Perjalanan Gula Aren Lereng Bontocani ke Pasar Dunia

harianfajar
9 jam lalu
Cover Berita

Edward AS
Kecamatan Tamalanrea

Kabut tipis masih menggantung di perbukitan Bontocani, Kabupaten Bone, saat para penyadap mulai menapaki jalur-jalur terjal menuju pohon aren. Di wilayah yang dikelilingi hutan dan pegunungan itu, kehidupan masyarakat selama puluhan tahun bergantung pada tetesan nira yang mengalir dari batang-batang aren tua.

Bagi sebagian orang, gula aren hanyalah pemanis alami yang menemani secangkir kopi atau bahan pelengkap berbagai hidangan tradisional. Namun bagi Sumarni, gula aren adalah bagian dari sejarah hidupnya. Di balik aroma khas dan rasa manis yang lembut, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan keluarga, kerasnya kehidupan desa, hingga mimpi besar membawa produk lokal Sulawesi Selatan menembus pasar internasional.

Perempuan kelahiran Desa Pattuku, Kecamatan Bontocani, 21 Mei 1981 itu tumbuh di lingkungan keluarga penyadap aren. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan aktivitas yang menjadi denyut ekonomi masyarakat di kampungnya.

Saat sebagian anak seusianya berangkat sekolah tanpa beban, Sumarni justru terbiasa melihat kedua orang tuanya berjuang dari pagi hingga malam demi menghasilkan gula aren. Dari pekerjaan itulah kebutuhan keluarga terpenuhi dan pendidikan anak-anak mereka dapat terus berjalan.

“Orang tua saya adalah penyadap aren. Kami hidup dan bersekolah berkat hasil menjual gula aren,” kenangnya.

Masa kecil Sumarni jauh dari kata mudah. Ia masih mengingat bagaimana dirinya bersama saudara-saudaranya harus berjalan kaki melewati perbukitan dan menyeberangi sungai hanya untuk menjual gula aren ke desa lain.

Perjalanan itu bukan sekadar rutinitas, melainkan perjuangan yang harus ditempuh demi mendapatkan tambahan penghasilan bagi keluarga.

“Waktu kecil, kami harus naik turun gunung, menyeberangi sungai, lalu menjual gula aren ke desa sebelah. Kadang hanya untuk mendapatkan keuntungan Rp500,” ujarnya.

Angka tersebut mungkin terdengar kecil saat ini. Namun pada masa itu, setiap rupiah memiliki arti penting bagi keluarga mereka. Dari pengalaman itulah Sumarni belajar bahwa tidak ada hasil yang diperoleh secara instan. Semua membutuhkan kerja keras, ketekunan, dan kesabaran.

Pelajaran hidup tersebut terus melekat hingga dewasa. Setelah menyelesaikan pendidikan, Sumarni memilih merantau dan membangun karier di dunia profesional. Selama sekitar 12 tahun, ia berkecimpung di bidang pemasaran, termasuk bekerja di perusahaan multinasional.

Pengalaman itu mempertemukannya dengan berbagai strategi bisnis modern, pengelolaan merek, pengembangan pasar, hingga pemahaman mengenai perilaku konsumen. Kariernya berjalan baik. Namun jauh di dalam dirinya, kenangan tentang kampung halaman dan gula aren Bontocani tidak pernah benar-benar hilang.

Kesempatan untuk kembali datang ketika pandemi COVID-19 melanda dunia. Di saat banyak sektor usaha mengalami ketidakpastian, Sumarni justru melihat peluang untuk memulai sesuatu yang baru. Ia memutuskan pulang dan mencari cara agar potensi lokal yang selama ini kurang mendapat perhatian bisa memiliki nilai tambah yang lebih besar.

Pilihan itu akhirnya jatuh pada gula aren. Bukan tanpa alasan. Selain memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan, gula aren juga memiliki ikatan emosional yang kuat dengan perjalanan hidupnya. Produk tersebut telah menjadi bagian dari identitas keluarganya selama puluhan tahun.

“Ketika pandemi, saya berpikir apa yang bisa saya lakukan untuk kampung halaman. Akhirnya saya kembali melihat gula aren, produk yang sudah membesarkan keluarga kami,” tuturnya.

Keputusan itu menjadi titik awal lahirnya Clemira Gula Aren pada tahun 2021. Nama Clemira dipilih dengan filosofi yang cukup unik. Kata tersebut diartikan sebagai perempuan pintar, mencerminkan semangat untuk menghadirkan inovasi dari produk tradisional agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Namun membangun usaha tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saat itu, gula aren masih banyak dipandang sebagai produk tradisional yang identik dengan pasar-pasar lokal. Kemasan sederhana, pemasaran terbatas, serta standar produksi yang belum seragam menjadi tantangan tersendiri.

Sumarni memahami bahwa jika ingin naik kelas, produk lokal harus tampil dengan standar yang mampu diterima pasar modern. Ia kemudian mulai melakukan berbagai inovasi.

