Sepakat Damai dengan AS, Minyak Iran Bisa Kembali Dijual ke Pasar Internasional

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Amerika Serikat (AS) dan Iran resmi menandatangani kesepakatan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Sebuah seremoni dijadwalkan akan berlangsung di Swiss pada Jumat 19 Juni 2026 untuk menandai dimulainya masa negosiasi selama 60 hari antara kedua negara tersebut.

Nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) ini bertujuan mengakhiri perang yang berlangsung selama berbulan-bulan setelah serangan AS-Israel terhadap Iran pada Februari lalu, yang memicu kekacauan di kawasan dan mengguncang perekonomian global.

Dikutip dari AFP, harga minyak turun lebih dari dua persen pada Kamis (18/6), melanjutkan pelemahan yang terjadi sejak kabar kesepakatan tersebut muncul pada akhir pekan lalu. Minyak mentah Brent Laut Utara yang menjadi acuan internasional turun 2,1 persen menjadi 77,87 dolar AS per barel pada pukul 05.25 waktu setempat.

Isi Kesepakatan

Dokumen tersebut menyebut Iran setuju mengencerkan cadangan uranium yang telah diperkaya di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Seorang pejabat AS menyebut hal tersebut sebagai “kemenangan yang sangat, sangat besar”.

Sebelumnya, Iran berulang kali menegaskan isu nuklir hanya akan dibahas dalam perundingan lanjutan setelah kesepakatan awal ditandatangani. Kesepakatan itu juga memungkinkan Teheran kembali menjual minyaknya ke pasar internasional, sementara seluruh sanksi akan dicabut apabila tercapai kesepakatan final setelah masa negosiasi 60 hari berakhir.

Iran juga berpotensi memperoleh akses terhadap dana rekonstruksi sebesar USD 300 miliar, meskipun para pejabat menegaskan Washington tidak memiliki kewajiban untuk ikut menyumbang dana tersebut.

Kesepakatan Damai AS-Iran Akan Segera Berlaku

Presiden AS Donald Trump menandatangani nota kesepahaman tersebut setelah menghadiri KTT G7 di Prancis. Menurut video yang diunggah seorang ajudan Trump, penandatanganan dilakukan saat jamuan makan malam di Istana Versailles.

Kantor berita IRNA melaporkan bahwa juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan dokumen tersebut telah difinalisasi dengan tanda tangan para presiden.

Negosiator utama Iran sekaligus Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut kesepakatan tersebut sebagai "kegagalan" bagi AS.

Kesepakatan damai antara AS-Iran ditanggapi oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif. Ia menyatakan nota kesepakatan yang telah ditandatangani akan segera berlaku.

“Sebagai langkah pertama, Republik Islam Iran akan langsung membuka kembali Selat Hormuz dan Amerika Serikat akan segera mencabut blokade lautnya”, tulis Shehbaz melalui akun X.

Sharif juga mengkonfirmasi bahwa Pakistan, dengan dukungan Qatar, akan menjadi tuan rumah upacara di Swiss pada Jumat mendatang untuk “memperingati peristiwa bersejarah ini dan memulai pembicaraan tingkat teknis”.

Teheran juga kembali menegaskan rencananya untuk mengenakan biaya terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz setelah periode 60 hari yang diatur dalam dokumen tersebut berakhir.

“Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang. Iran memiliki hak kedaulatan atas Selat Hormuz dan tentu saja kami akan menerima biaya atas layanan yang diberikan,” ucap Ghalibaf dalam wawancara yang disiarkan televisi pemerintah.

Trump Ancam Kembali Serang Iran Jika Kewajiban Tak Dipenuhi

Trump juga memperingatkan Iran bahwa dia siap kembali meluncurkan aksi militer jika Teheran tidak memenuhi kewajibannya dalam kesepakatan itu.

“Jika mereka masih bertingkah, kita akan menjatuhkan bom lagi tepat di tengah kepala mereka,” kata Trump saat menghadiri KTT G7.

Sementara itu, militer Israel mengumumkan seorang tentaranya tewas dalam pertempuran di Lebanon selatan sehari sebelumnya. Serangan itu juga menyebabkan 7 tentara lainnya terluka. Kesepakatan AS-Iran seharusnya menghentikan perang di seluruh front, termasuk di Lebanon.

Meski demikian, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pasukannya akan tetap berada di Lebanon, tempat mereka masih bertempur melawan kelompok militan Hezbollah yang didukung Iran.

Pemimpin Hezbollah Naim Qassem menyebut kesepakatan tersebut sebagai “kemenangan besar” dan mendesak Lebanon memanfaatkan momentum tersebut untuk mengusir pasukan Israel dari wilayahnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah: Efisiensi MBG Bisa Hemat APBN Rp 1 Triliun per Bulan
• 18 jam lalukompas.com
thumb
Jubir PDI-P: Ada Kepanikan Rezim Saat Ini karena Kritik Muncul dari Segala Lini
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Kepala Bapanas: Penyerapan hasil peternak unggas dioptimalkan
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Air Sungai Ciujung Menghitam dan Berbau, Diduga Tercemar Limbah Industri
• 10 jam lalurepublika.co.id
thumb
Upacara Ziarah di TMP Kalibata, Dishub DKI Rekayasa Lalu Lintas
• 8 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.