JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko berdebat dengan mahasiswa dalam acara diskusi bertajuk “Perlukah Reformasi Jilid 2?” di Kafe, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (17/6/2027) malam.
Mahasiswa bernama Nathaniel yang menghadiri diskusi menilai Budiman mantan aktivis 1998 sudah "menjual dirinya" sehingga tak lagi berpihak kepada rakyat.
“Hari ini yang saya tegaskan, Budiman itu bukan aktivis 98, bukan pejuang reformasi, melainkan pelacur reformasi! Karena dia bukan berbicara mengenai nilai, bukan berbicara mengenai kepentingan rakyat, tapi ia berbicara mengenai kepentingan pribadi,” kata Nathaniel.
Baca juga: Kata Budiman, Nusron, Sudaryono, dan Istana soal Ricuh Diskusi di UGM
Hal ini sempat memicu keributan. Audiens terbagi dua, satu sisi setuju dengan Nathaniel, sisi lainnya menolak keras.
Lantas Budiman kembali bertanya dasar apa yang membuat Nathaniel menyebutnya sebagai pelacur reformasi.
“Apa ukurannya pelacur?” tanya Budiman.
“Jual diri,” jawab Nathaniel.
“Apa yang saya jual?“ tanya dia lagi.
“Keberpihakan pada rakyat,” jawab Nathaniel.
“Keberpihakan pada rakyat? Oke. Pada peristiwa apa saya misalnya saya tidak berpihak pada rakyat?” tanya Budiman lagi dari atas panggung pendek.
“Ada banyak, termasuk soal kemiskinan,” tegas Nathaniel.
Baca juga: Alasan Mahasiswa Geruduk Diskusi di UGM yang Dihadiri Budiman-Sudaryono
Budiman pun menjelaskan tentang jabatannya saat ini yang akrab dengan kebijakan penuntasan kemiskinan di Indonesia.
Menurut dia, kemiskinan bukan sekadar tentang materiil.
Tapi lebih dari itu, juga tentang akses terhadap fasilitas yang layak, dan aset.
“Dulu, kemiskinan dianggap orang sekadar kurang uang. Kami merumuskan di BPTaskin, kemiskinan bukan sekadar kurang uang, kemiskinan juga adalah kurang akses dan kurang aset. Kalau sekadar kemiskinan kurang uang, penyelesaiannya pasti tidak struktural, tapi hanya karitatif,” jelas dia.