Gula aren yang sebelumnya hanya dikenal dalam bentuk cetakan tradisional mulai diolah menjadi berbagai varian produk. Ada gula aren bubuk yang praktis digunakan untuk minuman kekinian, gula aren cair yang cocok untuk industri makanan dan minuman, gula aren batok, hingga gula aren blok.

“Kami ingin gula aren tidak hanya menjadi produk tradisional, tetapi juga bisa diterima oleh pasar modern,” katanya.

Perubahan tidak hanya dilakukan pada bentuk produk. Kemasan dirancang lebih menarik dan profesional. Proses produksi diperbaiki agar memenuhi standar keamanan pangan. Clemira bahkan menjadi salah satu produk gula aren asal Sulawesi Selatan yang berhasil memperoleh sertifikasi standar tertentu sehingga lebih higienis dan memiliki daya saing lebih tinggi.

Di tengah persaingan industri pangan yang semakin ketat, Sumarni memilih mempertahankan satu prinsip yang menjadi identitas usahanya, yakni konsep single origin. Seluruh bahan baku Clemira berasal dari satu wilayah yang sama, yaitu Bontocani.

“Kita masih single origin, semuanya dari satu daerah yang sama. Ini yang membuat rasa gula kita lebih khas, lebih gurih, lebih creamy,” jelasnya.

Bagi Sumarni, konsep tersebut bukan sekadar strategi pemasaran. Single origin adalah bentuk penghormatan terhadap asal-usul produknya.

Ia percaya bahwa setiap daerah memiliki karakter rasa yang berbeda. Dengan mempertahankan sumber bahan baku dari satu wilayah, kualitas dan cita rasa gula aren dapat tetap konsisten.

Keistimewaan gula aren Bontocani memang tidak muncul begitu saja. Kondisi geografis pegunungan, kualitas tanah, iklim, serta teknik penyadapan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi menciptakan karakter rasa yang khas. Aromanya lebih kuat, teksturnya lebih halus, dan rasa manisnya lebih lembut dibandingkan banyak gula aren dari daerah lain.

Untuk menjaga konsistensi tersebut, Clemira bekerja sama dengan sekitar 50 petani mitra yang tersebar di Bontocani. Mereka tergabung dalam kelompok-kelompok produksi dan secara rutin menyetorkan gula aren hasil olahan nira segar setiap minggu.

“Kami selalu memastikan bahwa proses produksi dilakukan dengan standar terbaik, mulai dari penyadapan, pengolahan, hingga pengemasan,” kata Sumarni.

Hubungan dengan para petani tidak berhenti pada urusan pasokan bahan baku. Menurut Sumarni, salah satu tujuan utama mendirikan Clemira adalah menciptakan nilai tambah bagi masyarakat desa, khususnya petani aren.

Sebelum ada sistem kemitraan yang terbangun saat ini, banyak petani menghadapi ketidakpastian harga. Mereka sering bergantung pada tengkulak dan tidak memiliki posisi tawar yang kuat.

Akibatnya, hasil kerja keras selama berhari-hari sering kali tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh. Kehadiran Clemira perlahan mengubah kondisi tersebut.

Melalui pola kemitraan yang lebih terstruktur, para petani memiliki kepastian pasar dan harga yang lebih baik. Pendapatan menjadi lebih stabil sehingga mereka dapat merencanakan usaha dan kehidupan keluarga dengan lebih tenang.

“Kalau petaninya sejahtera, maka kualitas produk juga akan terus terjaga,” ujarnya.

Perkembangan usaha Clemira semakin pesat ketika menjadi bagian dari program pembinaan BRI pada tahun 2023. Melalui program tersebut, Sumarni memperoleh akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), pelatihan pengemasan, pengembangan produk, pemasaran digital, hingga kesempatan mengikuti berbagai pameran dan promosi.

“Pelatihan yang kami dapatkan sangat membantu meningkatkan kualitas produk dan memperluas pasar,” katanya.

Dukungan itu menjadi salah satu faktor yang mempercepat transformasi Clemira dari usaha lokal menjadi merek yang semakin dikenal luas.

Saat ini, produk Clemira telah tersedia di sekitar 600 hingga 700 toko yang tersebar di Sulawesi Selatan. Jaringan pemasarannya juga mulai menjangkau Jakarta dan sejumlah kota besar lainnya.

Tidak berhenti di pasar domestik, produk gula aren khas Bontocani tersebut juga mulai memasuki pasar internasional. Australia dan Hong Kong menjadi beberapa negara tujuan pemasaran yang berhasil dijangkau. Bahkan, Sumarni pernah membawa sendiri produk Clemira hingga ke Madinah dan Mekah sebagai bagian dari upaya memperkenalkan gula aren Indonesia ke pasar yang lebih luas.

Meski berbagai pencapaian telah diraih, tantangan baru kini menanti. Permintaan dari luar negeri terus meningkat, sementara kapasitas produksi masih perlu diperbesar agar mampu memenuhi kebutuhan pasar global.

