Suara riuh ratusan siswa yang mengikuti pertandingan olahraga di lapangan olahraga Sekolah Menengah Kejuruan Negeri SMK Negeri 15 Bandung, pada Senin (15/6/2026), menembus dinding ruang pertemuan di lantai dua sekolah.
Meski demikian, sepuluh siswa kelas XII yang baru lulus dan terpilih ikut program Kelas Ketenagakerjaan Luar Negeri Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 1 tetap berusaha fokus menjalani pelatihan ataupun latihan Bahasa Jepang.
Dengan mengenakan pakaian lengan panjang warna putih dan celana panjang hitam, 10 siswa yang terpilih dari 80 siswa lulusan kelas XII yang mendaftar, mulai menjalani pelatihan Bahasa Jepang dari pukul 08.00 hingga 13.00 WIB.
Selama setahun, pelatihan untuk menyiapkan lulusan SMK bekerja di luar negeri juga mencakup latihan fisik, pengenalan budaya negara tujuan, penggemblengan mental, dan penguatan budaya kerja profesional. Pelatihan ini menyiapkan lulusan SMK berkualifikasi jadi pekerja migran Indonesia legal dengan sertifikasi yang disyaratkan negara tujuan.
Satu per satu siswa Kelas Ketenagakerjaan Luar Negeri SMK 1 yang digagas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) di SMK 15 Bandung dipanggil guru Bahasa Jepang ke depan.
Kemudian guru tersebut mengeluarkan kartu -kartu huruf dan menyuruh siswa untuk menyebutkannya secara benar. Ketika siswa lupa atau salah menyebut, sang guru dengan sabar membantu siswa untuk tidak menyerah. “Hai. Soo desu,” kata sang guru ketika jawaban siswa di depannya benar.
Peserta belajar Bahasa Jepang secara intensif agar mampu melakukan percakapan sederhana. Untuk bekerja di Jepang, peserta harus mendapat sertifikat (Japanese-Language Proficiency Test) N4 sebagai bukti kemampuan bahasa Jepang seseorang mampu memahami percakapan sehari-hari serta menguasai sekitar 300 kanji dan 1.500 kosakata.
Kepala SMK 1 Bandung Rohayati mengutarakan, sejak 2012 ada saja lulusan SMKN 15 Bandung dengan program keahlian perhotelan, kuliner, pekerjaan sosial, dan desain komunikasi visual, yang bekerja di luar negeri. Terdata ada alumni bekerja di perhotelan atau kapal pesiar di Singapura, Jepang, Thailand, Dubai, Selandia Baru, dan Amerika Serikat.
“Namun berangkat kerja ke luar negeri itu mandiri, biaya sendiri,” ujarnya. Dengan program pemerintah melalui Kelas Ketenagakerjaan Luar Negeri SMK 3+1, lulusan SMK yang berminat bekerja luar negeri mengikuti pelatihan secara gratis agar punya sertifikasi bahasa dan keterampilan relevan dengan peluang kerja di negara tujuan.
”Karena itu siswa harus berkomitmen dan direstui orangtua untuk menjalankan satu tahun pelatihan kemudian bekerja di luar negeri. Ini legal karena sekolah pun mengawasi betul,” kata Rohayati menambahkan.
Untuk Kelas Ketenagakerjaan Luar Negeri SMK 3+1 yang perdana dimulai tahun 2026, Rohayati menuturkan, sekolah memilih peluang kerja di Jepang. Itu terutama untuk lulusan program keahlian pekerjaan sosial, permintaan caregiver atau pengasuh warga lanjut usia (lansia) dari Jepang yang cukup tinggi.
Lulusan keahlian pekerjaan sosial dari SMKN 15 Bandung juga tiap tahun rutin terpilih program beasiswa Sendai Ikuei Gakuen High School. Pada tahun 2026, ada empat alumni terpilih sekolah di Jepang, sekaligus belajar bahasa dan budaya Jepang dengan juga bekerja menjadi caregiver.
Menurut Rohayati, peluang dari pemerintah untuk mendukung lulusan SMK siap bekerja di luar negeri sebenarnya diminati siswa. Terdata 80 orang yang hendak mengikuti program satu tahun persiapan usia lulus SMK untuk bekerja di Jepang.
“Selama ini yang mau bekerja di luar negeri, persiapannya mandiri. Dari segi biaya berat bagi orangtua. Untuk yang program pemerintah ini, pelatihannya gratis, nanti orangtua bantu untuk paspor atau uang saku. Karena minat tinggi, kami seleksi ketat, termasuk minta komitmen orangtua mengizinkan anak. Kuotanya hanya 10 orang,” kata Rohayati.
