JAKARTA, KOMPAS.com - Bonus demografi yang diperkirakan menjadi modal besar menuju Indonesia Emas 2045 tidak otomatis akan berubah menjadi keuntungan bagi bangsa.
Di balik optimisme tersebut, masih terdapat berbagai persoalan mendasar yang membayangi kualitas pendidikan nasional.
Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji menilai, sistem pendidikan Indonesia saat ini belum cukup siap untuk menjamin bonus demografi menjadi berkah.
Menurut dia, tanpa pembenahan yang serius, bonus demografi justru berpotensi berubah menjadi beban demografi berupa ledakan pengangguran usia produktif.
“Sistem pendidikan kita saat ini belum cukup siap untuk menggaransi bonus demografi otomatis menjadi berkah,” kata Ubaid kepada Kompas.com, Rabu (17/6/2026).
Baca juga: Prabowo: RI Jadi Negara Ekonomi Terbesar Ke-4 di 2045 Jika Kita Pandai
“Ada risiko nyata bahwa bonus ini justru bergeser menjadi beban demografi jika tidak ada langkah perbaikan yang radikal,” ucapnya.
Tidak cukup mengejar angkaUbaid menilai, selama ini pemerintah masih terlalu fokus pada capaian-capaian administratif dan indikator kuantitatif, seperti Angka Partisipasi Kasar (APK) maupun jumlah lulusan.
Padahal, menurut dia, tantangan menuju Indonesia Emas 2045 tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak anak yang bersekolah, tetapi juga sejauh mana sekolah mampu menghasilkan talenta yang berkualitas.
Karena itu, kebijakan wajib belajar 14 tahun yang tengah didorong pemerintah dinilai tidak akan memberi dampak signifikan apabila proses pembelajaran di ruang kelas tidak berlangsung secara bermakna.
“Pemerintah selama ini cenderung terjebak pada kejar tayang pemenuhan indikator administratif dan kuantitatif. Menitikberatkan pembangunan pada kualitas talenta jauh lebih mendesak. Wajib belajar 14 tahun tidak akan berdampak besar jika anak-anak di dalam kelas tidak mengalami proses belajar yang bermakna,” ujarnya.
Baca juga: Mendagri Tito Ajak PIKI Ambil Peran Strategis Wujudkan Indonesia Emas 2045
Dengan kondisi yang ada saat ini, Ubaid menilai tingkat kesiapan pendidikan nasional masih berada pada level yang mengkhawatirkan.
Menurut dia, terdapat kesenjangan yang terlalu lebar untuk mewujudkan visi besar Indonesia Emas 2045 secara merata.
“Jika jujur mengukur kesiapan dengan parameter saat ini, tingkat kesiapan kita masih berada di level mengkhawatirkan. Ada disparitas yang terlalu lebar untuk mewujudkan visi yang homogen bernama Indonesia Emas,” katanya.
Kesenjangan mutu masih lebarSalah satu persoalan yang dinilai paling mendasar adalah kesenjangan mutu pendidikan antarwilayah. Ubaid menyoroti masih lebarnya perbedaan kualitas pendidikan antara kota-kota besar di Pulau Jawa dengan daerah-daerah lain yang lebih terpencil.
Menurut dia, Indonesia Emas tidak akan terwujud apabila kualitas pendidikan yang baik hanya dinikmati sebagian kecil anak di daerah maju, sementara anak-anak di wilayah lain masih berhadapan dengan keterbatasan sarana dan tenaga pendidik.





