JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah hiruk-pikuk kawasan Senayan yang tak pernah benar-benar tidur, Hotel Sultan berdiri sebagai salah satu penanda perjalanan panjang Jakarta.
Selama puluhan tahun, hotel yang berada di jantung kawasan Gelora Bung Karno (GBK) itu menjadi tempat singgah tamu negara, lokasi pertemuan penting, hingga saksi berbagai peristiwa yang mewarnai perkembangan ibu kota.
Namun, pada Kamis (18/6/2026), Hotel Sultan akan memasuki babak baru dalam sejarahnya.
Baca juga: Eksekusi Hotel Sultan Besok, 300 Personel Gabungan Bakal Kosongkan Bangunan
Pemerintah bersiap melakukan pengosongan lahan Blok 15 GBK, kawasan tempat Hotel Sultan dan Sultan Residence berdiri, setelah sengketa panjang antara negara dan PT Indobuildco berujung pada serangkaian putusan pengadilan yang memenangkan negara.
Menjelang pelaksanaan pengosongan, persiapan terus dimatangkan.
Ketua Tim Transisi Blok 15 Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPKGBK) Hendry Arisandi mengatakan, sebanyak 300 personel gabungan telah disiagakan untuk mendukung proses eksekusi.
Mereka berasal dari PPKGBK, Kementerian Sekretariat Negara, tim kuasa hukum, Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP), PT Telkom, hingga PLN.
Beberapa hari sebelum pelaksanaan, seluruh personel juga telah mengikuti apel teknis guna memastikan proses pengosongan berjalan sesuai prosedur.
Baca juga: Daftar Area GBK yang Ditutup Saat Eksekusi Hotel Sultan Besok
"Dalam apel diberikan pengarahan terkait prosedur pencatatan aset, dokumentasi, hingga pengamanan barang selama proses eksekusi berlangsung," ujar Hendry dalam keterangan tertulis yang dikonfirmasi Kompas.com.
Menurut dia, seluruh barang yang masih berada di dalam kompleks Hotel Sultan nantinya akan didata, didokumentasikan, diamankan, dan dipindahkan ke lokasi penyimpanan yang telah disiapkan apabila pengelola belum melakukan pengosongan secara mandiri.
"Prinsip kami jelas, eksekusi ini adalah pelaksanaan perintah pengadilan. Pada saat yang sama, kami tetap menjaga hak-hak atas barang milik pengelola sebelumnya," kata Hendry.
Jauh sebelum menjadi objek sengketa, Hotel Sultan lahir dari ambisi besar Jakarta untuk tampil sebagai kota internasional.
Awal 1970-an menjadi periode penting bagi ibu kota. Saat itu, Jakarta bersiap menjadi tuan rumah Konferensi Pacific Area Travel Association (PATA) ke-23 yang dijadwalkan berlangsung pada April 1974.
Sekitar 3.000 tamu dari berbagai negara diperkirakan akan datang ke Jakarta.
Masalahnya, pilihan hotel bertaraf internasional saat itu masih sangat terbatas.





