Bisnis.com, JAKARTA — Pembukaan kembali Selat Hormuz mulai 19 Juni 2026 diperkirakan menjadi sentimen positif bagi sektor manufaktur nasional setelah beberapa bulan dibayangi lonjakan harga energi dan terganggunya rantai pasok global. Namun, normalisasi jalur perdagangan tersebut belum otomatis mengembalikan kinerja manufaktur dalam waktu singkat.
Tidak dipungkiri, aktivitas manufaktur terutama sektor yang bergantung pada energi dan bahan baku impor sangat terdampak ketika jalur perdagangan Selat Hormuz ditutup. Sebelum konflik, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi Selat Hormuz.
Gangguan pada jalur pelayaran strategis tersebut sempat mendorong kenaikan harga minyak, ongkos logistik, hingga premi asuransi pengiriman yang pada akhirnya meningkatkan biaya produksi industri.
Dengan dibukanya kembali jalur tersebut, harga minyak dunia mulai terkoreksi sehingga biaya impor energi maupun transportasi diperkirakan ikut menurun. Namun, transmisi ke sektor riil menurut Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet, akan berlangsung bertahap karena penyesuaian tarif pengiriman, harga bahan baku antara, hingga kontrak pembelian membutuhkan waktu.
"Manfaat terbesar kemungkinan baru akan lebih terasa pada kuartal III/2026 ketika rantai logistik global mulai kembali stabil," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (17/6/2026).
Adapun sektor yang paling diuntungkan dengan dibukanya Selat Hormuz adalah industri dengan struktur biaya yang didominasi energi dan bahan baku impor, seperti petrokimia, plastik, tekstil, baja, keramik, dan kaca. Penurunan harga energi memberi ruang bagi perusahaan untuk meningkatkan utilisasi pabrik sekaligus memperbaiki efisiensi operasional.
Baca Juga
- Katua Kadin: Industri Butuh 30-60 Hari untuk Pulih Usai Selat Hormuz Dibuka
- Menanti Pemulihan Urat Nadi Logistik Dunia Usai Selat Hormuz Terbuka
- Ramalan Fitch Soal Harga Minyak jika Selat Hormuz Dibuka
Kendati demikian, Yusuf mengingatkan bahwa keputusan perusahaan untuk meningkatkan produksi maupun melakukan ekspansi investasi tetap ditentukan oleh prospek permintaan. Selama beberapa bulan terakhir, aktivitas manufaktur lebih banyak ditopang oleh membaiknya permintaan domestik dibandingkan faktor eksternal.
"Stabilitas biaya memang penting, tetapi faktor penentu utama tetap berada pada kekuatan pasar. Pelaku usaha juga masih mencermati perkembangan geopolitik, arah suku bunga global, dan kondisi perdagangan internasional," katanya.
Recovery Tidak SingkatKetua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan, pemulihan industri tetap membutuhkan waktu karena implementasi kesepakatan geopolitik masih harus diterjemahkan ke dalam kondisi riil di lapangan. Dia memperkirakan proses normalisasi dapat berlangsung dalam 30 hingga 60 hari ke depan.
"Kita lihat, mungkin dalam waktu 30-60 hari ini sudah bisa kembali senormal mungkin. Kita lihat hasilnya," ujarnya kepada Bisnis di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Anin menyampaikan, pembukaan jalur pelayaran strategis tersebut diharapkan mampu mengurangi gangguan rantai pasok global yang selama konflik, menyebabkan kenaikan harga bahan baku serta kelangkaan sejumlah komoditas.
Menurutnya, membaiknya arus logistik internasional akan menjadi katalis positif bagi aktivitas manufaktur, meski dampaknya tidak akan dirasakan secara instan. "Dengan sumbatan ini sudah mulai dibuka lebih sedikit, kita berharap ekonomi bisa kembali lebih baik lagi, tapi tidak akan se-normal seolah-olah belum ada perang," sebut Anin.
Di sisi lain, dia mengingatkan bahwa momentum pemulihan tersebut perlu diimbangi dengan penguatan daya tahan ekonomi domestik. Menurutnya, Indonesia tidak dapat sepenuhnya bergantung pada membaiknya kondisi global mengingat sekitar 50% hingga 55% pertumbuhan ekonomi masih ditopang oleh konsumsi domestik.
Oleh karena itu, Kadin mendorong pemerintah memperkuat konsumsi rumah tangga, perdagangan, dan investasi agar pemulihan industri memiliki fondasi yang lebih kuat. Selain itu, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga harus menjadi bagian dari proses pemulihan karena secara agregat memiliki kontribusi investasi yang besar terhadap perekonomian nasional.
Lebih lanjut, Anin menuturkan, momentum pascapembukaan Selat Hormuz perlu dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan industri nasional menghadapi potensi disrupsi global di masa mendatang.
