Seskab Teddy Dinilai Responsif Jelaskan Kenaikan Harga Pertamax

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pengamat politik sekaligus founder Lembaga Survei KedaiKOPI Hendri Satrio (Hensa) mengapresiasi langkah Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya yang memberikan penjelasan terkait kenaikan harga Pertamax melalui akun Instagram Sekretariat Kabinet.

Menurutnya, langkah itu menunjukkan adanya upaya pemerintah untuk berkomunikasi dengan masyarakat di tengah sorotan publik terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi tersebut.

Hensa menilai penjelasan yang disampaikan Teddy menjadi bentuk respons pemerintah.

“Apa yang dilakukan Teddy itu meski bagus, tetapi itu minimum banget dan lagi-lagi Teddy yang pasang badan,” kata Hensa, dikutip dari Antara, Selasa (16/6).

Hensa menilai komunikasi pemerintah terkait kenaikan harga Pertamax dapat dilakukan lebih optimal. Menurutnya, kebijakan yang berdampak langsung terhadap masyarakat seharusnya disampaikan secara terbuka dengan penjelasan yang komprehensif.

Ia menekankan masyarakat perlu mendapatkan informasi yang utuh mengenai alasan kenaikan harga, mekanisme penetapan harga, hingga dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

“Harusnya kenaikan Pertamax ini diumumkan secara lisan, ada konferensi persnya dan dijelaskan secara rinci mengapa harganya naik, apa dampaknya ke masyarakat,” ujar Hensa.

Sebelumnya, Teddy menjelaskan bahwa Pertamax merupakan BBM nonsubsidi sehingga harga jualnya mengikuti perkembangan harga minyak dunia. Penjelasan itu disampaikan melalui unggahan di akun Instagram Sekretariat Kabinet menyusul kenaikan harga Pertamax yang berlaku sejak Rabu (10/6) lalu.

Dalam unggahan tersebut, Teddy juga menegaskan pemerintah tidak menaikkan harga BBM bersubsidi meskipun terjadi gejolak harga energi global.

“Pertamax adalah BBM nonsubsidi. Artinya, harga Pertamax harus mengikuti harga minyak dunia. Apa saja BBM bersubsidi? Pertalite dan Solar. Harga BBM subsidi tidak naik,” kata Teddy.

Ia menjelaskan, harga BBM nonsubsidi di Indonesia masih relatif lebih rendah dibandingkan harga BBM RON 92/95 di sejumlah negara Asia Tenggara seperti Filipina, Laos, Thailand, Myanmar, dan Singapura.

Kenaikan harga Pertamax terjadi di tengah lonjakan harga minyak dunia yang dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik internasional. Dalam beberapa waktu terakhir, harga minyak mengalami tekanan akibat perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.

Meski demikian, pemerintah memutuskan untuk mempertahankan harga BBM subsidi. Harga Pertalite tetap berada di level Rp 10.000 per liter, sedangkan Solar subsidi dipatok Rp 6.800 per liter.

Sementara itu, harga Pertamax sebagai BBM nonsubsidi mengalami penyesuaian dari sebelumnya Rp 12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Warga Dusun Ngabean Melestarikan Tradisi Bersih Punden Sumur Blandung pada Peringatan 1 Suro
• 4 jam lalupantau.com
thumb
Sejumlah Bangunan di Palu Dilaporkan Rusak Pascagempa M 6,7
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kebiasaan yang Membantu Anak Tumbuh Lebih Percaya Diri
• 22 jam lalubeautynesia.id
thumb
Geruduk Panggung Diskusi Budiman-Nusron Wahid di UGM, SEMA UGM: Mereka tak Layak Bicara Pancasila
• 13 jam lalurepublika.co.id
thumb
Belum Lulus Sudah Masuk Dunia Perbankan, Mahasiswa UNM Sukses Lewat IEP 3+1
• 39 menit lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.