Komisi XII Ungkap Peluang Penurunan Harga Pertamax

metrotvnews.com
7 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Wakil Ketua Komisi XII DPR Sugeng Suparwoto menyebut harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax berpeluang turun bergantung pada harga minyak mentah dunia. Namun, keputusan penyesuaian harga tersebut memerlukan perhitungan parameter yang matang.

“Harus ada parameter yang dihitung terlebih dahulu. Harga minyak perlu mengendap pada level tertentu agar ada kepastian,” kata Sugeng di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 17 Juni 2026.
 

Baca Juga :

 
Penjelasan Pertamina soal Perbedaan Harga Pertamax dan Pertalite di Struk Pembelian
 

Sugeng menjelaskan harga jual Pertamax sangat bergantung pada pergerakan harga minyak mentah dunia. Saat ini, harga minyak jenis Brent berada di kisaran USD83 per barel, sementara jenis WTI bertengger di angka USD79 per barel, di mana kedua acuan tersebut terpantau turun sekitar lima persen dalam sehari terakhir.

Menurut Sugeng, fluktuasi pasar energi global yang masih sangat tinggi membuat pemerintah tidak boleh mengambil keputusan jangka pendek. Langkah penyesuaian harga komoditas energi harus didasari oleh kestabilan pasar, bukan sekadar respons instan atas dinamika harian.

“Jangan sampai kita mengambil keputusan berdasarkan parameter yang belum stabil,” tegas Sugeng.

Legislator dari Fraksi NasDem ini membeberkan bahwa harga BBM nonsubsidi di dalam negeri turut dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Adapun dalam APBN 2026, asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) telah dipatok sebesar USD70 per barel dengan proyeksi kurs Rp16.500 per dolar AS.

Sugeng menambahkan volatilitas harga minyak dunia saat ini berkelindan dengan berbagai faktor geopolitik dan ekonomi global. Mulai dari kebijakan pemotongan produksi oleh negara-negara OPEC Plus hingga agenda pengisian kembali cadangan strategis minyak oleh negara-negara maju.

“Produksi OPEC Plus yang sebelumnya sekitar 103 juta barel per hari sekarang turun menjadi sekitar 93 sampai 95 juta barel per hari. Ini menciptakan kekurangan pasokan di pasar global,” urai Sugeng.


Ilustrasi SPBU. Foto: Dok. MI.

Situasi ini kian kompleks lantaran negara-negara dengan kekuatan ekonomi besar, seperti Amerika Serikat dan China, juga tengah gencar mengisi ulang tangki cadangan minyak nasional mereka yang sempat terkuras beberapa tahun belakangan.

“Semua itu turut memengaruhi harga minyak dunia,” imbuh Sugeng.

Sugeng mengingatkan bahwa Indonesia harus tetap waspada dan jeli mencermati setiap perkembangan pasar makro. Hal ini mengingat status Indonesia yang masih menjadi negara importir bersih (net importer) untuk komoditas BBM dan LPG. 

Guna mengantisipasi dampak buruk, Komisi XII DPR bersama pemerintah dan PT Pertamina (Persero) berkomitmen untuk terus mengintensifkan mitigasi serta pemantauan berkala terhadap kondisi pasar energi global.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ketum PB Mathla’ul Anwar Rayakan 1 Muharram 1448 di Nanggroe Aceh Darussalam
• 12 jam lalujpnn.com
thumb
Mentan Perketat Evaluasi Penyedia Benih Perkebunan, Pelanggar Terancam Blacklist dan Proses Hukum
• 3 jam lalupantau.com
thumb
Gempa M 6,7 Guncang Sigi, 800 Rumah Rusak dan Satu Warga Tewas
• 10 jam lalukompas.id
thumb
Senat Universitas Riau Tetapkan Bakal Calon Rektor UNRI Periode 2026–2030
• 16 menit lalubisnis.com
thumb
Pertemuan Wapres Gibran dan Demonstran, Dialog Otentik atau Gimik Politik?
• 23 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.