EtIndonesia.com – Perkembangan terbaru dalam hubungan antara Amerika Serikat dan Iran menunjukkan bahwa kedua negara semakin dekat menuju penandatanganan sebuah perjanjian yang disebut-sebut dapat mengakhiri ketegangan berkepanjangan yang selama bertahun-tahun membayangi kawasan Timur Tengah.
Pada 13 Juni 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa perjanjian antara Washington dan Teheran akan ditandatangani sesuai jadwal pada 19 Juni 2026. Menurut Trump, salah satu dampak langsung dari kesepakatan tersebut adalah dibukanya kembali Selat Hormuz untuk seluruh aktivitas pelayaran internasional.
Pengumuman tersebut segera menarik perhatian dunia karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Setiap gangguan terhadap lalu lintas di kawasan itu berpotensi memengaruhi stabilitas pasar minyak global serta perdagangan internasional.
Trump Tegaskan Program Nuklir Iran Akan Dihancurkan Secara Permanen
Dalam pernyataannya, Trump juga menyinggung persoalan yang selama ini menjadi inti perselisihan antara Amerika Serikat dan Iran, yakni program nuklir Teheran.
Ia menyatakan bahwa setelah situasi keamanan benar-benar stabil dan waktu yang dianggap tepat telah tiba, militer Amerika Serikat akan mengerahkan pesawat pengebom strategis untuk menghancurkan seluruh material nuklir yang telah diperkaya dan saat ini tersimpan jauh di bawah lapisan batu granit.
Menurut Trump, langkah tersebut dimaksudkan untuk memastikan bahwa bahan nuklir yang selama ini menjadi perhatian komunitas internasional tidak lagi dapat digunakan untuk tujuan militer.
Sejumlah analis keamanan menilai bahwa penggunaan pesawat pengebom terhadap fasilitas penyimpanan bawah tanah merupakan bentuk penghancuran permanen terhadap material nuklir yang ada. Dengan kata lain, uranium yang telah diperkaya akan dimusnahkan langsung di lokasi penyimpanannya sehingga tidak dapat dipindahkan atau digunakan kembali.
Disebut Berbeda Total dengan Perjanjian Nuklir Iran Sebelumnya
Trump menegaskan bahwa perjanjian yang akan ditandatangani kali ini sangat berbeda dibandingkan Joint Comprehensive Plan of Action atau JCPOA yang pernah disepakati pada tahun 2015.
Menurutnya, kesepakatan baru tersebut dirancang sebagai sebuah “tembok penghalang” yang akan menutup seluruh jalur bagi Iran untuk memperoleh senjata nuklir.
Presiden AS itu juga mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil negosiasi terbaru, Iran disebut telah menyatakan tidak lagi memiliki keinginan untuk memiliki senjata nuklir, baik melalui pengembangan sendiri, pembelian dari pihak lain, maupun cara-cara alternatif lainnya.
Pernyataan tersebut dipandang sebagai salah satu sinyal paling penting sejak dimulainya rangkaian perundingan intensif antara kedua negara dalam beberapa bulan terakhir.
Peluang Penandatanganan Dinilai Sangat Besar
Dengan berbagai perkembangan yang terjadi selama beberapa hari terakhir, banyak pengamat menilai peluang penandatanganan perjanjian pada 19 Juni hampir tidak lagi dapat dihindari.
Meski demikian, perhatian kini mulai beralih kepada pertanyaan yang lebih besar: apakah Iran akan benar-benar mematuhi seluruh isi perjanjian setelah dokumen tersebut resmi ditandatangani?
Keraguan tersebut muncul karena hubungan antara Iran dan negara-negara Barat selama beberapa dekade terakhir kerap diwarnai tuduhan pelanggaran komitmen, perselisihan diplomatik, serta perbedaan penafsiran terhadap berbagai kesepakatan internasional.
Pertemuan Iran dengan Rusia dan Tiongkok Menjadi Sorotan
Di tengah semakin dekatnya jadwal penandatanganan, 13 Juni 2026 juga diwarnai aktivitas diplomatik penting di Teheran.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengonfirmasi bahwa dirinya telah mengadakan pertemuan dengan Duta Besar Rusia dan Duta Besar Tiongkok untuk membahas perkembangan terbaru rancangan nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran.
