Dari Lereng Menoreh ke Sekolah Rakyat, Iksan Belajar Bayar “Utang” kepada Rakyat

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Ketika tawaran masuk Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 20 Sleman di Kalasan datang melalui pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Iksan Fajar Susandi tidak serta-merta menganggapnya sebagai bantuan sosial yang harus langsung dicomot begitu saja.

Remaja yang tumbuh di lipatan Perbukitan Menoreh, tepatnya di Dusun Clapar III, Kalurahan Hargowilis, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo itu justru memilih mengambil jarak dan mencari tahu lebih dulu.

Ia bertanya detail kepada pendampingnya, menelusuri informasi, bahkan berusaha memastikan langsung bahwa program yang sedang ramai diperbincangkan itu benar-benar ada.

“Harus cross check, karena ini untuk masa depan,” ucapnya saat bercakap dengan Pandangan Jogja, Senin (8/6) lalu.

Bukan semata-mata karena seluruh kebutuhan siswa ditanggung negara, Iksan melihat kesempatan belajar dalam lingkungan yang mampu membentuk kebiasaan, kedisiplinan, dan kemandirian. Sistem asrama membuatnya yakin dapat fokus menempuh pendidikan, sementara kedua orang tuanya bisa menjalani pekerjaan tanpa harus terus memikirkan berbagai urusan sekolah dari rumah.

"Kalau di sini bisa fokus belajar. Orang itu juga enggak perlu bingung lagi," katanya.

Keputusan sadar itu kemudian membawanya meninggalkan rumah di lereng Menoreh dan menjadi bagian dari angkatan pertama Sekolah Rakyat SMA 20 Sleman.

Dari Remaja Pendiam ke Wakil Ketua OSIS

Namun, hari-hari awal di sekolah tidak langsung mengubah dirinya. Bagi orang yang baru mengenalnya, Iksan adalah anak yang cenderung menyimpan banyak hal untuk dirinya sendiri. Ia tidak banyak bicara, tidak mudah membuka percakapan, dan lebih sering mengamati daripada terlibat.

Siti Musyarofah masih mengingat kesan pertama itu dengan jelas. "Iksan datang ke sini itu benar-benar diam. Diajak ngomong ya hanya sak perlune. Kelihatan sekali kalau anaknya sangat moody dan introvert," kata perempuan yang akrab disapa Mbak Rofa tersebut.

Sebagai wali asuh yang mendampingi keseharian siswa di luar ruang kelas, Mbak Rofa melihat bagaimana anak-anak dari berbagai latar belakang perlahan belajar menyesuaikan diri.

Pada diri Iksan, perubahan itu berjalan pelan tetapi pasti; ia mulai terlibat dalam diskusi, berani menyampaikan pendapat, dan membuka diri.

Yang berubah ternyata bukan hanya cara Iksan berinteraksi, melainkan cara pandangnya terhadap kehidupan. Sebelum masuk Sekolah Rakyat, Iksan mengaku pernah merasa dirinya berada di lapisan paling bawah. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana.

Ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan, sementara ibunya berjualan tempe benguk secara daring. Sebelumnya, kedua orang tuanya pernah berjualan daun pisang dan rempah-rempah di pasar, di mana hari mereka sering kali dimulai sejak jam dua malam.

Pemandangan itu begitu akrab baginya, hingga kebiasaan bangun dini hari di asrama bukanlah sesuatu yang sulit. Namun, justru setelah tinggal bersama 74 siswa lain dari berbagai daerah di DIY, ia mulai menyadari bahwa setiap orang membawa cerita yang berbeda.

Ada teman yang tumbuh tanpa pengasuhan utuh, ada yang datang dengan persoalan keluarga yang rumit, dan ada yang harus berjuang keras membangun kepercayaan diri.

"Dulu waktu SMP saya merasa yang paling bawah," katanya lalu terdiam sesaat.

"Tapi setelah di sini saya melihat ternyata ada yang lebih bawah dari saya," lanjutnya.

Kalimat itu tidak lahir dari rasa syukur karena merasa lebih beruntung. Pengalaman hidup bersama di asrama membuatnya memahami bahwa hidup bukan hanya tentang dirinya sendiri.

"Jadi ada hal yang lebih besar yang harus diselesaikan daripada kepentingan diri sendiri," ujarnya.

Mimpi Menjadi Bupati Kulon Progo

Di lingkungan sekolah, perubahan itu tidak luput dari perhatian para guru. Dianita Astari, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Sekolah Rakyat SMA 20 Sleman, mengatakan banyak siswa datang dengan potensi besar, tetapi selama ini tidak memiliki ruang yang cukup untuk bertumbuh. Sebagian datang dengan rasa percaya diri rendah dan tidak terbiasa bermimpi terlalu jauh.

"Beban moral kami bukan hanya membuat mereka cerdas, tetapi bagaimana mereka bisa menjadi pribadi yang baik dan tidak menjadi masalah di lingkungannya," kata Janita.

