Dari segi peta persaingan, edisi ke-18 ini menjadi panggung kebangkitan dominasi absolut sepak bola Eropa, di mana seluruh kontestan babak semifinal berasal dari Benua Biru. Namun, di balik taktik disiplin Jerman, keandalan Portugal, dan ketangguhan Italia, buku sejarah Piala Dunia 2006 akan selalu mengunci fokusnya pada satu momen magis yang berakhir tragis di bawah langit Berlin. Orkestra Terakhir sang Maestro Prancis Sebelum turnamen dimulai, Zinedine Zidane sudah mengumumkan keputusan bulat: ia akan resmi gantung sepatu alias pensiun dari dunia sepak bola profesional segera setelah Piala Dunia 2006 berakhir. Prancis datang dengan skuad yang sempat diragukan karena diisi banyak pemain uzur, bahkan terseok-seok di fase grup.
Namun, begitu memasuki babak sistem gugur, Zidane yang berusia 34 tahun mendadak menampilkan sisa-sisa kejayaan magisnya. Ia mengomandoi tim ayam jantan dengan sangat elegan.
Baca Juga :
Sejarah Piala Dunia 2002: Dongeng Korsel, Skandal Wasit dan Rambut Viral RonaldoLanjut ke babak perempat final, Zizou menampilkan salah satu performa individu terbaiknya sepanjang masa. Berhadapan dengan Brasil yang bertabur pemain bintang dengan kualitas individu yang di atas rata-rata, Zidane tampil kesetanan.
Sendirian, Zidane seperti tengah “mengajari” pemain Brasil macam Ronaldo, Ronaldinho dan Kaka bermain sepak bola indah. Ia bahkan memberikan assist untuk gol tunggal kemenangan 1-0 Prancis atas Brasil yang dicetak Thierry Henry.
Di babak semifinal, giliran Portugal yang dipimpin oleh Luis Figo dan rising star -yang kemudian jadi legenda- Cristiano Ronaldo. Zidane mencetak gol tunggal kemenangan 1-0 atas Portugal.
Boleh dibilang, Zidane sendirian menggendong Prancis ke babak final, mengubah turnamen ini menjadi sebuah narasi romantis tentang "tarian terakhir" seorang genius lapangan hijau. Plot Twist: Zidane vs Materazzi Laga final di Olympiastadion, Berlin, mempertemukan Prancis vs Italia. Babak pertama berjalan seimbang; Zidane membawa Prancis unggul lewat penalti panenka yang dingin sebelum disamakan oleh bek Italia, Marco Materazzi, lewat sundulan maut memanfaatkan sepak pojok. Skor 1-1 bertahan hingga waktu normal habis, memaksa laga berlanjut ke babak perpanjangan waktu.
Pada menit ke-110, sebuah kamera televisi menangkap momen yang membuat seluruh dunia terperangah. Setelah bertukar kata-kata saat berjalan kembali ke tengah lapangan, Zidane mendadak berbalik arah, menghampiri Materazzi, mengambil ancang-ancang, dan menandukkan kepalanya dengan sangat keras ke dada Materazzi hingga bek Italia itu ambruk seketika.
Wasit utama Horacio Elizondo awalnya tidak melihat insiden karena bola berada di tempat lain. Setelah mendapat laporan dari hakim garis keempat melalui komunikasi radio, Elizondo menghampiri Zidane. Plot Twist. Zidane yang jadi aktor protagonis sepanjang turnamen harus keluar lapangan dengan kepala tertunduk usai menerima kartu merah.
Dunia terkejut dan bingung. Mengapa seorang kapten yang dikenal tenang dan sedang melakoni laga terakhir dalam kariernya bisa melakukan tindakan sebrutal itu? Misteri ini baru terungkap beberapa hari kemudian: Materazzi telah melontarkan hinaan verbal yang sangat kasar dan berbau pelecehan terhadap saudara perempuan Zidane, memicu amarah terdalam sang maestro.
