Iran dan Amerika Serikat (AS) melakukan kesepakatan damai atau MoU (Memorandum of Understanding) setelah terlibat perang selama beberapa bulan. Iran mengingatkan bahwa MoU ini satu paket dengan Israel.
Dilansir Aljazeera, Selasa (16/6/2026), Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa dalam hal negosiasi, Washington dan Tel Aviv adalah satu dan sama.
Ia juga memperingatkan bahwa setiap serangan Israel terhadap Lebanon atau pendudukan wilayah Lebanon yang berkelanjutan mulai sekarang akan merupakan pelanggaran terhadap perjanjian sementara dengan Amerika Serikat.
"Menurut pandangan kami, kedua pihak dalam memorandum ini adalah AS dan Israel di satu sisi, dan Iran serta Hizbullah di sisi lain," kata Araghchi.
Posisi Iran sejak awal konflik ini adalah bahwa Iran dan Lebanon bukanlah front yang terpisah, melainkan satu front.
Lebanon telah lama menjadi medan pertempuran bagi kekuatan regional dan internasional. Iran kehilangan banyak pengaruh di negara itu setelah perang terakhir pada akhir tahun 2024, ketika Hizbullah mengalami sejumlah kemunduran militer. Setelah itu, keseimbangan kekuatan di Lebanon bergeser mendukung kubu anti-Iran.
Araghchi mengatakan Hizbullah akan terus memiliki pengaruh di Lebanon. Iran percaya nota kesepahaman tersebut mencakup pengakhiran pendudukan Israel atas Lebanon.
(rdp/knv)





