Hanif Faisol Nurofiq Wamenko Bidang Pangan mendorong penguatan konsumsi susu masyarakat sebagai upaya meningkatkan kualitas gizi kesehatan dan daya saing demi menciptakan generasi Indonesia Emas 2045.
Hanif menyoroti, konsumsi susu masyarakat Indonesia rendah, berkisar 16,2 hingga 16,8 liter per kapita per tahun atau setara sekitar satu sendok susu per orang setiap hari. Angka itu masih jauh dari kebutuhan ideal untuk mendukung pertumbuhan tulang, perkembangan otak, dan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.
Susu mengandung berbagai zat gizi penting seperti protein, kalsium, kalium, vitamin A, vitamin B12 dan vitamin D yang dibutuhkan tubuh. Peningkatan konsumsi susu harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah dunia usaha akademisi dan seluruh lapisan masyarakat.
Mengenai itu, Radio Suara Surabaya melakukan polling ke pendengar dengan tajuk, “Perlu atau tidak, minum susu jadi gaya hidup masyarakat Indonesia?”. Hasilnya masyarakat menyatakan perlu minum susu menjadi gaya hidup.
Polling ini diambil dari media sosial Instagram @suarasurabayamedia dan secara langsung lewat pesan (WhatsApp) serta telepon yang masuk saat program Wawasan Polling berlangsung, sejak pukul 07.00 hingga 09.00 WIB, Kamis (18/6/2026).
Berdasar data dari pendengar Radio Suara Surabaya yang bergabung melalui telepon dan pesan WhatsApp, sebanyak 89 persen atau 85 pendengar menyatakan perlu minum susu jadi gaya hidup. Sedangkan 11 persen atau 10 pendengar, memilih tidak perlu.
Kemudian data dari Instagram @suarasurabayamedia, sebanyak 50 persen atau 167 pengguna menyatakan perlu minum susu jadi gaya hidup. Sedangkan 50 persen atau 165 pengguna, memilih tidak perlu.
Diberitakan sebelumnya, Dr. Andriyanto, S.H., M.Kes., Ahli Gizi atau Nutrisionist sekaligus Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Jawa Timur mengingatkan, gerakan minum susu nasional berpotensi bermasalah jika tanpa pendampingan pemerintah.
Ia menyebut, susu memang mempercepat proses metabolisme tubuh sekaligus dibutuhkan untuk pertumbuhan anak dan mencegah stunting.
Ia minta pemerintah harus hadir memantau teknis dalam gerakan itu. Misalnya seperti India, di mana susu dibagikan ke siswa sebelum masuk kelas, lalu didampingi guru untuk meminum sampai habis, baru pembelajaran dimulai.
Terkait gerakan tersebut, ia setuju, jika diterapkan maka kelompok prioritas menurutnya adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan anak sekolah dalam masa pertumbuhan usia sebelum 18 tahun. (lta/ipg)




