Guru Besar Lemdiklat Polri Prof Hermawan Sulistyo berharap meningkatnya jumlah lulusan doktor di lingkungan Polri dapat berdampak pada cara pandang dan pendekatan personel dalam menjalankan tugas, termasuk saat menangani aksi demonstrasi.
Hal itu disampaikan Kikie, sapaan Hermawan, dalam rangkaian Dies Natalis ke-80 STIK Lemdiklat Polri di Jakarta, Rabu (17/6).
Menurut Hermawan, jumlah perwira Polri yang menyandang gelar doktor terus bertambah. Ia menyebut seluruh doktor yang lulus dari program tersebut merupakan lulusan yang melalui proses akademik secara penuh.
“Jumlah seluruh S3 di Polri itu sekitar 200 doktor. Doktornya nggak ada yang odong-odong. Doktornya beneran,” kata Hermawan.
Ia mengatakan STIK bersama jajaran pengajar tengah merancang publikasi seluruh disertasi doktor agar dapat dinilai publik.
“Jadi saya dengan Pak Ketua ini sedang merancang untuk menerbitkan semua disertasi doktor itu supaya bisa dinilai publik,” ujarnya.
Hermawan menekankan, pendidikan tinggi seharusnya membuat seorang perwira semakin peka terhadap masyarakat. Menurut dia, peningkatan kapasitas akademik harus berjalan seiring dengan tumbuhnya empati dalam pelaksanaan tugas kepolisian.
“Makin cerdas, makin tinggi, makin pinter, makin ada empati untuk publik. Sehingga nggak lagi kalau doktor terus mimpin penanganan demo di jalan gebuki, nyuruh gebuki mahasiswa segala macam itu, nggak ada lagi seperti itu,” tutur Hermawan.
Pada kesempatan yang sama, Ketua STIK Lemdiklat Polri Irjen Pol Eko Rudi Sudarto mengatakan lembaganya terus berupaya membentuk personel yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki etika dan kepekaan sosial.
Menurut Eko, terdapat tiga aspek utama yang ditanamkan dalam pendidikan di STIK, yakni etika, logika, dan rasa.
“Ternyata kalau hasil didik STIK itu masih quote and quote banyak tadi deviasi. Ada tiga hal yang dididik di sini: etika, logika, dan rasa. Logikanya mungkin cerdas, emosionalnya bagus, tetapi rasanya nanti kalau di luar masih ada pelanggaran, nah itu lembaga pendidikan menjadi salah satu lembaga yang bertanggung jawab terhadap modal tadi,” kata Eko.





