Jakarta: MIND ID mencatat keberhasilan dalam menekan volume limbah padat bahan berbahaya dan beracun (B3) hingga 38 persen dalam dua tahun terakhir. Capaian tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam memperkuat praktik pertambangan berkelanjutan dan mengurangi dampak lingkungan.
Berdasarkan data perusahaan, volume limbah padat B3 yang mencapai 351 kiloton pada 2023 berhasil ditekan menjadi 279 kiloton pada 2024, lalu kembali turun menjadi 217 kiloton pada 2025. Penurunan juga terjadi pada limbah padat non-B3, dari 1.082 kiloton menjadi 956 kiloton pada periode yang sama.
"Baik limbah B3 maupun limbah non-B3 terus menurun karena operasi dilakukan secara lebih efisien," ungkap Division Head of Sustainability MIND ID Binahidra Logiardi dikutip dari keterangan tertulis, Rabu, 17 Juni 2026.
Melalui kerangka strategi Sustainability Pathway, MIND ID memastikan pengelolaan sisa hasil produksi komoditas masa depan seperti nikel, tembaga, dan bauksit dilakukan secara bertanggung jawab.
Strategi tersebut menjadi bagian dari langkah perusahaan dalam meminimalkan limbah, menjaga kelestarian lingkungan, serta memitigasi risiko operasional di masa mendatang.
Menurut Binahidra, pengelolaan limbah kini tidak lagi dipandang sebatas kewajiban kepatuhan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi penciptaan nilai perusahaan.
"Sustainability Pathway bukan sekadar alat pelaporan, tetapi instrumen untuk mengelola dampak, memitigasi risiko, dan menciptakan nilai tambah jangka panjang yang bermanfaat bagi perusahaan, lingkungan, serta masyarakat," tegas dia.
Baca juga: Terapkan Teknologi Bersih, Percepat Ekonomi Sirkular
(Pemanfaatan limbah tambang. Foto: dok MIND ID)
Limbah tambang dimanfaatkan ulang untuk infrastruktur
MIND ID mengelola limbah tambang secara mandiri maupun melalui kerja sama dengan pihak ketiga yang memiliki izin resmi. Hasil pengolahan limbah kemudian dimanfaatkan kembali untuk mendukung operasional tambang serta pembangunan infrastruktur masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Salah satu implementasi dilakukan oleh PT Aneka Tambang Tbk melalui Unit Bisnis Pertambangan Nikel Kolaka yang memanfaatkan slag feronikel menjadi batako dan paving block.
Material slag tersebut diolah melalui proses pencampuran dengan semen dan air sebelum dicetak dan dikeringkan. Produksi material konstruksi dari slag itu mencapai sekitar 5.000 ton per tahun.
PT Freeport Indonesia juga memanfaatkan tailing sebagai material agregat campuran paste backfill untuk operasional tambang bawah tanah dengan kapasitas sekitar 1.500 kiloton per tahun.
Sementara itu, PT Vale Indonesia Tbk memanfaatkan slag nikel untuk pembangunan jalan, infrastruktur tambang, dan stabilisasi lahan dengan volume pemanfaatan mencapai 5.300 kiloton per tahun.
Langkah tersebut memperlihatkan upaya grup MIND ID dalam mengoptimalkan limbah hasil tambang agar memiliki nilai tambah sekaligus mendukung keberlanjutan operasional.




