JAKARTA, DISWAY.ID-- Pebulu tangkis tunggal putra, Alwi Farhan menceritakan kondisi ketika atlet berusia 21 tahun itu meraih podium tertinggi di Australia Open 2026.
Kepastian tersebut diperoleh Alwi setelah membalas kekalahan rekan sejawatnya, Moh. Zaki Ubaidillah tumbang ditangan wakil dari China, Dong Tian Yao dengan dua game langsung, 21-13, 21-13.
BACA JUGA:The Fed Tahan Suku Bunga, Harga Emas Terancam Turun
Saat itu, atlet berdarah Surakarta mengaku mendapatkan berbagai macam tekanan mulai dari atmosfer, pertandingan serta venue yang membuat detak jantung Alwi mencapai 200.
"Heart rate 200 itu bukan pertama kali, saya pernah mencapai 213 saat menjadi juara World Junior Championships," kata Alwi di Jakarta
Hal tersebut dikarenakan persaingan antar atlet profesional sangat intens, terlihat dari dinamika yang kerap dihadapi para pemain di setiap pertandingan BWF World Tour.
BACA JUGA:Beasiswa SDM Sawit 2026 Masih Dibuka, Mahasiswa Bisa Dapat Fasilitas Kuliah Gratis hingga Uang Saku
"Menurut saya itu cukup normal, semua atlet pasti pernah merasakan hal itu," ujarnya.
Dengan modal raihan positif di BWF World Tour Super 500, ditambah meraih gelar medali emas di Indonesia Open 2026.
Kini, Atlet unggulan ketiga pada kompetisi tersebut memasang target tinggi di setiap kejuaraan BWF World Tour.
"Saya ingin meraih gelar di level Super 750 dan Super 1000 karena saya belum bisa mendapatkannya," terang dia.
Meskipun begitu, Alwi menekankan kepada seluruh pecinta bulu tangkis untuk tidak selalu membandingkan dengan pemain lain.
BACA JUGA:Ducati DesertX V2 Meluncur di Indonesia, Kombinasikan Ketangguhan dan Teknologi Terbaru
Baginya, setiap atlet pasti memiliki perjuangan yang berbeda-beda.
Salah satunya yang Alwi rasakan ketika ia tengah berusaha bangkit dari keterpurukan yang dialami pasca usai kekalahannya di Piala Thomas 2026.
- 1
- 2
- »





