Dr. Andriyanto, S.H., M.Kes., Ahli Gizi atau Nutrisionist sekaligus Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Jawa Timur mengingatkan, gerakan minum susu nasional berpotensi bermasalah jika tanpa pendampingan pemerintah.
Ia menyebut, susu memang mempercepat proses metabolisme tubuh sekaligus dibutuhkan untuk pertumbuhan anak dan mencegah stunting.
“Susu itu makanan cair yang mudah diserap tubuh mengandung gizi yang dibutuhkan anak maupun dewasa,” katanya mengudara di Program Wawasan Radio Suara Surabaya, Kamis (18/6/2026).
“Misal anak (usia) 10 tahun butuh 2000 kalori, protein 50 gram. Jika dalam sehari (melalui) makan kurang, maka sehari minum susu 150 cc cukup,” bebernya lagi.
Meski protein hewani tidak harus dari susu, bisa terkandung dalam telur, daging, dan ikan. Namun susu dinilai lebih mudah dikonsumsi.
“Minum susu dan makan ikan sama. 1 liter susu setara 100 gram ayam, daging, atau telur. Kalau ada anak-anak yang paham bahwa sebenarnya saya butuh kalori dan protein saya kurang paling mudah itu susu,” ungkapnya.
Namun, anjuran gerakan minum susu tanpa kehadiran pemerintah untuk masyarakat miskin menurutnya cenderung membahayakan. Ketidaktahuan masyarakat memperlakukan susu, justru berpeluang muncul gangguan pencernaan.
“Ketika susu UHT dibuka di suhu ruang hanya boleh 2-4 jam. Lebih dari itu perkembangan bakteri 100 kali lebih cepat. Kalau diminum akan diare. Susu dimasukkan lemari es di bawah 4 derajat celcius pun paling lama 7 hari kalau sudah dibuka,” paparnya lagi.
Ia minta pemerintah harus hadir memantau teknis dalam gerakan itu. Misalnya seperti India, di mana susu dibagikan ke siswa sebelum masuk kelas, lalu didampingi guru untuk meminum sampai habis, baru pembelajaran dimulai.
“Susu itu bagus. Pengalaman di India menekan stunting meminum susu 100 cc per hari minimal,” tambahnya.
Terkait gerakan tersebut, ia setuju, jika diterapkan maka kelompok prioritas menurutnya adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan anak sekolah dalam masa pertumbuhan usia sebelum 18 tahun.
Di sisi lain ia mengingatkan masyarakat jika selama ini tidak terbiasa mengonsumsi susu, maka ada kemungkinan respons tubuh intoleran terhadap laktosa saat meminumnya lagi. Sehingga ia minta tidak cepat menyimpulkan itu sebagai alergi.
“Bahwa anak yang tidak biasa minum susu sampai 10-15 tahun maka akan intoleran itu karena tidak biasa, bukan karena alergi. Intoleran dan alergi berbeda. Kalau kita tidak biasa, lalu tiba-tiba disodorkan, bisa jadi diare. 1-2 mungkin diare, itu bukan berarti jelek, tapi persoalan karena tidak biasa. Paling aman yang low laktosa. Pada intinya anak dan dewasa sehat minum susu tidak masalah,” ungkapnya.
“Pada prinsipnya susu harus menyesuaikan kondisi tubuh, kalau lambung mulai enggak bagus tidak boleh minum susu, bisa diganti protein hewani lain. Tapi misalnya lansia usia 60 kemungkinan osteoporosis maka susu dianjurkan karena protein dan kalsium dibutuhkan,” tutupnya. (lta/ipg)




