JAKARTA, KOMPAS.com - Kurang dari setahun lagi, Jakarta akan memasuki usia lima abad. Pada 22 Juni 2027, kota yang dahulu bernama Jayakarta itu genap berusia 500 tahun.
Bagi Jakarta, angka tersebut bukan sekadar penanda usia.Lima abad perjalanan kota ini merekam berbagai perubahan, mulai dari pelabuhan Sunda Kelapa, pusat perdagangan kolonial bernama Batavia, hingga menjelma menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, dan kebudayaan Indonesia.
Mengutip situs resmi Pemprov DKI Jakarta, hari lahir Jakarta ditetapkan pada 22 Juni 1527, saat pasukan gabungan Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Pangeran Fatahillah berhasil mengusir Portugis dari Pelabuhan Sunda Kelapa dan mengubah namanya menjadi Jayakarta, yang berarti "kemenangan yang gemilang".
Baca juga: Pramono Luncurkan Logo Peringatan 5 Abad Jakarta, Puncak Acara 22 Juni 2027
Setelah itu, kota ini beberapa kali berganti wajah. Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, lalu Batavia pada masa VOC Belanda sejak 1619, hingga akhirnya kembali menggunakan nama Jakarta setelah Indonesia merdeka.
Kini, menjelang usia 500 tahun, Jakarta kembali memasuki babak baru.
Menjadi Kota Global...Pemerintah Provinsi Jakarta dalam beberapa tahun terakhir mulai menyiapkan berbagai agenda untuk membawa Jakarta menjadi kota global.
Salah satunya melalui penyelenggaraan Jakarta Beat Society (JBS) 2025 di Lapangan Banteng. Festival musik tersebut menjadi bagian dari rangkaian menuju perayaan lima abad Jakarta.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta Andhika Permata mengatakan kegiatan itu dirancang untuk memperluas akses musisi lokal ke pasar internasional.
"Jakarta Beat Society 2025 menjadi festival musik berkelas dunia. Acara ini bertujuan memfasilitasi musisi lokal agar bisa dikenal luas melalui akses pasar global yang kami siapkan," ujar Andhika.
Baca juga: Menjelang 5 Abad Jakarta, Bangunan Bersejarah di Kota Tua Telantar dan Kehilangan Makna
Festival itu juga menghadirkan pembeli dan pelaku industri kreatif dari Korea Selatan, Australia, hingga Jepang.
Menurut Andhika, Jakarta ingin membuktikan bahwa kearifan lokal dapat memiliki daya saing di tingkat global.
"Kita ingin industri kreatif di Jakarta bisa dikenal dan dimintai di kancah global. Kearifan lokal di Jakarta memiliki kualitas dan harus berdaya saing global," tegasnya.
Namun, di tengah ambisi menjadi kota global, muncul pertanyaan lain: bagaimana Jakarta menjaga identitas yang telah membentuk kota ini selama ratusan tahun?
Pertanyaan itulah yang menjadi perhatian berbagai elemen masyarakat Betawi menjelang usia 500 tahun Jakarta.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), populasi suku Betawi mencapai 6.807.968 jiwa atau sekitar 2,88 persen dari total penduduk Indonesia.





