Bursa Efek Indonesia (BEI) akan kedatangan emiten baru dari industri permen dan jeli yakni PT Niramas Utama Tbk (JELI). Perusahaan dengan merek dagang Inaco itu yang akan segera mencatatkan sahamnya melalui initial public offering (IPO) 7 Juli 2026 mendatang.
Dalam IPO ini, JELI menawarkan sebanyak-banyaknya 350 juta saham baru atau setara 25,93% dari modal ditempatkan dan disetor setelah penawaran umum. JELI menawarkan harga penawaran di rentang Rp 900 hingga Rp 1.120 per saham dengan nilai nominal Rp 100 per saham.
Melalui aksi korporasi ini, perusahaan berpotensi menghimpun dana maksimal sebesar Rp 392 miliar. Perusahaan juga telah menunjuk Sucor Sekuritas menjadi penjamin pelaksana emisi efek.
Di bisnis serupa sebelumnya juga ada PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) yang telah lebih dulu IPO pada 25 Maret 2025. YUPI menawarkan sebanyak 854,44 juta saham dalam IPO, yang terdiri dari 256,33 juta saham baru atau 3% dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO, serta 598,11 juta saham milik PT Sweets Indonesia atau 7%. Secara keseluruhan, saham yang ditawarkan setara dengan 10% dari modal ditempatkan.
Selain itu. YUPI menetapkan nilai nominal saham Rp 50 per lembar dengan harga penawaran antara Rp 2.100 hingga Rp 2.500 per saham. Total nilai emisi maksimal mencapai Rp 2,13 triliun, terdiri dari Rp 640,83 miliar dari saham baru dan Rp 1,49 triliun dari saham milik PT Sweets Indonesia.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas saat itu sempat mengatakan saham YUPI ditawarkan di kisaran harga Rp 2.100–Rp 2.500, yang mencerminkan price-to-earnings ratio (PER) 27,8x–33,1x.
Menurutnya, angka ini jauh di atas rata-rata industri sebesar 14,31x, serta price-to-book value (PBV) 4,60x–5,04x dibandingkan rata-rata industri 1,56x sehingga tergolong overvalued. Sukarno menyebut meski secara valuasi mahal YUPI memiliki rasio return on equity (ROE) yang cukup baik di kisaran 15%–17%.
Equity Research Analyst sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai secara bisnis JELI memiliki prospek positif karena kekuatan merek Inaco yang sudah dikenal luas di pasar domestik, terutama pada segmen nata de coco, jelly, dan dessert.
Elandry mengatakan dana IPO yang sebagian besar dialokasikan untuk ekspansi kapasitas produksi berpotensi menjadi katalis pertumbuhan jangka menengah, seiring dengan tren laba bersih yang menunjukkan peningkatan menjelang penawaran umum.
Meski demikian, kata Elandry, apabila dibandingkan dengan Yupi Indo Jelly Gum (YUPI), ia menilai YUPI masih lebih unggul dari sisi skala usaha, penetrasi pasar, diversifikasi produk, serta ekspansi internasional. Kondisi tersebut membuat YUPI dinilai lebih pantas memperoleh premium valuation dibanding emiten sejenis di sektor yang sama.
Dari sisi valuasi, JELI pada harga IPO tertinggi diperdagangkan di kisaran PER 9,6x dan PBV 2,8x, yang menurutnya masih tergolong menarik.
“Sehingga secara valuasi masih tergolong cukup menarik dan belum terlihat terlalu mahal,” kata Elandry kepada Katadata.co.id, Rabu (17/6).
Selain itu Elandry juga menilai prospek harga saham JELI berpeluang mendapat respons positif pada awal perdagangan. Hal ini didukung oleh kekuatan brand yang sudah dikenal luas di masyarakat dan valuasi yang masih cukup wajar.
Namun demikian, ia menyebut untuk jangka menengah, pergerakan saham akan sangat bergantung pada kemampuan emiten dalam menjaga pertumbuhan penjualan serta mengeksekusi rencana ekspansi pasca IPO secara konsisten. Meski begitu, apabila dibandingkan dengan YUPI, ia menilai YUPI masih lebih unggul dari sisi kualitas bisnis dan prospek pertumbuhan.
“Sedangkan daya tarik utama JELI berada pada valuasi yang relatif lebih murah serta potensi pertumbuhan pasca ekspansi,” tambah Elandry.
Di samping itu Ajaib Research Team menetapkan not rated untuk saham JELI. Ajaib Sekuritas menilai, valuasi IPO JELI tergolong premium dengan kisaran PER 31x–38x, yang dinilai cukup mahal jika dibandingkan dengan tren penurunan pendapatan perusahaan.
Sebagai perbandingan, saham emiten sejenis diperdagangkan pada level yang lebih rendah, seperti PT Mayora Indah Tbk (MYOR) di sekitar 12x PER, PT FKS Food Sejahtera Tbk (AISA) sekitar 14x PER, dan PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) sekitar 16x PER. Meski begitu, Ajaib menilai perbedaan valuasi tersebut juga dipengaruhi oleh perbedaan segmen dan positioning bisnis masing-masing perusahaan.
Kemudian Ajaib juga menyoroti risiko utama berupa kombinasi valuasi tinggi dan penurunan penjualan, yang membuat prospek pertumbuhan jangka panjang JELI belum sepenuhnya terbentuk.
“Namun, alokasi dana hasil IPO untuk perluasan kapasitas dan peningkatan operasional berpotensi menjadi katalisator pertumbuhan, dengan kapasitas produksi yang lebih tinggi diharapkan dapat mendukung pertumbuhan penjualan di masa depan dan meningkatkan prospek laba,” tulis Ajaib Sekuritas dalam analisisnya, dikutip Jumat (17/6).
Rencana JELI Usai IPOAdapun Dana hasil IPO akan digunakan untuk mendukung ekspansi bisnis dan memperkuat struktur keuangan Perseroan. Porsi terbesar, sekitar 51,04%, akan dialokasikan sebagai penyertaan modal kepada anak usaha, PT NPS, yang selanjutnya digunakan untuk belanja modal berupa pembelian dan instalasi mesin produksi serta peralatan pendukung.
Langkah ini untuk meningkatkan kapasitas produksi gummy candy dan produk jelly guna memenuhi pertumbuhan permintaan di pasar domestik maupun ekspor. Selain itu, sekitar 18,36% dana IPO akan digunakan langsung oleh JELI untuk belanja modal.
Termasuk pembelian mesin, peralatan, dan perlengkapan yang mendukung peningkatan kapasitas penyimpanan gudang serta efisiensi proses logistik. Investasi ini diharapkan dapat memperkuat operasional dan distribusi produk perusahaan. Sementara itu, sekitar 10,63% dana akan digunakan untuk membayar sebagian pinjaman jangka pendek kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, sehingga saldo pinjaman Perseroan dapat ditekan dari Rp 94 miliar menjadi Rp 54 miliar.
Adapun sisa dana sekitar 19,97% akan digunakan sebagai modal kerja untuk mendukung kebutuhan operasional sehari-hari, termasuk pembelian bahan baku, biaya operasional, dan aktivitas pemasaran seiring dengan rencana ekspansi usaha perseroan.




