satu musim tanam. Sekarang dengan listrik, cukup sekitar Rp 1 jutaan untuk isi voucher,” jelasnya.
Muhajir (60), petani lain di Anggeraja, juga mengaku merasakan manfaat yang sama. Untuk pengairan di kebunnya yang seluas sekitar enam hektar, dia sudah memanfaatkan listrik. Ada tujuh sambungan listrik yang dipasang untuk melayani kebun yang tersebar di tujuh titik.
Saat masih menggunakan mesin diesel, dalam satu musim tanam Muhajir mengeluarkan biaya sedikitnya Rp 35 juta untuk kebutuhan penyiraman di tujuh titik tersebut. Dalam satu titik, dia membutuhkan 14-16 jeriken solar per musim tanam. Dengan harga sekitar Rp 320.000 per jeriken, biaya untuk satu titik bisa mendekati Rp 5 juta.
Setelah memasang listrik dengan daya terpasang 92.400 volt ampere (VA), biaya yang dia keluarkan berkurang drastis menjadi sekitar Rp 14 juta per musim tanam. Artinya, dia bisa menghemat hingga 60 persen.
“Dengan menggunakan listrik, biaya yang ditekan cukup besar sehingga keuntungan juga lumayan. Untuk hama juga saya pakai lampu. Pokoknya sekarang enak, tinggal colok, semua beres,” katanya.
Hal ini diakui Irawaty, Penyuluh Pertanian Lapangan Kelurahan Tanete, Enrekang. “Kami melihat langsung dampaknya. Penggunaan pompa listrik dan lampu pengendali hama membuat proses budidaya bawang menjadi lebih efisien dan biaya produksi lebih rendah,” katanya.
Enrekang merupakan sentra bawang merah di Sulawesi Selatan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), luas panen bawang merah di daerah ini pada 2025 mencapai 20.563 hektar. Adapun produksinya pada tahun yang sama mencapai 2.931.280 kuintal.
Pada mulanya masyarakat menanam bawang merah sebagai tanaman pekarangan untuk kebutuhan sendiri. Namun sejak era 1990-an, bawang merah mulai dibudidayakan secara masif dan berkembang menjadi salah satu komoditas pertanian unggulan.
Sebagai komoditas unggulan, tanaman ini dibudidayakan hampir di seluruh 12 kecamatan di Enrekang. Namun, areal dan produksi terbesar berada di Kecamatan Anggeraja. Di wilayah ini, hampir seluruh masyarakat menggantungkan hidup pada bawang merah.
Awalnya petani mengandalkan mesin diesel berbahan bakar solar untuk pengairan. Mesin tersebut digunakan untuk mengoperasikan perangkat penyiram tanaman. Selain mahal, solar juga kerap sulit diperoleh.
Adapun untuk pengendalian hama, petani mengandalkan pestisida. Tak heran jika penggunaan pestisida di perkebunan bawang merah cukup tinggi. Seiring bertambahnya luas tanam dan produksi, ancaman pencemaran lingkungan pun menjadi persoalan tersendiri.
Namun, dalam hampir lima tahun terakhir, petani mulai beralih dari mesin diesel ke listrik. Mesin pompa lama tetap digunakan, tetapi penggeraknya diganti dengan dinamo listrik.
Cara kerjanya sederhana. Mesin mengalirkan air melalui pipa ke penampungan di kebun. Mesin-mesin ini ditempatkan di dekat sungai atau sumur dalam. Dari penampungan, air kemudian dialirkan ke sprinkler untuk menyiram tanaman. Begitu pula dengan perangkat pengusir dan perangkap hama yang menggunakan kabel dan lampu, layaknya instalasi listrik rumah tangga.
Di Enrekang, melihat hamparan kebun bawang merah pada malam hari serupa menyaksikan pemandangan sebuah kota. Lampu-lampu kuning dan ungu yang menyala di kebun-kebun lereng bukit bahkan kerap menjadi daya tarik wisata.
Pemanfaatan listrik untuk pertanian seperti yang dilakukan Usman Pada, Muhajir, dan ratusan petani lainnya merupakan bagian dari program Electrifying Agriculture yang dihadirkan PT PLN (Persero). Program ini menjadi solusi energi yang mendukung modernisasi sektor pertanian.
Muhammad Irsan, Manager PLN Unit Layanan Pelanggan Lakawan yang membawahi wilayah Enrekang dan Pinrang, menjelaskan bahwa hingga Mei 2026 tercatat ada 386 pelanggan pompanisasi untuk kebun bawang merah. Adapun kapasitas daya terpasang mencapai 4.722.290 VA. Sementara pelanggan yang memasang lampu pengendali hama berjumlah 1.507 dengan total daya terpasang 1.629.100 VA..
General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar), Edyansyah, mengatakan bahwa program ini merupakan salah satu upaya PLN untuk menggerakkan roda perekonomian masyarakat, termasuk di sektor pertanian.
“Electrifying Agriculture hadir untuk membantu meningkatkan produktivitas usaha masyarakat di bidang pertanian, perkebunan, hingga perikanan. Ini merupakan bentuk dukungan PLN terhadap program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional,” katanya.
Di Sulawesi Selatan, listrik untuk pertanian tidak hanya dimanfaatkan petani bawang merah. Di sejumlah kabupaten, petani juga memanfaatkan listrik untuk mengairi sawah. Berdasarkan data PLN UID Sulselrabar, hingga Mei 2026 jumlah pelanggan program listrik pertanian di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat mencapai 4.280 pelanggan. Adapun total daya terpasang mencapai 206.312 kilovolt ampere (kVA).
Dengan pemanfaatan listrik untuk pompanisasi, petani bawang merah kini bisa panen hingga empat kali setahun. Sebelumnya mereka hanya mampu panen maksimal dua kali. Pemilik sawah pun merasakan manfaat yang sama. Mereka tetap dapat mengairi lahan di tengah ancaman kemarau panjang.





