Perbanas Nilai Peluang Kenaikan Suku Bunga di RDG BI Kali Ini Masih Kecil

katadata.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) memproyeksikan peluang Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI kali ini relatif kecil.

Ketua Umum Perbanas Hery Gunardi mengatakan peluang kenaikan suku bunga acuan dalam RDG BI hari ini tampaknya kecil mengingat bank sentral sebelumnya sudah beberapa kali menaikkan suku bunga.

“Sepertinya enggak (naikkan suku bunga). Sudah berapa kali naik kan. Kalau feeling saya sih enggak,” ujar Hery kepada wartawan, Kamis (18/6). 

Sebagai informasi, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan yang diselenggarakan pada Selasa (9/6/2026).

Pada Mei 2026 lalu, BI telah menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25%. Kenaikan ini menjadi penyesuaian kedua setelah BI mempertahankan suku bunga di level 4,75% sejak September 2025.

Kepala Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbankan Perbanas Aviliani menilai ruang kenaikan suku bunga sebenarnya masih terbuka jika melihat selisih suku bunga domestik dengan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat atau Fed-Rate.

Menurut dia, selisih suku bunga Indonesia terhadap Fed-Rate saat ini masih relatif rendah dibandingkan kondisi normal.

“Kalau lihat spread-nya terhadap The Fed kan masih terlalu kecil. Biasanya kita di posisi 5–6%, sekarang sekitar 2,5 sampai 3%,” ujar Aviliani.

Namun, Aviliani menilai keputusan BI saat ini tidak hanya mempertimbangkan stabilitas nilai tukar dan inflasi, tetapi juga pertumbuhan ekonomi nasional.

“Ini masalahnya antara stabilitas dengan pertumbuhan,” katanya.

Potensi Tekanan terhadap Likuiditas Perbankan

Aviliani memperkirakan tekanan terhadap likuiditas perbankan masih akan terjadi seiring rencana penarikan dana pemerintah yang selama ini tersimpan di BI. Nilainya diperkirakan mencapai sekitar Rp 250 triliun.

Penarikan dana pemerintah tersebut otomatis akan mengurangi likuiditas di pasar dan mendorong kenaikan bunga dana perbankan meski BI tidak menaikkan suku bunga acuan.

“Kalau dana pemerintah ditarik, otomatis likuiditas menjadi agak turun. BI enggak naik pun bunga dana naik,” ujarnya.

Ia menambahkan, biaya dana atau cost of fund perbankan saat ini sudah cukup tinggi, bahkan telah mencapai sekitar 6%. Selain itu, suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga mengalami kenaikan cukup signifikan.

Karena itu, Aviliani menilai efektivitas kenaikan suku bunga acuan tambahan kemungkinan tidak akan terlalu besar terhadap kondisi pasar saat ini.

“Walaupun sebenarnya sudah enggak terlalu ngefek juga, karena biaya dana sudah cukup tinggi,” katanya.

Meski demikian, Aviliani mengaku masih melihat kemungkinan BI mempertahankan suku bunga acuannya dalam RDG kali ini, terutama karena sebelumnya bank sentral baru saja menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

“Karena kemarin sudah naik 25 basis poin, masa mau naik lagi?” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Resmi Eksekusi Pengosongan Lahan Eks Hotel Sultan Hari Ini
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Wamenkomdigi: Teknologi Deepfake AI Tingkatkan Ancaman Penipuan Digital
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
Prabowo Terima Data Evaluasi Haji: Percepatan Visa hingga  Antrean Lebih Pendek
• 20 jam lalukatadata.co.id
thumb
Pusri dan Kementan Perkuat Daya Saing Kopi Arabika Kintamani
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Aksi Konvoi di Sejumlah Titik Kota Surabaya Warnai Perayaan Jelang HUT Persebaya
• 18 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.