Pasar saham Tanah Air tengah tegang menanti keputusan MSCI terkait posisi bursa RI yang akan diumumkan dalam waktu dekat. Analis pun memproyeksikan ada empat skenario menjelang pengumuman rebalancing MSCI yang dinanti pelaku pasar global.
Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, Fath Aliansyah Budiman, menjelaskan ada empat skenario yang dapat terjadi terkait keputusan MSCI terhadap Indonesia. Salah satu skenarionya yakni perpanjangan interim freeze yang kemudian diikuti konsultasi mengenai potensi downgrade ke pasar frontier.
Sementara itu, tiga skenario lainnya tetap menempatkan Indonesia pada status emerging market, baik melalui perpanjangan freeze, penerapan secara parsial, maupun penghentian kebijakan tersebut. Fath menilai, berbagai skenario ini mencerminkan masih dinamisnya arah kebijakan MSCI menjelang keputusan final yang menjadi perhatian pelaku pasar global.
“Ingat ya, kalau misalnya di-downgrade ke pasar frontier itu, itu bukan langsung di-downgrade ya, tapi ada konsultasi terlebih dahulu dan memakan waktu yang cukup lama,” ucap Fath dalam YouTube Maybank Sekuritas bertajuk “Ini 4 Skenario MSCI yang Harus Diperhatikan Investor”, dikutip Rabu (17/6).
Sumber: YouTube Maybank Sekuritas bertajuk “Ini 4 Skenario MSCI yang Harus Diperhatikan Investor.
Fath menjelaskan skenario downgrade ke pasar frontier tidak akan langsung di downgrade. Ia menilai, meski kemungkinan skenario tersebut tetap ada, probabilitasnya saat ini relatif kecil jika melihat kondisi pasar.
Sementara itu, ia menyebut skenario kedua sebagai yang paling mungkin terjadi, yakni perpanjangan interim freeze dengan Indonesia tetap bertahan di status emerging market. Menurutnya, skenario ini memiliki peluang terbesar untuk terjadi dalam kondisi saat ini.
Fath juga menambahkan, jika skenario tersebut terwujud, saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chips berpotensi menjadi pihak yang paling diuntungkan di pasar.
“Dan mereka yang memang memiliki story atau fundamental yang cukup kuat nih, jadi dia akan lebih bergerak anomali nih terhadap pergerakan pasar secara keseluruhan,” ucap Fath.
Selain itu pada skenario ketiga, Fath menjelaskan terdapat kemungkinan interim freeze dijalankan secara parsial. Ia menilai skenario ini paling sulit diprediksi karena sangat bergantung pada implementasi kebijakan MSCI.
Dalam kondisi tersebut, MSCI tetap mempertahankan interim freeze, namun memberikan sejumlah kelonggaran terbatas. Misalnya, tidak ada penambahan saham maupun peningkatan bobot atau upgrade tertentu, tetapi beberapa penyesuaian data, seperti dari fase 1% ke tahap C, dan dapat mulai diterapkan secara bertahap.
Ia menambahkan hal-hal yang belum sepenuhnya selesai dalam proses review kemungkinan masih akan ditunda. Sementara bagian yang sudah memungkinkan tetap dijalankan secara parsial sesuai kebijakan yang ada.
“Dan kalau kita lihat di skenario yang ketiga ini, ekspektasinya status Indonesia tetap berada di emerging market,” ucap Fath.
Fath menyampaikan bahwa pada skenario ketiga, apabila implementasi tersebut benar dijalankan, maka hampir seluruh saham berpotensi diuntungkan, kecuali beberapa saham yang masuk kategori tertentu sesuai catatan MSCI. Ia menyebut salah satu ketidakpastian utama tetap berasal dari komentar MSCI terkait interim freeze dan status Indonesia.
Sementara itu, ia menilai skenario keempat, meski dengan probabilitas kecil, tetapi tetap mungkin terjadi, yaitu ketika interim freeze dihentikan dan status Indonesia tetap berada di emerging market. Dalam kondisi ini, menurutnya, pasar secara umum berpeluang mendapat sentimen positif.
Fath menjelaskan berdasarkan perkiraan saat ini, skenario dengan probabilitas terbesar adalah skenario kedua, disusul skenario ketiga. Ia menyebut dua skenario tersebut sebagai yang paling mungkin terjadi ke depan.
Selain itu, ia juga menyoroti potensi tambahan dari sisi global, yakni kemungkinan Korea Selatan masuk watchlist untuk upgrade ke developed market. Namun, ia menegaskan jika hal tersebut terjadi, proses upgrade kemungkinan baru akan terealisasi pada tahun berikutnya, bukan tahun ini.
“Jadi kemungkinan besar flow yang akan datang dulu itu dari reactive fund, baru nanti pasif fund-nya ketika efektif. Nah ini kalau sampai terjadi harusnya menguntungkan negara-negara yang berada di emerging market seperti Indonesia,” ucap Fath.
Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diperkirakan akan mengalami tekanan jual menyusul pengumuman MSCI akhir bulan ini. Apalagi lembaga penyedia indeks global itu akan mengumumkan hasil dua peninjauan, yakni Global Market Accessibility Review pada tanggal 19 Juni dan Maket Classification pada 23 Juni.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, menilai tekanan jual kemungkinan dilakukan oleh investor passive fund yang mengacu pada konstituen dalam indeks MSCI.
"Mungkin yang dimaksud yang passive fund ya, yang selama ini mengacu kepada MSCI," ungkap Hasan kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (17/6).




