Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung memastikan kekurangan pasokan batu bara untuk pembangkit PT PLN (Persero) segera teratasi.
Yuliot mengatakan, penambahan target produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Batu Bara (RKAB) batu bara akan segera dilakukan menyesuaikan kebutuhan dalam negeri atau melalui mekanisme Domestic Market Obligation (DMO).
Kebutuhan batu bara untuk PLN mencapai 154 juta ton sepanjang tahun ini. Namun, pasokan tersebut baru bisa terpenuhi 134 juta ton alias kurang 20 juta ton.
"Jadi kemarin kan disampaikan kebutuhan PLN itu adalah 154 juta yang sudah dipenuhi berdasarkan kontrak 134 juta, dan itu kekurangan 20 itu lagi diusahakan," kata Yuliot saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Rabu (17/6).
Dia menyebutkan Kementerian ESDM tengah mengevaluasi RKAB produksi batu bara yang sempat dipangkas menjadi sekitar 600 juta ton, untuk memperbaiki harganya yang lesu di pasar global. Namun, saat ini harga batu bara melesat di tengah perang AS dan Iran di Timur Tengah.
"Pak Menteri (ESDM) kan sudah sampaikan, sudah dilakukan evaluasi untuk seluruh kebutuhan PLN dan itu dipenuhi," tegas Yuliot.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan PLN masih membutuhkan pasokan batu bara kalori menengah atau sedang untuk keandalan energi primer. Berdasarkan perintah Presiden Prabowo Subianto dalam rapat yang dilaksanakan kemarin malam, Minggu (14/6), pemerintah akan membentuk tim untuk mengamankan pasokan batu bara untuk PLN.
"Saya sudah minta untuk kita clear-kan untuk diprioritaskan, difleksibilitaskan, dan semalam sudah rapat diarahkan langsung oleh Bapak Presiden bahwa dalam rangka pengawasan energi primer agak tidak begini terus maka kita membentuk tim pengadaan PLN, Irjen, Dirjen Minerba, dan BPKP," kata Bahlil saat ditemui di kompleks parlemen, Senin (15/6).
Dia menegaskan bahwa pasokan batu bara untuk energi primer adalah prioritas. Berdasarkan catatannya, kebutuhan batu bara untuk pembangkit PLN mencapai 154 juta metrik ton per tahun.
Dari total penugasan kepada perusahaan batu bara memasok kebutuhan dalam negeri melalui skema Domestik Market Obligation (DMO) dengan harga khusus USD 70 per ton, pemerintah mengamankan komitmen sebanyak 190 juta ton.
Sementara total pasokan batu bara dari perusahaan yang sudah terkonfirmasi sebesar 150-160 juta ton. Namun, yang baru terkontrak dengan PLN sebesar 134 juta ton.
Untuk mengatasi hal tersebut, Bahlil mengaku sudah berdiskusi dengan Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo beserta jajaran direksi, termasuk membahas kebutuhan batu bara kalori medium yang juga masih terkendala.
"Saya harus akui bahwa PLN dalam 134 juta itu membutuhkan batu bara yang medium, yang kalorinya agak bagus. Sementara medium itu semakin hari semakin sedikit dan harganya juga murah. Kita bikin patok karena DMO USD 70," ujar Bahlil.




