JAKARTA, DISWAY.ID - Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengingatkan bahwa pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) harus diimbangi dengan penguatan etika.
Menurutnya, teknologi yang berkembang tanpa landasan moral berpotensi menimbulkan berbagai dampak negatif bagi masyarakat.
"Ada satu hal yang jauh lebih penting dari sekadar teknis penguasaan AI, yaitu etika AI. Teknologi tanpa etika itu berbahaya!," kata Gibran dalam kanal Youtube Setwapres, Rabu, 17 Juni 2026.
BACA JUGA:Gibran: Gunakan AI sebagai Asisten, Bukan Gantikan Kemampuan Berpikir
Gibran mengatakan AI bisa digunakan untuk membuat konten positif, tapi juga bisa dipakai untuk menyebar hoaks, melakukan plagiarisme, atau melanggar privasi orang lain.
Putra sulung Presiden ke-7 Jokowi ini mengingatkan, pemanfaatan AI harus didasari oleh nilai-nilai integritas.
"Jangan gunakan AI untuk menipu, jangan gunakan AI untuk menjatuhkan orang lain," imbuhnya.
Gibran menjelaskan AI harus digunakan untuk kesejahteraan bersama, untuk mempermudah hidup, bukan menciptakan kekacauan sosial.
BACA JUGA:Tiyo Ardianto Disenggol Budiman Sudjatmiko, Kalimat Ini Dinilai Paling Menyakiti Hati Mahasiswa UGM
"Kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan kemajuan moralitas kita sebagai bangsa yang beradab," tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gibran juga menyampaikan bahwa pemerintah telah menyelesaikan Readiness Assessment Methodology (RAM) untuk AI yang disusun UNESCO.
Instrumen tersebut berfungsi sebagai alat diagnosis untuk menilai kesiapan dan tata kelola AI Indonesia di masa depan sesuai pedoman etika yang berlaku.
Ia menilai Indonesia memiliki potensi besar dengan dukungan talenta-talenta unggul di bidang teknologi.
BACA JUGA:Elza Syarief Mundur dari Pengacara Sony Sonjaya dalam Perkara Korupsi MBG: Dia Tak Jujur!
Karena itu, pemerintah akan terus menyiapkan ekosistem pendukung, sementara masyarakat didorong untuk meningkatkan kapasitas diri agar mampu bersaing di era digital.
- 1
- 2
- »





