VIVA – Pelatih Timnas Portugal, Roberto Martinez, dikritik mantan striker Inggris karena tak berani mengganti Cristiano Ronaldo. Mereka tertahan dalam duel pertama di Piala Dunia 2026 melawan Republik Demokratik Kongo.
Selecao das Quinas memulai perjalanan di NRG Stadium, Houston pada Kamis (18/6/2026) dini hari tadi WIB. Mereka sudah berhasil unggul sejak menit keenam melalui Joao Neves.
Namun, RD Kongo menyamakan skor melalui striker andalannya, Yoane Wissa. Skor 1-1 pun bertahan hingga duel berakhir.
Cristiano Ronaldo bermain selama 90 menit penuh namun tidak mampu menawarkan apa pun secara signifikan. Dia punya tiga kesempatan menembak, dan semuanya tidak tepat sasaran.
Sang striker berusia 41 tahun sudah berada dalam sorotan sejak sebelum Piala Dunia digelar. Dia pun sudah melalui 10 laga terakhir di turnamen bergengsi tanpa pernah mencetak gol sekali pun.
Gol terakhirnya terjadi di Piala Dunia 2022 pada laga melawan Ghana. Namun, dia pernah mencetak gol di sisa turnamen dan selalu gagal mencetak gol pada Piala Eropa 2024.
Pelatih Roberto Martinez memiliki Goncalo Ramos di bangku cadangan. Namun, dia baru dimasukkan pada menit ke-83, dan malah menarik keluar gelandang, Vitinha, ketimbang Ronaldo.
Hal ini dikritisi oleh mantan striker Inggris, Chris Sutton, dalam komentarnya untuk BBC Radio 5 Live. Dia menganggap Martinez ketakutan untuk mengganti Ronaldo.
“Itu memalukan. Itu memalukan untuk Roberto Martinez,” kata Sutton ketika Ramos masuk menggantikan Vitinha pada menit ke-83, dilansir The Independent.
“Apakah kita semua menyaksikan sebuah laga yang berbeda dari Martinez? Dia takut menariknya [Ronaldo] keluar. Dia bukanlah manajer. Dia mungkin mencetak gol kemenangan, namun pertandingan telah melewatinya,” tambahnya.
Sutton tidak mengabaikan fakta bahwa Cristiano Ronaldo pernah menjadi pemain terbaik dunia. Namun, keadaan sudah jauh berbeda saat ini, dan Ronaldo kesulitan untuk memberikan dampak.
“Dia pemain yang brilian. Dulu dia adalah pengatur serangan, tapi sekarang dia adalah seorang penyerang murni. Dia bukan hanya penyerang murni, tapi dia juga mengendalikan tim,” lanjut Sutton.
“Saya tidak mengerti beberapa cara manajemennya. Cristiano Ronaldo berada di pinggiran dan permainan telah melewatinya,” tandasnya.