Pada diri Iksan, ruang untuk bertumbuh itu menemukan bentuknya. Ia dipercaya menjadi Wakil Ketua OSIS. Bukan karena paling vokal atau menonjol, melainkan karena teman-temannya melihat sosok yang bisa diajak mendengar dan berpikir bersama.

Menariknya, di tengah berbagai aktivitas itu, ada satu hal yang terus melekat pada dirinya: keinginan menjadi Bupati Kulon Progo. Cita-cita itu muncul nyaris tanpa rencana ketika ia secara spontan menyebutkannya ketika Menteri Sosial Saifullah Yusuf datang meninjau Sekolah Rakyat pada hari-hari awal operasional sekolah.

“Kalau memang ditakdirkan jadi bupati ya bupati,” katanya sambil tersenyum. “Tapi yang penting bagaimana caranya kita bisa jadi berkat buat orang lain.”

Pesan Presiden Prabowo Subianto

Cara berpikir seperti itu tidak muncul dalam semalam. Selama hampir satu tahun di Sekolah Rakyat, Iksan tidak hanya belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga belajar memahami kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.

Ia bertemu teman-teman yang membawanya keluar dari cara pandang lama bahwa dirinya adalah anak yang paling kurang beruntung. Ia mulai memahami mengapa Sekolah Rakyat dibangun.

Dalam pidatonya saat meresmikan 166 Sekolah Rakyat di 34 provinsi pada Januari 2026, Presiden Prabowo Subianto menyebut program tersebut sebagai salah satu upaya negara memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.

Pemerintah menargetkan pembangunan 500 Sekolah Rakyat dengan sasaran utama anak-anak dari kelompok desil 1 dan desil 2, kelompok masyarakat yang selama ini berada pada lapisan ekonomi paling rentan.

Di hadapan ribuan siswa, Prabowo berpesan agar anak-anak Sekolah Rakyat tidak pernah malu dengan pekerjaan orang tua mereka—apakah ayahnya buruh atau ibunya pedagang kecil. Sebab, mereka adalah orang-orang yang bekerja dengan keringat dan kehormatan.

Pesan itu terasa dekat dengan kehidupan Iksan yang tumbuh melihat ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan dan ibunya berjualan tempe benguk. Karena itulah, ketika berbicara tentang masa depan, yang muncul dalam pikirannya bukan soal apa yang akan ia dapatkan, melainkan apa yang harus ia kembalikan.

"Saya Punya Utang yang Harus Dibayar Kembali"

Bagi Iksan, pendidikan yang ia nikmati hari ini bukanlah hadiah yang jatuh dari langit. Ada kerja keras orang tua, guru, wali asuh, dan negara yang membiayai sekolahnya. Di balik negara, ada jutaan rakyat Indonesia yang membayar pajak.

Iksan memahami betul bahwa uang yang membuatnya bisa tinggal di asrama, makan setiap hari, hingga memperoleh fasilitas berasal dari petani, buruh, pedagang kecil, hingga pegawai yang menyisihkan penghasilannya untuk negara. Karena itulah ia memandang kesempatan ini sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan sekadar bantuan yang selesai saat lulus.

“Uang negara berasal dari pajak rakyat,” katanya pelan. Ia lalu melanjutkan kalimat yang terdengar terlalu dewasa untuk seorang siswa SMA.

“Jadi saya punya utang yang harus dibayar kembali kepada rakyat.”

Tentu bukan utang yang dibayar dengan uang atau lunas dalam hitungan tahun. Utang itu harus dibayar dengan cara menjadi manusia yang berguna bagi orang lain, entah suatu hari ia menjadi Bupati Kulon Progo atau menempuh profesi yang berbeda.

Yang ingin ia bawa pulang bukan sekadar ijazah, melainkan kesadaran bahwa kesempatan hari ini harus menjadi manfaat bagi lebih banyak orang. Mungkin di situlah arti paling sederhana dari cita-cita besar negara membangun Sekolah Rakyat.

Bukan hanya menghadirkan ruang belajar bagi anak-anak yang selama ini berada di pinggir kesempatan, tetapi menumbuhkan generasi yang suatu hari percaya bahwa keberhasilan tidak berhenti pada dirinya sendiri.

Bahwa ada rakyat yang harus dibalas jasanya. Dan bagi Iksan, perjalanan untuk membayar utang itu baru saja dimulai.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dicecar 30 Pertanyaan Selama 6 Jam Diperiksa Polisi, Davina Karamoy Ngaku Terima Uang Saku dari Hanania Group
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
PDIP Bantah Terlibat Demo Mahasiswa hingga Tiyo Ardianto, Ganjar: Jangan Dilabeli Politik
• 5 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Ini Penjelasan Bank Indonesia Kenapa BI Rate Naik Lagi Menjadi 5,75 Persen
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Kemkomdigi jelaskan isi konsultasi dengan AS soal rancangan Perpres AI
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
Apindo Minta Jaminan Keamanan Data Sebelum Aturan Wajib Lapor RUPS PT Berlaku
• 5 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.