Bisnis.com, JAKARTA — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berpotensi menguat secara terbatas pada perdagangan hari ini, Kamis (18/6/2026).
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta memproyeksikan level support IHSG berada di area 6.178 dan 6.058, sedangkan level resistance berada di 6.287 dan 6.516.
Sentimen eksternal berasal dari perhatian pasar global tertuju pada hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terkait kebijakan suku bunga acuan Amerika Serikat.
Di bawah kepemimpinan Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh, FOMC memutuskan mempertahankan Fed Funds Rate di level 3,75%.
"Meski suku bunga tidak berubah, proyeksi terbaru menunjukkan median Fed Funds Rate untuk 2026 naik menjadi 3,8% dari sebelumnya 3,4% pada proyeksi Maret 2026," ujarnya dalam riset tertulis, Kamis (18/6/2026).
Kenaikan tersebut mengindikasikan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember 2026, sehingga arah kebijakan The Fed masih dipandang cenderung hawkish oleh pelaku pasar.
Di sisi geopolitik, harapan tercapainya perdamaian di Timur Tengah mengalami sedikit hambatan setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa Washington dapat melanjutkan serangan terhadap Iran apabila Teheran tidak mematuhi kesepakatan yang telah dirancang.
Meski demikian, Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan membuka jalur diplomasi baru di Swiss pada 19 Juni 2026 guna menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) sebagai bagian dari proses perdamaian.
Selain itu, pasar juga menantikan pengumuman dari MSCI terkait status pasar modal Indonesia. Probabilitas penurunan status dari Emerging Market menjadi Frontier Market dinilai masih relatif kecil.
Jika kebijakan pembekuan sementara terhadap sejumlah saham dicabut, bobot saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) dalam indeks MSCI berpotensi meningkat dan mendorong masuknya aliran dana asing (capital inflow) ke pasar domestik.
Dari dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Berdasarkan konsensus pasar, BI diperkirakan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Ekspektasi tersebut muncul di tengah tekanan yang masih dialami mata uang Garuda. Rupiah tercatat melemah sekitar 0,21% ke level Rp17.762 per dolar AS.
Mirae Asset merekomendasikan investor untuk tetap fokus pada saham-saham berfundamental kuat, bervaluasi murah, serta emiten yang mulai menunjukkan indikasi pembalikan tren.
Di tengah tingginya ketidakpastian global, disiplin dalam penerapan manajemen risiko dinilai tetap menjadi kunci utama dalam strategi investasi.