Waktu penyelenggaraan pertemuan tersebut menarik perhatian banyak pihak.
Sebelum pertemuan berlangsung, sikap pemerintah Iran dinilai relatif konstruktif dan tidak menunjukkan keberatan berarti terhadap jadwal penandatanganan yang diumumkan Washington.
Namun setelah pertemuan dengan perwakilan Tiongkok, muncul laporan yang menyebutkan bahwa Teheran mulai mempertimbangkan kemungkinan penyesuaian jadwal perundingan.
Perubahan sikap tersebut memicu berbagai spekulasi. Sejumlah pengamat mempertanyakan apakah terdapat pengaruh diplomatik dari Beijing yang mendorong Iran untuk meninjau kembali beberapa aspek kesepakatan yang sedang disusun.
Pengamat: Perjanjian Sudah Hampir Final
Analis politik Fischer menilai bahwa proses menuju penandatanganan pada dasarnya telah memasuki tahap akhir.
Menurutnya, kecuali Iran bersedia menghadapi konsekuensi politik, ekonomi, dan militer yang besar akibat gagalnya kesepakatan, maka peluang untuk mengubah arah proses negosiasi saat ini sangat kecil.
Fischer menambahkan bahwa sebagian besar poin utama telah disepakati, sehingga ruang untuk melakukan perubahan mendasar terhadap isi perjanjian kini semakin terbatas.
IRGC Masih Melontarkan Ancaman Militer
Meskipun kedua pihak telah mengakui tercapainya kesepakatan prinsip, ketegangan di lapangan belum sepenuhnya mereda.
Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps masih mengeluarkan berbagai pernyataan bernada keras.
Menurut laporan yang beredar, hanya sehari setelah kesepakatan prinsip diumumkan, Iran diduga menerbangkan sejumlah drone yang mencoba menyerang kapal-kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz.
Sebagai respons, pada 13 Juni 2026, United States Central Command mengumumkan bahwa seluruh drone yang diluncurkan tersebut berhasil dicegat dan ditembak jatuh.
CENTCOM juga menegaskan bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka dan aman bagi seluruh kapal internasional.
Militer Amerika Tingkatkan Operasi Pengawasan
Pada hari yang sama, CENTCOM merilis dua pernyataan terpisah yang menunjukkan peningkatan kesiapan militer Amerika Serikat di kawasan.
Salah satu unggahan memperlihatkan pesawat tempur Angkatan Laut AS bersama pesawat komando dan kendali yang bersiap lepas landas dari USS Abraham Lincoln yang sedang beroperasi di Laut Arab.
Beberapa jam kemudian, sebuah helikopter MH-60 Seahawk juga terlihat lepas landas dari kapal perusak USS Black.
Menurut CENTCOM, operasi pengawasan yang dilakukan Amerika Serikat telah menyebabkan sedikitnya 141 kapal dagang mengubah rute pelayaran mereka, sementara sembilan kapal lainnya dilaporkan mengalami gangguan operasional selama periode pengawasan tersebut.
Langkah itu dipandang sebagai bagian dari upaya Washington untuk memperketat pengawasan maritim terhadap aktivitas Iran di kawasan Laut Arab dan Teluk Persia.
Iran Hadapi Tekanan Ekonomi yang Semakin Berat
Selain menghadapi tekanan militer, Iran juga dilaporkan mengalami berbagai persoalan ekonomi dan keuangan.
Media-media Iran melaporkan bahwa sejak pagi 13 Juni 2026, sejumlah layanan perbankan mengalami gangguan.
Gangguan tersebut memengaruhi kartu dan layanan yang diterbitkan oleh beberapa bank besar negara itu, termasuk Bank Nasional Iran, Bank Komersial Iran, Bank Sepah, dan Bank Ekspor Iran.
Masalah tersebut berdampak terhadap berbagai layanan keuangan penting dan menambah tekanan terhadap kondisi ekonomi domestik yang telah menghadapi berbagai tantangan selama beberapa tahun terakhir.
Iran Jajaki Kesepakatan dengan Negara-Negara Arab Teluk
Sementara itu, laporan yang dikutip dari sumber diplomatik menyebutkan bahwa Iran telah melakukan kontak dengan sedikitnya dua negara Arab di kawasan Teluk Persia.