Visual paling melankolis dalam sejarah modern terekam saat Zidane berjalan gontai keluar lapangan menuju lorong ganti, melangkah melewati trofi emas Piala Dunia yang berdiri di pinggir lapangan tanpa pernah bisa ia sentuh lagi. Solidaritas Tembok Berlin dan Bintang Keempat Italia Kehilangan dirigen utamanya, mental Prancis ambruk. Laga harus diselesaikan lewat babak adu penalti. Di sinilah mentalitas baja Italia yang sedang diguncang skandal pengaturan skor domestik (Calciopoli) di dalam negeri memperlihatkan tajinya.
Seluruh lima eksekutor Italia -Andrea Pirlo, Marco Materazzi, Daniele De Rossi, Alessandro Del Piero, dan Fabio Grosso- menjalankan tugasnya dengan sempurna tanpa cela. Sementara itu, tendangan penyerang Prancis, David Trezeguet, membentur mistar gawang.
Italia menang adu penalti 5-3 dan resmi merengkuh gelar juara dunia keempat mereka. Kapten Fabio Cannavaro, bek berpostur pendek namun memiliki kemampuan intersep layaknya monster, mengangkat tinggi trofi emas di Berlin. Cannavaro tampil begitu kokoh sepanjang turnamen hingga dijuluki The Wall of Berlin (Tembok Berlin), sebuah performa defensif epik yang mengantarkannya menyabet gelar Ballon d'Or di akhir tahun—sebuah pencapaian langka bagi seorang pemain belakang. "Pertempuran Nuremberg": Hujan Kartu Merah Di luar drama yang tersaji di babak final, Piala Dunia 2006 juga menyimpan cerita lain yang tak kalah seru di babak 16 saat Portugal berhadapan dengan Belanda di kota Nuremberg. Laga ini mencatatkan rekor kelam dan resmi dijuluki sebagai "Battle of Nuremberg" (Pertempuran Nuremberg).
Dipimpin oleh wasit Valentin Ivanov asal Rusia yang bertangan besi, pertandingan berjalan luar biasa kasar dan dipenuhi intimidasi fisik. Kedua tim saling tekel, menyikut, dan memicu keributan massal di pinggir lapangan. Rekor Disiplin Terburuk Wasit mengeluarkan total 16 Kartu Kuning dan 4 Kartu Merah (masing-masing dua untuk Portugal dan Belanda).
Pemandangan paling unik terjadi di akhir laga, ketika para pemain yang diusir keluar—seperti Giovanni van Bronckhorst dan Deco—justru duduk berdampingan di tangga tribune penonton sambil mengobrol santai dan meratapi kegilaan pertandingan yang baru mereka lalui. Fakta Piala Dunia 2006 Tuan Rumah: Jerman
Juara: Italia (Gelar ke-4)
Runner-up: Prancis
Top Scorer: Miroslav Klose (Jerman) – 5 Gol
Awal Rivalitas Abadi: Edisi 2006 menjadi Piala Dunia pertama di mana Lionel Messi (Argentina) dan Cristiano Ronaldo (Portugal) mencatatkan debut dan mencetak gol pertama mereka di panggung Piala Dunia, memulai dominasi rivalitas keduanya selama dua dekade ke depan.
Fakta Unik: Wasit Graham Poll asal Inggris melakukan blunder fatal di laga fase grup antara Kroasia vs Australia dengan memberikan tiga kartu kuning kepada satu pemain yang sama, Josip Šimunić, sebelum akhirnya menyadari kesalahannya dan mengusir Šimunić keluar lapangan. Blunder ini menyudahi karier internasional Poll di turnamen besar.
Halo sobat Medcom, buat kalian yang suka nonton bola dan nebak skor pertandingan, yuk ikutan lomba tebak skor Medcom.id yang akan hadir setiap hari dari fase grup hingga final. Nah, kita udah siapin hadiah menarik senilai jutaan rupiah buat kalian yang paling banyak menebak skor pertandingan dengan benar. So, tunggu apa lagi, yuk, daftar di sini
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ACF)