“Permintaan dari luar negeri bisa mencapai 30 ton per kontainer, sementara kapasitas produksi kami masih terbatas,” ujarnya.

Tantangan tersebut justru menjadi motivasi bagi Sumarni untuk terus berkembang. Dia percaya bahwa produk lokal memiliki peluang besar untuk bersaing di tingkat internasional selama mampu menjaga kualitas, konsistensi, dan inovasi.

Di balik seluruh perjalanan itu, Sumarni tetap menjadi perempuan sederhana yang tidak melupakan akar kehidupannya. Setiap kali melihat produk Clemira terpajang di rak-rak toko modern atau dikirim ke luar negeri, ia selalu teringat masa kecilnya yang harus berjalan jauh menjual gula aren demi membantu keluarga.

Perjalanan dari lereng Bontocani menuju pasar dunia bukanlah perjalanan yang singkat. Ia dibangun oleh kerja keras selama puluhan tahun, keberanian mengambil keputusan, serta keyakinan bahwa produk desa memiliki kualitas yang layak diperhitungkan.

“Kuncinya adalah ketangguhan dan inovasi. Jangan takut menghadapi tantangan, karena setiap proses adalah pembelajaran,” pesannya.

Kini, gula aren yang dahulu hanya menjadi sumber penghidupan sebuah keluarga di pelosok Bone telah menjelma menjadi simbol kebangkitan ekonomi lokal. Melalui Clemira, Sumarni tidak hanya menjual produk, tetapi juga membawa cerita tentang kampung halaman, harapan para petani, dan mimpi besar agar nama Bontocani semakin dikenal dunia.

Keberhasilan Clemira memperluas pasar juga tidak lepas dari loyalitas para pelanggan yang merasakan langsung kualitas produk gula aren asal Bontocani tersebut. Salah satunya adalah Rahmawati, pelanggan asal Makassar yang mengaku rutin menggunakan gula aren Clemira untuk kebutuhan sehari-hari maupun sebagai campuran minuman.

Menurutnya, rasa gula aren Clemira memiliki karakter yang berbeda dibandingkan produk lain yang pernah ia coba.

“Rasanya lebih gurih dan aroma arennya kuat. Kalau dipakai untuk kopi atau teh, rasanya lebih keluar. Yang saya suka juga karena tidak terlalu manis sehingga lebih nyaman dikonsumsi,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Muhammad Irfan, pelaku usaha minuman di Makassar yang menggunakan gula aren Clemira sebagai bahan baku untuk berbagai menu minuman kekinian. Menurutnya, konsistensi rasa menjadi keunggulan utama produk tersebut.

“Kalau untuk usaha, yang paling penting itu kualitasnya stabil. Clemira punya rasa yang konsisten dan aromanya khas. Pelanggan kami juga sering memberikan respons positif karena rasa minumannya lebih enak,” katanya.

Ia menilai penggunaan konsep single origin membuat karakter gula aren yang dihasilkan lebih terjaga dibandingkan produk yang berasal dari berbagai sumber bahan baku.

“Karena bahan bakunya dari satu daerah yang sama, kualitasnya relatif seragam. Ini penting bagi pelaku usaha seperti kami,” tambahnya.

Regional Mikro Banking Head BRI Region 15 Makassar, Iwan Suprianto mengatakan bahwa dominasi BRI tidak hanya pada penyaluran KUR. Perusahaan turut melakukan pemberdayaan untuk menjangkau, mengkonversi, dan menaik kelaskan segmen unbankable, salah satunya dengan pendampingan UMKM lewat Rumah BUMN.

“Selain memberikan modal berupa kredit (KUR), kami juga memberikan pendampingan agar usaha mereka bisa tumbuh,” jelasnya.

Selain itu, ekosistem UMKM bisa terbentuk. Tidak hanya menguntungkan bagi pelaku usaha namun juga menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat di sekitarnya.

“Kami ingin bagaimana ekosistem UMKM ini bisa terbentuk dengan kuat, sehingga kemandirian ekonomi di tingkat desa maupun kelompok usaha bisa tercapai dengan baik,” tandas Iwan. (*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Puji Prabowo soal MBG, Emir Qatar Akan Kunjungi Indonesia Akhir Tahun 2026
• 21 jam laluidxchannel.com
thumb
APPBI DKI catat kunjungan mal turun 10 persen dipicu daya beli lemah
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
KPK Analisis Pengakuan Bos Blueray soal Rp 21 M ke Dirjen Bea Cukai
• 22 jam laludetik.com
thumb
Bertemu Prabowo, Menlu Qatar Sebut Negaranya Berinvestasi Rp 70 Triliun
• 4 jam lalujpnn.com
thumb
Dapat Pagu Indikatif Rp 270 Triliun, BGN Lakukan Penyesuaian Penerima Manfaat MBG
• 14 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.