Tujuan pembicaraan tersebut adalah menjajaki kemungkinan kerja sama yang serupa dengan konsep yang sebelumnya pernah dibahas bersama Uni Emirat Arab.
Dalam konsep tersebut, Iran akan menghentikan serangan rudal dan drone sebagai imbalan atas peningkatan kerja sama ekonomi serta keamanan regional.
Namun demikian, pemerintah Uni Emirat Arab membantah adanya rencana untuk membantu proses pemindahan dana Iran sebagaimana yang sempat diberitakan sejumlah media.
Israel Bersiap Menghadapi Dampak Perjanjian
Di sisi lain, perkembangan menjelang penandatanganan perjanjian juga mendapat perhatian serius dari Israel.
Sumber keamanan Israel menyebut bahwa sebagai bagian dari dinamika pasca-kesepakatan AS-Iran, militer Israel sedang mempertimbangkan kemungkinan penghentian operasi darat di Lebanon.
Namun langkah tersebut tidak mudah dilakukan karena sebagian masyarakat Israel masih menuntut tindakan tegas terhadap Hezbollah yang dianggap terus mengancam keamanan wilayah utara Israel.
Akibatnya, pemerintah Israel diperkirakan akan tetap mempertahankan opsi militer sambil menunggu implementasi nyata dari perjanjian yang akan ditandatangani.
Israel juga menegaskan bahwa pasukannya akan tetap berada di zona penyangga Lebanon selatan hingga terdapat kepastian mengenai pelaksanaan seluruh ketentuan kesepakatan.
IDF Klaim Tewaskan Tujuh Anggota Hizbullah
Menjelang penandatanganan perjanjian, Pasukan Pertahanan Israel atau Israel Defense Forces mengumumkan keberhasilan operasi militer terbaru di Lebanon selatan.
Target operasi adalah sebuah bunker bawah tanah di kawasan Beaufort Ridge yang disebut digunakan oleh Hizbullah sebagai lokasi penyimpanan amunisi, peluru artileri, serta logistik pendukung operasi militer.
Menurut IDF, terdapat tujuh anggota Hizbullah di dalam kompleks terowongan tersebut ketika serangan dilakukan.
Militer Israel menyatakan bahwa seluruh individu yang berada di lokasi tersebut tewas dalam operasi tersebut.
Inggris Keluarkan Peringatan Keamanan Maritim
Sementara itu, ketegangan kawasan juga mendorong pihak Inggris mengeluarkan peringatan keamanan maritim.
Pada 13 Juni 2026, Kantor Operasi Perdagangan Maritim Inggris mengumumkan bahwa sebuah kapal pesiar yang berlayar sekitar enam mil laut di sebelah timur Oman pada 12 Juni 2026 terkena benda tak dikenal yang menghantam sisi kiri haluannya.
Beruntung tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Seluruh awak kapal dilaporkan selamat dan tidak ditemukan tanda-tanda pencemaran lingkungan. Kapal juga tetap mampu melanjutkan pelayaran menuju pelabuhan tujuan berikutnya.
Hingga kini penyelidikan masih berlangsung untuk mengidentifikasi objek yang menyebabkan insiden tersebut.
Pemerintah Inggris mengimbau seluruh kapal yang beroperasi di kawasan Laut Arab dan Teluk Persia untuk meningkatkan kewaspadaan serta segera melaporkan setiap aktivitas mencurigakan yang ditemui selama pelayaran.
Situasi Menjelang 19 Juni
Menjelang tanggal 19 Juni 2026, perhatian dunia kini tertuju pada kemungkinan penandatanganan perjanjian yang berpotensi menjadi salah satu kesepakatan paling penting dalam hubungan Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa dekade terakhir.
Jika berhasil ditandatangani dan dijalankan sesuai ketentuan, perjanjian tersebut tidak hanya berpotensi mengurangi risiko konflik militer di Timur Tengah, tetapi juga membuka kembali jalur perdagangan strategis dunia melalui Selat Hormuz. Namun, keberhasilan jangka panjang kesepakatan itu pada akhirnya akan sangat bergantung pada sejauh mana seluruh pihak mampu menjalankan komitmen yang telah mereka sepakati. (***)