Dalam pembelajaran di sekolah, kata Rohayati, ada pembelajaran bahasa Jepang, termasuk pengenalan budayanya. Selain itu, siswa mendapat wawasan tentang dunia global hingga penguatan budaya kerja di dunia kerja sejak dini.
Selama ini yang mau bekerja di luar negeri, persiapannya mandiri. Dari segi biaya berat bagi orangtua. Untuk yang program pemerintah ini, pelatihannya gratis, nanti orangtua bantu untuk paspor atau uang saku.
“Kami menjadikan program Ketenagakerjaan Luar Negeri SMK 3+1 dari pemerintah ini untuk memotivasi anak-anak bahwa mereka punya akses ke luar negeri. Ini stimulus bagi orangtua untuk mendukung anaknya dan tak khawatir soal pembiayaan seperti pelatihan untuk sertifikasi bahasa dan sertifikasi keahlian atau kesiapan kerja,” ucap Rohayati.
Aryasa (19), lulusan SMK program pekerjaan sosial, mendapat cerita soal alumni sekolah ini yang sukses menjadi caregiver di Jepang. Mereka umumnya bekerja lebih dari lima tahun, bahkan ada yang terus berlanjut hingga memboyong keluarga ke Jepang.
“Saya memilih pekerja sosial karena tahu peluang kerja jadi caregiver di Jepang. Orangtua mendukung. Program pelatihan Kebekerjaan Luar Negeri SMK 3+1 i jadi peluang besar buat saya tanpa membebani orangtua. Saya pelajari lagi huruf-huruf Jepang dan bahasa Jepang agar makin siap. Saya tak akan menyerah meski belajar Bahasa Jepang sulit,” kata Aryasa.
Davinka (18), lulusan program desain komunikasi visual, pun mengaku tak masalah harus berlatih bahasa Jepang sekaligus pengolahan makanan. Dia sudah lama bermimpi untuk bisa bekerja di luar negeri sebagai tim film internasional. “Ada kesempatan, jalani saja dulu. Saya mengejar mimpi saya punya karir di dunia internasional,” ujarnya.
Sementara itu Farrel (18), lulusan program keahlian kuliner, bermimpi untuk bisa bekerja di restoran di Jerman. Namun, peluang yang tersedia saat ini yakni bekerja Jepang. “Ini saya pakai batu loncatan untuk belajar hidup dan bekerja di luar negeri, mulai dari Jepang dulu. Saya berharap suatu saat nanti bisa bekerja di Jerman,” ujarnya.
Peningkatan kualitas lulusan SMK yang memiliki kualifikasi bekerja di luar negeri sesuai negara yang dituju, jadi salah satu cara meningkatkan kebekerjaan lulusan SMK.
Data Survei Angkatan Kerja Nasional oleh Badan Pusat Statistik tahun 2025 menunjukkan tingkat pengangguran terbuka berdasarkan tingkat pendidikan tertinggi di level SMK 8,63 persen (pada Februari 2025 sekitar 1,6 juta orang dan Agustus 1,9 juta orang).
Secara terpisah, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin memaparkan, program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK 3+1 diterapkan di 49 SMK. Hal itu bertujuan menyiapkan pekerja migran Indonesia sesuai kebutuhan pasar global dan memperluas kebekerjaan lulusan SMK di luar negeri.
Berdasarkan data per Oktober 2025 dari Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), permintaan pekerja migran di berbagai negara mencapai 385.257 orang dan tiap tahun terus bertambah.
Pada tahun 2026, Kementerian P2Mi menargetkan untuk menempatkan sekitar 500.000 tenaga kerja di luar negeri yang fokusnya ke lulusan pendidikan menengah. Peluang lulusan SMK meliputi antara lain di sektor caregiver, manufaktur, dan perhotelan.
Program Kebekerjaan Luar Negeri SMK 3+1 menambahkan masa belajar satu tahun (setara 1.472 jam pelajaran) setelah kurikulum nasional reguler. Kurikulum khusus kebekerjaan luar negeri memperkuat kompetensi kejuruan, penguasaan bahasa asing, kesiapan fisik dan mental, serta literasi hukum dan keuangan sesuai standar industri di negara tujuan.
Lulusan program memperoleh ijazah, sertifikat kompetensi, dan sertifikat bahasa asing. Target kinerja utama berupa tingkat keterserapan kerja di luar negeri minimal 80 persen dari total lulusan.
“ Pemerintah berkomitmen meningkatkan adaptasi SMK terhadap kebutuhan pasar kerja luar negeri. Karena itu, perlu ada kebijakan yang secara sistematis memperkuat orientasi kebekerjaan luar negeri dari penyelenggaraan pendidikan vokasi di Indonesia,” ujarnya.





