Kemudahan transaksi digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard alias QRIS, dompet digital, dan berbagai layanan pembayaran cashless membuat aktivitas belanja semakin praktis. Namun di balik kemudahan tersebut, masyarakat perlu waspada karena pengeluaran sering kali menjadi lebih sulit dikendalikan.
Certified Financial Planner sekaligus Founder Finansialku Melvin Mumpuni mengatakan, transaksi digital menghilangkan berbagai hambatan atau friction yang dulu ada saat masyarakat masih banyak menggunakan uang tunai.
Menurut dia, pada era transaksi tunai, seseorang harus pergi ke ATM, mengambil uang, hingga mendatangi toko untuk berbelanja. Proses tersebut secara tidak langsung membuat orang lebih mempertimbangkan pengeluarannya.
"Ketika semuanya ada di handphone kita, mau beli makanan, mau belanja apa pun tinggal pencet. Tidak ada lagi friksi. Semuanya jadi seamless dan gampang untuk transaksi," kata Melvin dalam acara diskusi OVOFinTalk bersama Finansialku di Jakarta, Rabu (17/6).
Ia menilai kondisi tersebut membuat masyarakat lebih mudah mengeluarkan uang tanpa banyak berpikir. Apalagi, berbagai platform digital juga terus menawarkan promo dan diskon yang mendorong konsumen berbelanja lebih banyak dari kebutuhan sebenarnya.
"Kadang-kadang kita menambah belanjaan hanya karena ingin mendapat potongan yang lebih besar. Ketika dijumlahkan, ternyata tambahan-tambahan kecil itu justru yang membuat pengeluaran membengkak," katanya.
Selain promo, fenomena fear of missing out (FOMO) atau rasa takut ketinggalan tren juga menjadi faktor yang memengaruhi perilaku konsumtif. Melvin mencontohkan, banyak orang membeli barang baru karena melihat teman atau lingkungan sekitarnya melakukan hal yang sama.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukanlah pengeluaran besar yang biasanya mudah disadari, tetapi transaksi-transaksi kecil yang dilakukan berulang kali melalui QRIS atau dompet digital.
"PR-nya bukan pengeluaran besar. Pengeluaran besar pasti kita alert. Justru pengeluaran kecil yang sering tidak kita sadari jalan terus," ujarnya.
Untuk mengendalikan keuangan di era digital, Melvin memperkenalkan formula 3A yakni Atur, Awasi, dan Aman.
Pertama, atur, yaitu dengan membuat batasan atau pos anggaran yang jelas untuk setiap kebutuhan, termasuk belanja harian dan jajan. Ia menyarankan masyarakat menerapkan konsep amplop digital dengan menetapkan limit pengeluaran sebelum melakukan top up dompet digital.
"Kalau tidak punya limit untuk pos belanja, akhirnya top up lagi, belanja lagi, top up lagi. Itu sudah mulai tidak mindful," kata Melvin.
Kedua, awasi, yakni rutin memeriksa riwayat transaksi digital. Dengan mengecek histori pengeluaran, seseorang dapat mengetahui pola belanja yang mulai berlebihan dan melakukan evaluasi lebih cepat.
"Kebiasaan mengecek histori transaksi bisa merefleksikan apakah kebiasaan kita masih sehat atau tidak," ujarnya.
Ketiga, aman yaitu menjaga keamanan transaksi digital dengan lebih berhati-hati terhadap tautan mencurigakan, pesan penipuan, hingga penyalahgunaan data pribadi yang semakin marak terjadi.
Utamakan Mindful Spending
Melvin menekankan, pentingnya menerapkan konsep mindful spending atau belanja secara sadar di tengah kondisi ekonomi yang membuat harga berbagai kebutuhan terus meningkat.
Menurut dia, mindful spending bukan berarti hanya membeli kebutuhan dan menghindari keinginan. Namun, setiap keputusan mengeluarkan uang harus dilakukan dengan kesadaran penuh dan memahami konsekuensinya terhadap kondisi keuangan.
"Kamu mau beli kebutuhan boleh, keinginan juga boleh. Yang penting benar-benar sadar bahwa kamu akan mengeluarkan uang dan sudah mempertimbangkan konsekuensinya," kata Melvin.
Menurut dia, masyarakat juga perlu mengubah pola pikir lama soal menabung. Jika selama ini banyak orang terbiasa menyisihkan tabungan dari sisa uang belanja, Melvin justru menyarankan untuk menabung atau berinvestasi terlebih dahulu saat menerima penghasilan.
"Begitu punya uang, tabung dulu atau investasikan dulu, sisanya baru dibelanjakan. Karena masalahnya bukan di persentase, tapi di prioritasnya," ujarnya.
Dengan disiplin mengatur anggaran, memantau pengeluaran, dan membiasakan diri berbelanja secara sadar, masyarakat dinilai dapat tetap menikmati kemudahan transaksi digital tanpa harus terjebak menjadi lebih boros.




