PALU, KOMPAS — Seorang warga Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, meninggal dan puluhan lainnya mengalami luka-luka akibat gempa dangkal berkekuatan magnitudo 6,7. Ratusan rumah juga rusak dan warga terpaksa mengungsi. Pemerintah menetapkan status tanggap darurat dengan fokus utama penanganan di Kabupaten Sigi yang mengalami dampak paling besar.
”Ada satu warga meninggal akibat serangan jantung saat gempa terjadi. Bukan karena tertimpa reruntuhan, melainkan karena kaget saat gempa melanda,” kata Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah Andi Sembiring saat dihubungi dari Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (17/6/2026).
Korban jiwa tersebut berada di Kabupaten Sigi. Selain itu, tercatat 13 orang mengalami luka berat dan 63 orang luka ringan. Tidak hanya itu, sekitar 800 rumah mengalami kerusakan dengan 12 unit di antaranya rusak berat.
Menurut Sembiring, Kabupaten Sigi menjadi wilayah yang terdampak paling parah. Daerah lain yang juga mengalami kerusakan cukup besar adalah Kabupaten Parigi Moutong dengan 37 rumah rusak. Selanjutnya, di Kota Palu, sejumlah rumah, tempat usaha, hingga gedung di Universitas Tadulako turut mengalami kerusakan.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah menetapkan status tanggap darurat bencana selama tujuh hari ke depan. Seluruh kebutuhan warga terdampak dan pengungsi diupayakan terpenuhi, mulai dari sembako, tempat pengungsian, hingga pasokan air bersih.
”Saat ini kami fokus pada pemenuhan kebutuhan warga. Pak Gubernur (Sulawesi Tengah) juga memerintahkan agar semua kebutuhan masyarakat terlayani tanpa terkecuali. Hari ini juga bantuan dari BNPB akan tiba,” tambahnya.
Gempa berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang Kabupaten Sigi pada Selasa (16/6/2026) menjelang siang. Guncangan terasa kuat di Palu, bahkan hingga wilayah Sulawesi Barat. Gempa tersebut memicu kepanikan warga dan menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan.
Alifa (20), salah seorang warga Palu, menuturkan bahwa saat gempa terjadi ia sedang berada di Universitas Tadulako. Getaran terasa sangat kuat selama beberapa detik sehingga membuat dirinya dan rekan-rekannya panik. Guncangan juga disertai suara gemuruh, sementara sejumlah plafon bangunan berjatuhan. Mereka kemudian berusaha menyelamatkan diri.
”Ada bangunan yang roboh, ada juga yang plafonnya jatuh. Sekarang kami sementara berada di rumah teman. Gempa susulan masih terus terjadi,” ujarnya.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan, gempa terjadi di darat dengan kedalaman 10 kilometer. Pusat gempa berada sekitar 42 km tenggara Palu dan 70 km barat laut Poso.
Getaran paling kuat dirasakan di Kota Palu dengan intensitas VI-VII MMI. Sementara itu, di Kabupaten Sigi, guncangan dirasakan pada skala VI MMI.
”Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini memiliki mekanisme pergerakan turun (normal fault),” kata Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto.
Berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan dan hasil observasi instrumentasi, gempa bumi ini dirasakan dengan intensitas VI-VII MMI (Modified Mercalli Intensity) di Palu. Pada tingkat intensitas tersebut, dampak fisik yang dapat terjadi meliputi kerusakan ringan pada bangunan berkonstruksi baik dan kerusakan sedang hingga berat pada bangunan yang kurang kokoh (Kompas, 16/6/2026).




