DPRD Kritik Minimnya Penambahan Lahan Makam, Padahal Pemprov DKI Gencar Bangun Taman

kompas.com
5 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PKS, Nabilah Aboe Bakar, mengkritik minimnya penambahan lahan pemakaman di Jakarta.

Menurut dia, kondisi itu berbanding terbalik dengan pembangunan taman yang terus dilakukan secara masif oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

Kritik itu disampaikan Nabilah dalam rapat pembahasan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) di Gedung DPRD DKI Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Menurut Nabilah, pembangunan taman di Jakarta terlihat masif, tetapi tidak diimbangi dengan upaya penambahan area pemakaman yang semakin dibutuhkan masyarakat.

"Saya ingin mendengar evaluasinya terhadap pemakaman. Apakah ada pengadaan taman makam baru di 2025 selain di Srengseng Sawah? Tadi saya baca hanya satu, yaitu di Srengseng Sawah. Dan kenapa hanya satu? Sedangkan pembangunan taman itu luar biasa banyak," kata Nabilah, Rabu.

Baca juga: Bukan Sekadar Taman, RTH Jakarta Jadi Alat Kendali Banjir dan Ruang Hidup

Ia menilai persoalan keterbatasan lahan makam harus menjadi perhatian serius Pemprov DKI.

Sebab, kebutuhan lahan pemakaman terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk Jakarta.

DPRD sebelumnya juga telah menyoroti terbatasnya kapasitas lahan makam di ibu kota dan mendorong pemerintah daerah mencari solusi jangka panjang.

Nabilah mengatakan, masyarakat memang membutuhkan ruang terbuka hijau dan taman sebagai tempat rekreasi.

Namun, kebutuhan pemakaman juga tidak bisa diabaikan.

"Ketika masyarakat DKI Jakarta meninggal dunia, itu menjadi masalah baru karena kita semua kehabisan tempat untuk pemakaman," ujarnya.

Selain menyoroti keterbatasan lahan makam milik pemerintah, Nabilah juga meminta Pemprov DKI memberi perhatian terhadap pemakaman wakaf yang banyak dimanfaatkan warga ketika tempat pemakaman umum (TPU) sudah penuh.

Menurut dia, sejumlah pengelola tanah wakaf mengaku kesulitan mengembangkan dan merawat lahan pemakaman.

Di sisi lain, biaya pemakaman di lahan wakaf dinilai cukup membebani masyarakat.

"Masyarakat merasa ini kok mahal sekali. Kalau pemakaman yang dinas penuh, pasti masyarakat akan mencari pemakaman wakaf atau pemakaman swasta," kata dia.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Baca juga: Komdigi Ajak Anak Lepas Sejenak dari Gawai Lewat Permainan di Taman Bendera Pusaka


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Vdieo: Emas Perhiasan Vs Logam Mulia,Mana Yang Paling Dicari Warga RI?
• 20 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Child-free yang berubah pikiran: Masih Bisakah Punya Keturunan?
• 32 menit lalucumicumi.com
thumb
Lalu Lintas Depan Kampus UKI Cawang Sempat Macet Usai Mahasiswa Demo Sambil Bakar Ban
• 32 menit lalukompas.com
thumb
Target Setoran 2026 Capai Rp2.357 T, DJP Incar Wajib Pajak Dormant
• 2 jam lalubisnis.com
thumb
Mendikdasmen: Sekolah Terintegrasi untuk Siswa Berkemampuan Akademik Tinggi
• 2 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.