Di KTT G7, Trump Sebut Akan Lakukan Apapun Demi Damaikan Rusia-Ukraina

cnbcindonesia.com
1 jam lalu
Cover Berita
Foto: Presiden AS Donald Trump menerima kunjungan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy di Gedung Putih di Washington, D.C., AS, Jumat (17/10/2025) waktu setempat. (REUTERS/Jonathan Ernst)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa Rusia harus membuat kesepakatan perdamaian dengan Ukraina saat mengadakan pertemuan dengan Presiden Volodymyr Zelenskiy dalam agenda KTT G7 di Pancis.

Dalam kesempatan itu, Trump juga mengatakan ia akan melakukan apa pun yang bisa ia lakukan untuk mengakhiri perang antara Ukraina dan Rusia.

"Saya akan melakukan apa pun yang saya bisa," kata Trump dikutip dari Reuters, Selasa (16/6/2026).


Baca: Akhirnya Damai, Perang Iran Sudah Kuras Habis-habisan Amerika

Trump telah tiba di agenda KTT G7 yang berlangsung dalam periode 15-17 Juni 2026 di resor tepi danau Evian-les-Bains. Dalam pertemuan itu Ia membawa kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik dengan Iran dan dengan fokus baru untuk mengakhiri perang di Ukraina.

Trump memuji pertemuannya dengan Zelenskiy dan presiden G7 lainnya dalam sesi tertutup pada Selasa (16/6/2026). Trump juga akan bertemu secara bilateral dengan pemimpin Ukraina tersebut nantinya.

Zelenskiy dan para diplomat Eropa berharap dapat meyakinkan Trump bahwa nasib Ukraina telah membaik seiring Kyiv mendorong lebih banyak dukungan untuk memperkuat posisinya dalam perundingan perdamaian dengan Moskow.

"Fokus utamanya adalah memperkuat pertahanan udara untuk Ukraina dan memajukan diplomasi, untuk membuat Rusia mengakhiri perangnya," tulis Zelenskiy di X setelah pertemuan tersebut dikutip pada Selasa (16/6/2026).

"Perdamaian dibutuhkan," sambungnya.

Para diplomat Eropa mengatakan bahwa suasana pertemuan tersebut konstruktif.

"Sekarang tampaknya kita memiliki analisis bersama: bahwa Rusia sekarang berada dalam posisi defensif," kata diplomat tersebut, menambahkan bahwa Trump tetap tinggal hingga akhir sesi.

Para diplomat Eropa berharap dapat meyakinkan Trump bahwa posisi AS sebelumnya mengenai kemungkinan syarat kesepakatan terlalu menguntungkan Moskow.

"Situasi berbalik untuk Ukraina. Situasi di tahun 2026 sangat berbeda dari tahun 2025. Ukraina dengan berani mempertahankan garis depan," tulis Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen di X dikutip Selasa (16/6/2026).

"Kelelahan Rusia terlihat jelas. Saatnya untuk menggandakan dukungan kita," lanjutnya.

Zelenskiy mendorong momentum baru dan peran Eropa yang lebih besar. Ia mengatakan pada hari Senin bahwa ia telah menawarkan untuk bertemu Putin di KTT G7. Putin berulang kali menolak gagasan pembicaraan langsung dengan Zelenskiy kecuali jika diadakan di Moskow.

Para pemimpin Eropa juga akan memperingatkan Trump bahwa kesepakatan sementara yang dangkal dengan Iran berisiko memperkuat program nuklir dan rudal balistik Teheran.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan prioritasnya adalah memastikan adanya "kesepakatan yang solid dan serius yang diselesaikan".

Ia mengatakan makan siang kerja pada hari Selasa akan fokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz dengan aman, termasuk kemungkinan misi maritim yang dipimpin Prancis-Inggris.

Pertemuan ini juga akan berupaya untuk mengidentifikasi rute alternatif untuk menghindari jalur air tersebut, yang sebagian besar telah ditutup Iran sejak tak lama setelah diserang oleh AS dan Israel pada akhir Februari. Trump mengatakan selat itu akan "sepenuhnya terbuka" pada Jumat.

Kesepakatan sementara ini akan membuka jendela waktu 60 hari untuk negosiasi teknis yang kompleks yang akan mencakup nasib persediaan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran dan pencabutan sanksi internasional.

Baca: Ragu AS-Iran Beneran Damai, Kapal Tak Berani Lewat Selat Homuz

Namun, sekutu Eropa khawatir bahwa tim negosiasi AS yang tidak berpengalaman mungkin gagal untuk mengamankan perjanjian nuklir yang kuat atau mengatasi program rudal balistik Iran pada fase berikutnya, yang berpotensi menciptakan kebuntuan yang berkepanjangan.

Perancis, Inggris, dan Jerman ingin berperan dalam membentuk pembicaraan mendatang setelah dikesampingkan dalam beberapa bulan terakhir.

Ketiga negara tersebut pertama kali terlibat dengan Iran mengenai program nuklirnya pada tahun 2003 dan kemudian bekerja sama dengan presiden AS saat itu, Barack Obama, untuk mengamankan kesepakatan tahun 2015 sebagai imbalan atas pencabutan sanksi. Trump mencemooh kesepakatan itu, yang ia batalkan saat menjabat sebagai presiden pertamanya.


(arj/arj) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Ukraina Sebut Perang dengan Rusia Selesai Sebelum Musim Dingin

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KAI Group Angkut 6,2 Juta Penumpang Layanan Terhubung Bandara hingga Mei 2026
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kecam Pemborosan APBN, Mahasiswa Sumsel Beri Kartu Merah untuk Prabowo
• 20 jam lalujpnn.com
thumb
Deretan Polemik Pesta Bola Dunia 2026
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Prediksi Skor Argentina vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Susunan Pemain dan Rekor H2H
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Temui PM Singapura, Pramono Tawari Investasi Bangun Proyek MRT Fase 3 dan 4
• 7 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.