Meski Tertekan Nilai Tukar & Aliran Modal, Fundamental Ekonomi RI Masih Layak Buat Investasi

viva.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Sejumlah indikator perekonomian menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih relatif terjaga di tengah volatilitas pasar keuangan saat ini, sehingga peluang investasi dinilai masih terbuka lebar.

Co-Founder Simpan Asset Management, Nicholas Hilman mengatakan, faktor nilai tukar rupiah dan aliran modal merupakan aspek yang memberikan tekanan bagi pasar keuangan, alih-alih adanya pelemahan fundamental ekonomi secara menyeluruh.

Baca Juga :
Bos BI Sebut Penguatan Rupiah Turut Ditopang Lonjakan Kepemilikan SRBI oleh Asing
Tumbuh Signifikan, Bos BI Sebut LCT Rupiah-Renminbi Tembus US$13 Miliar Per Akhir April 2026

Nicholas menjelaskan, pelemahan rupiah sejak Oktober 2024 telah mencapai 15,6 persen, diikuti dengan penurunan kepemilikan investor asing pada obligasi pemerintah dari sekitar 23 persen menjadi 13 persen.

Ilustrasi uang rupiah
Photo :
  • ANTARA

Di sisi lain, koreksi pasar saham telah mendorong valuasi IHSG ke salah satu level terendah dalam beberapa tahun terakhir.

"Sehingga para investor perlu memperhatikan bahwa tekanan itu justru terkonsentrasi pada sisi currency dan aliran modal, dan bukan pada fondasi ekonomi," kata Nicholas dalam keterangannya, Kamis, 18 Juni 2026.

Meski demikian, Dia mengakui bahwa ada juga tantangan dari sisi fiskal dan moneter, seperti misalnya shortfall penerimaan negara di 2025 serta lonjakan belanja pemerintah.

Di sisi lain, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin dalam dua bulan terakhir guna menjaga stabilitas nilai tukar.

Sementara cadangan devisa Indonesia tercatat anjlok dari sekitar US$156 miliar menjadi US$145 miliar, seiring upaya stabilisasi rupiah. Namun, Nicholas menilai kondisi tersebut belum mengubah fundamental ekonomi nasional secara signifikan.

Menurutnya, indikator internal yang digunakan perusahaan menunjukkan kondisi makroekonomi Indonesia masih berada pada zona yang relatif konstruktif. Terlebih, saat ini pasar lebih banyak merespons ketidakpastian kebijakan dan faktor eksternal, dibandingkan penurunan kinerja korporasi.

“Pasar sedang bereaksi terhadap ketidakpastian kebijakan, bukan terhadap keruntuhan fundamental. Ketika aset berada pada valuasi yang menarik dan kondisi makro masih relatif konstruktif, peluang investasi tetap terbuka,” ujarnya.

Baca Juga :
Bank Indonesia Kembali Naikkan BI Rate 25 Bps Jadi 5,75 Persen, Bos BI Ungkap Pertimbangannya
Pastikan Data Masyarakat Terjaga, BPS Pastikan Sensus Ekonomi Tak Terkait Urusan dengan Pajak
Hadapi Dinamika Global, Pemerintah Dorong Penguatan Fiskal dan Transformasi Ekonomi Nasional

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kejagung Periksa Eks Wakil BGN Sony Sonjaya Hari Ini
• 15 jam laluidxchannel.com
thumb
Margonda Depok Sempat Padam Listrik, Ini Penjelasan PLN
• 1 jam laludetik.com
thumb
Festival Kemudahan dan Pelindungan Usaha Mikro 2026 Perluas Akses dan Perkuat Daya Saing UMKM
• 10 jam lalurepublika.co.id
thumb
Fenomena El Nino jadi Perhatian Banyak Negara, Ternyata Ada Dampak Positif Kata Peneliti
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Kawasan Elite, Lahan Hotel Sultan yang Dieksekusi Senilai Rp28 Triliun
• 9 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.