Dia berpendapat, Indonesia perlu mempercepat kemandirian di sektor pangan, energi, dan sumber daya strategis lainnya agar dampak gejolak geopolitik dapat diminimalkan. Anin juga meminta pemerintah memberikan perhatian kepada sektor-sektor padat karya seperti tekstil, garmen, alas kaki, elektronik, dan pertanian, sekaligus menjaga iklim investasi bagi industri padat modal agar ekspansi usaha dapat terus berlanjut.
“Itu kita mesti proteksi supaya, investasinya masuk. Jadi, padat modal, tapi juga padat karya itu penting sekali ditingkatkan,” tambahnya.
Selat Hormuz
Industri Pantau HargaSekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Farhan Aqil Syauqi menyampaikan, industri tekstil menyambut positif meredanya konflik di Timur Tengah.
"Iya bagus kalau memang ada gencatan senjata. Semoga hasil ini sifatnya permanen dan tidak ada eskalasi lagi," harapnya.
Meski demikian, dia mengatakan harga bahan baku tekstil hingga kini masih bergerak fluktuatif karena sebagian besar industri masih menggunakan persediaan yang dibeli saat harga minyak berada pada level tinggi.
Menurutnya, penurunan harga bahan baku baru akan terjadi setelah harga petrokimia menyesuaikan pelemahan harga minyak dunia.
"Kalau bahan baku petrokimianya turun karena dampak turunnya harga minyak, pasti akan di-adjust juga harganya," kata Aqil.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono menyampaikan, industri plastik nasional kini tidak lagi terlalu bergantung pada pasokan bahan baku dari Timur Tengah karena telah melakukan diversifikasi sumber impor sejak konflik terjadi. Akan tetapi, pembukaan Selat Hormuz tetap diperkirakan mempercepat penurunan harga bahan baku karena pasokan energi global kembali meningkat.
"Sekarang memang trennya turun karena harga energi lagi turun dan nanti kalau Selat Hormuz dibuka, pasokannya lebih banyak, akan mempercepat penurunan tadi," tuturnya kepada Bisnis.
Selain faktor tersebut, Fajar menilai pelemahan harga juga dipengaruhi kondisi pasar China yang tengah mengalami keterbatasan bahan baku sehingga mengurangi ekspor produk petrokimia ke pasar global.
Di pasar domestik, permintaan produk plastik disebut masih cukup baik. Namun, sejumlah produsen memilih menurunkan utilisasi sementara waktu, untuk menghabiskan stok lama yang dibeli pada harga tinggi sebelum membeli bahan baku dengan harga baru yang lebih murah.
Menurutnya, harga bahan baku telah turun sekitar Rp4.000 per kilogram dalam beberapa pekan terakhir. Harga resin juga diperkirakan turun mendekati US$1.100 per metrik ton atau semakin dekat dengan level sebelum konflik.
"Artinya harga barang plastik lebih murah lagi dan makin dekat ke harga normal," katanya.
Meski prospek biaya produksi membaik, Fajar mengingatkan industri masih menghadapi tantangan lain, terutama ketersediaan feedstock dan keandalan pasokan listrik. Pemadaman listrik yang lebih sering terjadi di sejumlah kawasan industri, khususnya di Jawa Timur, disebut telah menekan utilisasi pabrik karena proses produksi membutuhkan waktu berjam-jam hingga beberapa hari untuk kembali normal.
Dia berharap penurunan harga energi juga diikuti perbaikan keandalan pasokan listrik sehingga utilisasi industri dapat kembali meningkat. “Dengan turunnya harga komoditi ini PLN bisa menjaga konsistensi dan stabilitas pasokan listrik,” sebutnya.
Sementara itu, untuk mempercepat pemulihan daya saing manufaktur, Inaplas mendorong pemerintah menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan melalui pengawasan impor yang lebih ketat, khususnya terhadap produk plastik jadi.
“Impor bahan baku jadi plastik jangan sampai banjir. Bahan baku juga diamankan biar supply-demand bisa memberikan napas untuk pasokan lokal. Tapi yang jelas kali ini harga lokal jauh lebih murah daripada harga impor,” tambah Fajar.
PMI Manufaktur Indonesia- Jan 2025: 51,9
- Feb 2025: 53,6
- Mar 2025: 52,4
- Apr 2025: 46,7
- Mei 2025: 47,4
- Jun 2025: 46,9
- Jul 2025: 49,2
- Agt 2025: 51,5
- Sep 2025: 50,4
- Okt 2025: 51,2
- Nov 2025: 53,5
- Des 2025: 51,2
- Jan 2026: 52,6
- Feb 2026: 53,8
- Mar 2026: 50,1
- Apr 2026: 49,1
- Mei 2026: 50,0
Sumber: S&P Global
Total Nilai Indeks Kepercayaan Industri- Mei 2025: 52,11
- Juni 2025: 51,84
- Juli 2025: 52,89
- Agustus 2025: 53,55
- September 2025: 53,02
- Oktober 2025 53,50
- November 2025: 53,45
- Desember 2025: 51,90
- Januari 2026: 54,62
- Februari 2026: 54,02
- Maret 2026: 51,86
- April 2026: 51,75
- Mei 2026: 53,56
Sumber: Kemenperin





