Harga Pertamax Berpeluang Turun Bertahap Usai AS-Iran Berdamai

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Pembukaan Selat Hormuz sebagai bagian kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran dinilai berpotensi menjadi kabar baik bagi konsumen bahan bakar minyak, termasuk Pertamax, di Indonesia. 

Penurunan harga minyak dunia yang mengikuti meredanya tensi geopolitik diperkirakan dapat membuka ruang bagi penyesuaian harga Pertamax dalam beberapa bulan ke depan.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, mengatakan perdamaian antara AS dan Iran akan menjadi sentimen positif bagi pasar energi global karena berpotensi menekan harga minyak mentah dunia.

Menurutnya, tren penurunan harga minyak tersebut pada akhirnya dapat berdampak terhadap harga BBM nonsubsidi di dalam negeri, termasuk Pertamax. Meski demikian, penurunan harga Pertamax hingga kembali ke level sekitar Rp12.300 per liter dinilai tidak akan terjadi dalam waktu singkat.

"Pasti terjadi penurunan harga, dan bisa berdampak ke Pertamax, tetapi untuk mencapai harga Pertamax sampai Rp12.300 lagi tidak akan secepat itu," kata Yayan kepada Bisnis, Selasa (16/6/2026).

Dia memperkirakan penurunan harga minyak dunia akan berlangsung secara bertahap. Dalam skenario tersebut, harga minyak dapat terkoreksi sekitar 1% hingga 3% per hari dan berlangsung selama beberapa bulan ke depan.

Baca Juga

  • Pertamina Pastikan Stok Pertalite Aman Pascakenaikan Harga Pertamax
  • Timbang Untung Rugi Naikkan Pertamax: Langkah Tepat atau Gawat?
  • Seskab Teddy Ungkap Alasan Pertamax Naik, Pastikan Harga Pertalite dan Solar Tetap

Kendati demikian, arah pergerakan harga energi global masih akan sangat bergantung pada perkembangan situasi geopolitik dan tingkat keberhasilan implementasi perdamaian antara kedua negara.

Yayan menuturkan, pasar juga masih perlu mencermati dinamika harga minyak Brent yang saat ini menunjukkan tren pelemahan. Menurutnya, harga Brent berpotensi terus turun hingga awal Juli 2026 sebelum kembali mengalami kenaikan pada Agustus hingga September seiring berakhirnya musim panas di negara-negara belahan bumi utara.

"Kita lihat harga Brent semakin turun, dan kemungkinannya akan terus diturunkan hingga awal Juli. Setelah itu berpotensi naik lagi pada awal Agustus hingga September ketika musim panas berakhir," ujarnya.

Lebih lanjut, Yayan menilai pasar minyak global belum akan memasuki keseimbangan harga baru dalam waktu dekat. Berdasarkan proyeksi Short Term Energy Outlook (STEO) yang diterbitkan Energy Information Administration (EIA) Amerika Serikat, pasar masih berada dalam fase transisi menuju keseimbangan baru.

Menurutnya, peningkatan produksi minyak AS yang diperkirakan mencapai 14 juta barel per hari akan menjadi salah satu faktor utama yang menahan kenaikan harga minyak dunia pascaperdamaian.

Dengan asumsi konflik berakhir dan pasokan energi global kembali stabil, Yayan memperkirakan harga minyak dunia dapat bergerak pada rentang US$80-US$90 per barel hingga akhir tahun. Selanjutnya, harga berpotensi turun lebih lanjut ke kisaran US$75-US$85 per barel pada akhir tahun atau awal tahun depan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tinggal Colok,  Air Mengalir, Hama Pergi
• 8 jam lalukompas.id
thumb
PLN Butuh 154 Juta Ton Batu Bara, Baru 134 Juta Ton yang Terkontrak
• 8 jam lalubisnis.com
thumb
Pajak Kendaraan Listrik: Menjaga Lingkungan, Menopang Fiskal Daerah
• 7 jam laludetik.com
thumb
Pemerintah Dorong Penerbitan Karya Ilmiah Bereputasi Jurnal Internasional
• 34 menit lalukompas.id
thumb
Al-Dawsari Sebut Hasil Imbang Lawan Uruguay Jadi Modal Berharga Arab Saudi
• 7 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.